KARHUTLA di Kalimantan, dari dan untuk manusia

Kalimantan merupakan pulau yang memiliki daratan terluas kedua di Indonesia. Luas pulau kalimantan sekitar 74,3 juta hektare dengan didominasi oleh daerah hutan. Tak heran jika pulau Kalimantan menjadi salah satu pulau yang dijuluki sebagai paru-paru Indonesia atau bahkan dunia. Pulau kalimantan juga merupakan pulau satu-satunya yang menjadi bagian dari 3 negara yaitu Brunei darussalam, Malaysia,dan Indonesia. Sekitar 75 persen daerah kalimantan merupakan bagian Indonesia dan 25 persen lainnya menjadi bagian Malaysia dan Brunei darussalam.

Pulau kalimantan

Selain potensi di atas, pulau kalimantan juga memiliki beberapa masalah seperti kualitas jalan penghubung provinsi yang belum baik, keamanan di daerah perbatasan yang belum baik, kebakaran hutan, dan lain-lain. Dalam tulisan ini kita akan lebih membahas tentang kebakaran hutan dan lahan di pulau kalimantan itu sendiri dan upaya pencegahannya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tjilik Riwut Palangkaraya, Kalimantan Tengah memperkirakan musim kemarau di pulau kalimantan akan terjadi mulai Bulan Agustus dan puncaknya September 2018 mendatang. Selama bulan juli ini tercatat telah ada beberapa titik api di daerah Kalimantan. Satelit Terra, Aqua, dan SNNP milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Minggu (30/7) pagi mendeteksi 126 titik api di Kalimantan Barat, dengan rincian 77 hotspot kategori sedang, dan 49 hotspot kategori tinggi. Peningkatan intensitas cuaca kering selama musim kemarau juga meningkatkan jumlah titik api. “Khusus di Kalimantan Barat, dalam empat hari terakhir kebakaran hutan dan lahan meluas,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho

Ilustrasi kebakaran hutan (AFP Photo/Anne-Christine Poujoulat)

Peningkatan jumlah titik api ini bisa disebabkan karena murni bencana atau karena ulah manusia. Di kalimantan sendiri banyak masyarakat yang melakukan pembukaan lahan dengan menggunakan sistem pembakaran hutan. Mereka belum terlalu menyadari bahwa sistem yang mereka gunakan bisa menyebabkan hal buruk bukan hanya bagi indonesia tapi juga negara-negara sekitar. Kebanyakan dari mereka juga melakukan proses pembakaran dengan persiapan seadanya sehingga tidak jarang terjadi kesalahan dalam proses pembakaran hutan yang mengakibatkan meluasnya titik api dan menjadikannya sangat sulit dikendalikan.

Salah satu upaya pemerintah dalam hal ini kepolisian dan instansi terkait dalam mengurangi kebakaran hutan yang terjadi adalah dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terhadap larangan membakar lahan untuk pembersihan, karena akan ditindak jika kedapatan melakukan hal tersebut. Pihak kepolisian juga semakin gencar melakukan patroli pada puncak musim kemarau ini. selain itu, patroli ini juga bertujuan untuk menekan jumlah kebakaran hutan yang berpotensi mengakibatkan kabut asap di beberapa wilayah Indonesia apalagi dengan semakin dekatnya event asian games 2018.

Kapolda Kalteng, Irjen Pol Anang Revandoko, mengatakan, pihaknya akan secara tegas dalam melakukan penindakan terhadap para pembakar lahan dengan memprosesnya secara hukum. Sementara itu, Kapolres Palangkaraya, AKBP Timbul RK Siregar, mengatakan, pihaknya hingga saat ini sudah memproses satu orang pembakar lahan dan akan makin sering melakukan patroli keliling dalam rangka memantau lahan kering yang ada dipinggiran kota Palangkaraya agar jangan terbakar.

Upaya pencegahan Kebakaran hutan di Kalimantan oleh pemerintah dengan cara sosialisasi dan patroli rutin sudah cukup bagus. Dengan meminimalisasi kasus kebakaran hutan karena pembukaan lahan baru diharapkan tingkat kebakaran hutan akan menurun. Hal ini karena kebanyakan kasus kebakaran hutan dan lahan di kalimantan disebabkan oleh ulah manusia. selain sosialaisasi dan patroli, pemerintah juga bisa memperketat peraturan tentang larangan pembakaran hutan. Sementara dari pihak masyarakat, mereka harus memiliki kesadaran untuk tidak melakukan pembakaran hutan.

sumber: