Serba Tahu Tidak Berarti Ahli?

Ilmu perencanaan yang sering diremehkan orang.

Gambaran Perencanaan Wilayah Kota. Sumber: wrirosscities.org

Kala itu saya masih tidak tahu apapun mengenai planologi. Apa sih, sebenarnya? Mungkin bisa dibaca terlebih dahulu artikel sebelumnya tentang serba serbi planologi dan perencanaan, supaya bisa lebih mengerti.

Saya sendiri tidak terlalu mengerti awalnya. Satu-satunya yang membuat saya tertarik memasuki dunia planologi adalah materinya yang beragam. Mempelajari banyak hal namun hanya bagian kulitnya. Yang diajarkan juga tidak mendalam, seperti supaya asal tahu dan supaya tidak bisa dibodohi.

Satu tahun belakangan ini saya sibuk menentukan jurusan mana yang ingin saya tempuh, dan sedikit tertarik dengan planologi. Orang tua saya sebenarnya menentang keputusan saya berkuliah di prodi Perencanaan Wilayah Kota. Mereka berpikir, bahwa ilmu perencanaan seharusnya sudah dimiliki setiap orang secara otomatis. Untuk apa belajar perencanaan jika pada akhirnya prospek kerja lulusannya pun diambil orang tanpa melalui empat tahun pembelajaran perencanaan? Pun orang tua saya berpikir bahwa ranah planologi terlalu luas. Mereka bahkan tidak punya bayangan akan bekerja dimana saya di masa depan.

Hal tersebut sebenarnya tidak bisa disalahkan. Seorang planner harus memiliki dan mempelajari banyak keilmuan sebelum menjadi problem solver di masyarakat. Planner bukanlah anak sekolahan yang dengan mudahnya menjawab ‘mengerjakan program kali bersih’ untuk menjawab cara membuat kali tidak meluap saat hujan, atau ‘mencegah urbanisasi’ untuk menjawab cara menekan pertumbuhan kota. Ilmu perencanaan lebih mementingkan apa yang bisa dilakukan supaya masyarakat tidak merasa dirugikan oleh kebijakan.

Terkait keilmuan seorang planner yang luas namun tipis, sebutan yang umum adalah Jack of all trades, master of none. Tahu segala hal, tapi ketika ditanya spesifiknya tidak tahu menahu. Sebagai contoh, beberapa bulan ini saya sedang gemar membaca artikel, keilmuan, dan serial televisi kedokteran. Pun saat itu juga saya sedang belajar ilmu perencanaan. Saya mengerti beberapa kasus medis dan cerita hitam dunia kedokteran. Dengan demikian, ketika saya berkunjung ke rumah sakit atau memiliki penyakit, saya bisa mengerti pembicaraan sang dokter. Tapi, jika saya ditanya tentang bagian-bagian otak dan penamaan jaringan, saya angkat tangan.

Contoh lainnya ialah penjual tahu bulat. Bagaimana ia menjual tahu supaya berbeda dengan yang lain dan menarik pembeli? Oh, tentu saja buat bentuk yang menarik! Sudah terlalu banyak tahu kotak, buat bentuk lain yang lebih simple. Bagaimana mobilisasi penjualan supaya tidak lelah dari produsen ke konsumen? Menggunakan gerobak melelahkan, maka pakaikan saja mobil bak. Memang memiliki beberapa kerugian seperti bentuknya yang aneh, bumbu yang tidak jelas, butuh SIM, harus berkorban bensin, serta butuh dua orang untuk mengemudi dan menjaga bagian bak tempat tersimpannya tahu. Namun, tidak semua hal harus menguntungkan, bukan? Ada kalanya kita harus merelakan sesuatu untuk meraih yang lain. Pun jika ditanya tentang ekonomi makro dan mikro, sang penjual tidak akan peduli karena yang dipentingkannya adalah untung per hari.

Dalam prodi Perencanaan Wilayah Kota, ilmu perencanaan yang ditekankan adalah bagaimana merencanakan dan merancang kota dilihat dari banyak pandangan. Tujuannya, ketika seorang planner berdiskusi dengan ahli maupun pengamat, kita bisa mengerti istilah, alur dan bahasa dalam keilmuan sang ahli. Tujuan lainnya ialah supaya dalam pengambilan keputusan, keberpihakan seorang planner tetap berada pada masyarakat.

Tidak ada yang salah jika seseorang menjadi serba tahu. Leonardo da Vinci pun bukanlah murni seorang pelukis. Ia adalah pelukis, pemahat, arsitek, musisi, ilmuan, matematikawan, insinyur, penemu, ahli anatomi, ahli geologi, ahli botani, pembuat peta, dan penulis. Pun secara tidak sadar, siswa siswi di Indonesia sudah diajarkan menjadi seorang serba tahu dengan banyaknya mata pelajaran dalam 25–48 jam seminggu.

Meski banyak orang menganggap bahwa keilmuan perencanaan tidak memiliki fokus, secara tidak sadar mereka menerapkan keilmuan itu sendiri. Membaca novel, komik, majalah, artikel, berita, semua pasti mengandung sedikit informasi terkait isinya supaya pembaca bisa mengerti. Masa depan tidak bisa diprediksi, ketika saat ini lulusan ilmu perencanaan diremehkan, di masa depan mereka bisa saja berjaya dan banyak dicari.

Referensi: https://parkstoneinternational.wordpress.com/2012/07/20/leonardo-da-vinci-jack-of-everything/

Like what you read? Give Made Laksmiani Dewi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.