Preserve Our Principle

A mic doesn’t seem take public sides

Saat pertama kali masuk ke dalam jurusan ini, we may dreams as far as we could. Kita datang dengan harapan, bahwa nantinya kita dapat menjadi salah satu dari beberapa orang yang membangun bangsa ini. Berharap dengan ilmu yang didapatkan nanti, ada hal konkrit yang bisa kita lakukan untuk Indonesia. Berharap banyak pada planologi sebagai ilmu yang mempelajari berbagai sudut pandang, menjadikan kita memiliki pertimbangan yang lebih baik untuk mengambil keputusan. Ketika kita menulis opini atau artikel di medium, atau mengerjakan tugas “akan jadi apa kamu nanti” pada 2 halaman folio bergaris, lahir prinsip-prinsip baru dan semangat-semangat yang masih hangat. “Indonesia butuh perbaikan, dan aku salah satu pemerannya,” adalah kalimat yang mungkin terbayang di benak kita.

Dengan tersedianya sarana pembangun prinsip di kampus, salah satunya penurunan nilai dalam himpunan, prinsip tersebut berkembang. Kita menjadikan prinsip tersebut seperti kastil di dalam diri yang terbentengi dengan baik. Sesuai dengan prinsip yang kita pahami, planner should take public sides. We believe, that public interest is planner’s main concern. Dimanapun Anda berkiprah, Anda adalah bagian dari masyarakat dan ada di tempat tersebut karena masyarakat juga, sehingga apa yang Anda lakukan haruslah memihak pada kepentingan masyarakat. Tetapi, kepada bagian masyarakat yang manakah kita sebagai planner berpihak? Mengertikah kita bahwa definisi kepentingan publik itu sendiri bahkan dapat dimanipulasi?

Public interest itself

“ The benefit or advantage of the community as a whole.” — Oxford English Dictionary

Istilah ‘kepentingan publik’, atau dalam bahasa inggris disebut dengan public interest, sering digunakan dalam bahasan politik dan hukum. Namun, dalam realitanya, istilah ini jarang didefinisikan secara jamak yang bersih dari kepentingan-kepentingan pihak lain. Tidak jarang, istilah ini pada kenyatannya dipandang sebagai ruang kosong yang menunggu diisi oleh nilai apapun yang diinginkan pengguna istilahnya. Maka, mampukah kita sebagai planner memilih nilai-nilai yang tepat untuk dimasukkan ke dalam ruangan tersebut?

Atas nama kepentingan publik, undang undang mencantumkan bahwa sumber daya yang menyangkut hajat hidup banyak orang dikelola oleh negara melalui BUMN.

Atas nama kepentingan publik pula, perpanjangan kontrak kerja Freeport ditandatangani.

Kepentingan publik adalah hal yang mudah diombang-ambingkan, rawan untuk digunakan dalam banyak situasi, dan istilah final yang harus dipertimbangkan dengan matang. Bahkan, altruis yang memihak masyarakat pun, easily get swayed menentukan kepentingan publik manakah sebenarnya yang harus dibela pada suatu permasalahan?

Pada bagian ini, penulis ingin menekankan bahwa jangan sepolos itu menggunakan istilah kepentingan publik. Public interest is not slight thing.

What to do in reality

Seiring dengan berjalannya waktu, kita banyak belajar tentang aspek-aspek ilmu planologi yang harus kita aplikasikan untuk menjadi planner yang baik. Dalam pembelajaran tersebut, kita juga menghadapi fakta bagaimana dinamisnya lapangan bekerja, dan belajar mengaplikasikan prinsip yang kita yakini.

Dalam menghadapi ketidakpastian istilah kepentingan publik, terdapat kemungkinan bahwa perlahan-lahan prinsip tersebut luntur dari beberapa orang. Beberapa orang, mungkin menyerah dalam kebingungan istilah ini dan memutuskan loyalitasnya pada kepentingan perusahaan dimana ia bekerja, firma yang menaungi dirinya, atau pihak yang memberikannya keuntungan maksimal. Beberapa orang yang lain, mungkin terlalu takut untuk bergerak karena merasa bisa jadi ia di pihak yang salah ketika memperjuangkan kepentingan publik. Beberapa lainnya, yang telah berjuang, mungkin akhirnya lelah dengan konfrontasi yang ia dapatkan ketika mempertahankan prinsipnya.

Akankah kita, planner-planner baru yang akan lahir termasuk dari orang-orang tersebut?

Dimanakah kita akan berdiri?

Prinsip yang kita bangun sekarang adalah sesuatu yang berat, karena itu layak untuk dibawa seumur hidup kita. Karena istilah ‘kepentingan publik’ termasuk rancu dalam banyak situasi, maka yakini satu kebenaran yang diperoleh dari data akurat dan sumber yang independen. Hal yang kita yakini belum tentu seratus persen benar, tetapi lebih baik bergerak daripada diam karena takut. Memperjuangkan kepentingan publik berarti melepaskan diri dari kepentingan pihak lainnya, namun tidak berarti kita menolak untuk bekerja bersama dalam suatu barisan. Tetap menjadi baik di dalam realita yang ada tentulah sulit, maka jangan berdiri sendiri. Seperti yang kita ketahui, tidak ada planner yang dapat bekerja sendiri.

Konfrontasi akan selalu ada, tetapi kita tahu tidak ada kebenaran yang mudah.

“Altruism combined with realism; knowledge of fundamental principles and capacity to apply them; courage to insist on the right and patience to achieve it; understanding of the timidity of the weak; fearlessness of the domination of the powerful; sympathy for the mistakes of the indiscreet; caution of the craftiness of the unprincipled; enthusiasm for that which is fine and inspiring; reverence for that which is sacred…” — Justin Miller, Duke Law School

Nida An Khofiyya

Planologi 2015

19915122

Referensi:

Feintuck, Mike (2012). The Public Interest in Regulation. Oxford: Oxford Scholarship Online. www.oxfordscholarship.com

PUBLIC INTEREST. www.oxforddictionaries.com

Duke Law. https://law.duke.edu/publicinterest/

UUD 1945 Pasal 33 ayat 1–5. http://www.si-pedia.com/2014/03/bunyi-pasal-33-uud-1945-1-5-dan-pembahasannya.html

http://finance.detik.com/read/2016/01/21/174644/3124095/1034/ini-dia-untung-ruginya-kontrak-freeport-diperpanjang

Like what you read? Give Nida An K a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.