Sebuah Catatan tentang Sebuah Keluarga

sumber: pinterest.com

“Ohana means family, family means nobody gets left behind or forgotten”-Lilo&Stitch

Quotes dari Lilo & Stitch tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Inti dari quotes tersebut juga saya rasakan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun itu tentang orang yang belum lama saya kenal.

Sekitar tiga bulan yang lalu, saya dipertemukan dengan keluarga ini. Keluarga yang katanya akan menjadi seorang kakak yang hangat bagi orang-orang yang baru mereka kenal. Keluarga yang katanya akan menjadi garda terdepan bagi orang-orang yang baru mereka kenal pula. Menyenangkan? Tentu saja. Namun, tersimpan berbagai cerita yang cukup menarik dibaliknya.

Rasa jenuh tentunya ada dalam perjalanan saya dalam menjadi seorang kakak seperti yang telah disebutkan di atas. Menjadi seorang figur yang baik di depan orang-orang yang baru kita kenal tentu bukanlah hal yang mudah. Jujur saja, sempat terbesit keinginan untuk menyerah di tengah perjalanan tersebut. Akan tetapi, saya selalu ingat tujuan awal saya sehingga bisa mengurungkan niat buruk saya tersebut.

Hingga di suatu hari, di tengah-tengah perjalanan saya, saya dipertemukan dengan sebuah keluarga kecil yang merupakan bagian dari keluarga besar itu sendiri. Sebuah keluarga yang pada akhirnya sama-sama berjuang denganku saat waktunya telah tiba. Keluarga inilah yang pada akhirnya sama-sama menjadi figur seorang kakak seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Sayangnya, masa tugas kami telah berakhir. Akan tetapi, aku berharap, dengan berakhirnya masa tugas kami bukanlah sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai langkah awal untuk menjadi pribadi yang senantiasa berkembang seperti peran kami yang seharusnya.

Selamat berjuang wahai keluargaku, teman seperjuanganku! Tetaplah menjadi seperti seekor burung merpati yang memiliki sifat kekeluargaan, yang mengajarkan kita untuk saling berbagi dan mencintai. Tetaplah pula menjadi seperti seekor burung jatayu yang rela berkorban demi menyelamatkan mereka-mereka yang sudah sepantasnya diselamatkan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.