Pembangunan Bandara Kulon Progo, Lanjut?

Yogyakarta, kota kelahiran sejuta pesona. Sebagai kota dengan tingkat aktivitas pendatang tertinggi baik untuk tujuan pendidikan, bisnis, perawatan medis, pariwisata, dan lain-lainnya tidak mengherankan jika aspek kemudahan akses transportasi baik darat, perairan, maupun udara menjadi perhatian penting pembangunan baik di tingkat daerah maupun tingkat provinsi.

Ketika berbicara tentang modernisasi yang menghendaki kolaborasi manusia yang tidak tertinggal peradaban dan warisan kultur, sepertinya Yogyakarta yang menjadi salah satu contohnya. Contoh dari salah satu sentra kebudayaan yang memanfaatkan sisi positif dari perkembangan modernisasi tersebut.

Setidaknya, sampai saat ini.

Sebagai contoh adalah langkah pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang bergandengan tangan dengan pengelola bandara PT Angkasa Pura I (persero) yang sepakat membangun satu lagi bandar udara dengan menentukan lokasi di Kulon Progo, bagian barat dari wilayah Yogyakarta.

Mengapa di Kulon Progo?

Bandara yang tersedia di Kota Yogyakarta saat ini adalah Bandara Adisutjipto, Jl. Raya Solo KM.9, merupakan bandara yang awalnya berdiri untuk tujuan non-komersil yaitu sebagai pangkalan udara Akademi Angkatan Udara (AAU) dan kemudian pada tanggal 1 April 1992 Bandar Udara Adisutjipto secara resmi masuk ke dalam pengelolaan Perum Angkasa Pura I. Tanggal 2 Januari 1993 statusnya dirubah menjadi PT (PERSERO) Angkasa Pura.

Tingginya aktivitas dan padatnya orang yang hilir-mudik ke Yogyakarta membuat bandara Adisucipto yang telah digunakan sejak pasca kemerdekaan itu overload, yaitu hanya mampu menampung 1,2 juta penumpang pertahun, padahal beban muatan yang harus ditampung saat ini diperkirakan mencapai lebih dari 6 juta penumpang setiap tahunnya. oleh karena latarbelakang seperti itu, dibutuhkan bandara yang lebih memadai, dan tak pelak diperlukan langkah membuat bandara yang lebih besar guna mengakomodasi kepentingan banyak orang.

Pemilihan lokasi di Kulon Prgogo awalnya berangkat dari inisiatif membangun pangkalan transportasi udara modern yang memiliki fasilitas lengkap seperti rumah sakit, hotel, maupun akses yang mudah oleh kendaraan umum lainnya.

Sebenarnya terdapat enam lokasi yang telah dikaji melalui kerjasama dengan konsultan internasional maupun nasional untuk menentukan kelayakan keberadaan bandara internasional, diantaranya adalah daerah Gunungkidul, Bantul, dan juga Kulon Progo. Namun pada akhirnya daerah Temon — Kulon Progo adalah satu area yang terpilih karena paling mendekati persyaratan berdirinya bandara.

Kelayakan tersebut dinilai karena daerah Temon — Kulon Progo merupakan daerah yang aman dari rawan bencana dibanding dengan daerah-daerah kompetitor lainnya. Dan lebih dari itu, kawasan ini merupakan daerah perbatasan Yogyakarta dengan Purworejo — Jawa Tengah di mana jaraknya akan lebih dekat menuju daerah Bantul. Hal ini tentu akan berbeda ketika misalnya pembangunan bandara baru berada di Gunungkidul, bagian timur dari Gunung Kidul tentu telah terwakili dengan keberadaan bandara Adisumarmo — Solo, sedangkan masyarakat Kedu juga akan merasa lebih jauh jika hendak ke bandara, baik memilih Semarang pun memilih Jogja.

Memang pembangunan bandara ini bukan masalah yang semudah membalikkan tangan, apalagi ini menyangkut nyawa orang banyak yang bukan saja calon penggunanya, akan tetapi juga penghuni lahan yang hendak dijadikan area bandara serta sarana pendukungnya. Terlebih lagi konsep yang diusung merupakan konsep Airport City, yaitu konsep yang dibangun tak sebatas hanya terkait pembangunan bandara saja, melainkan terdapat hotel , tersedia rumah sakit airport serta bekerjasama dengan PT KAI dalam pengadaan infrastruktur berujud “railway.” Konsep tersebut diharapkan mampu mempercepat perkembangan perekonomian daerah Kulon Progo yang agaknya dinilai lebih tertinggal dibanding daerah-daerah lainnya di Provinsi D.I. Yogyakarta.

Pada tahap awal “runaway” Bandara Kulon Progo ini akan dibangun 3.000 meter dengan tujuan agar mampu menampung pesawat-pesawat berbadan besar. Besar angka jumlah tanah yang dibutuhkan untuk pembangunan mega proyek ini memanglah tidak terlalu besar jika dilihat dari bayangan impian perancangan sebuah Airport City, namun untuk sebuah daerah perbatasan di provinsi elit tentunya kepemilikan dan kegunaan tanah menjadi persoalan baru.

Persoalan pembuka bermula dari tanah yang digunakan untuk pembangunan bandara tersebut tidaklah seluruhnya milik pemerintah ataupun milik perseorangan, namun kerap dijadikan ladang bagi para warga untuk mencari nafkah. Pasalnya, sebagian besar lokasi bandara mengenai tanah pertanian produktif. Persoalan ini terus berkembang, mulai merebah ke beberapa aspek lainnya. Kekhawatiran warga akan kehilangan mata pencahariannya disebabkan terdampak pembangunan bandara mencuat. Secara berangsur protes-protes disampaikan warga. Ormas-ormas lengkap beserta jajarannya menyatukan suara dan menyampaikan bentuk inisiatifnya. Mulai dari tambak milik warga sampai rumah-rumah tempat tinggalnya. Sampai pada pemberitaan terakhir yakni warga menuntut adanya ganti rugi berupa biaya harga tanah per meter yang juga belum menemui titik akhir kesepakatan. Tak jarang pemerintah melakukan mediasi dengan warga untuk duduk bersama mengomunikasikan harga yang mampu disepakati kedua pihak. Dilansir dari:

bahwa kedua belah pihak belum menemui kesepakatan. Warga menilai ganti rugi senilai Rp50.000 per meter lahan yang terkena proyek terlalu sedikit. Setidaknya ganti rugi senilai Rp100.000 per meter. Padahal jika dilihat dari letak posisi geografisnya, daerah tersebut berada di daerah perbatasan di mana harga tanahnya masih tergolong lebih rendah dari harga tanah per meter daerah lain di Provinsi D. I. Yogyakarta.

Sebagian berpandangan bahwa pembangunan ini ujung-ujungnya akan berakhir pada kekalahan warga, namun prinsip “menciptakan kesepakatan tanpa harus ada pihak yang dirugikan” seharusnya bukan sebuah wacana yang tidak dapat diwujudkan.

Seharusnya keterlibatan warga tidak hanya sampai pada penyerahan kepemilikan atas tanah, tetapi juga pemanfaatan keberadaan Bandara Kulon Progo nantinya. Mengapa tidak memadukan konsep Airport City yang menunjukkan identitas diri Kulon Progo itu sendiri? Tidak menutup kemungkinan jika nantinya Bandara Kulon Progo dapat menjadi bandar udara yang juga menjadi situs agrowisata sekaligus stasiun transit transportasi udara.

Yogyakarta, 5 Juli 2016

Nabila Fisra Hawali
Planologi ITB 2015

Sources:

http://jogja.tribunnews.com/tag/bandara-kulonprogo

http://ensiklo.com/2014/09/bandara-kulon-progo-adalah-bandara-pertama-indonesia-yang-dibangun-menggunakan-dana-non-pemerintah/#Kenapa_Kulon_Progo_Dipilih_Sebagai_Lokasi_Bandara

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/01/02/o0bfv0346-bandara-kulon-progo-akan-dibangun-mei-2016