Lahir, Tumbuh, dan Berkembang di Tengah Perbedaan Itu Menantang

Ditulis sebagai kelengkapan mengikuti seleksi “Lasem Pluralism Trail 2017” 12–15 Oktober 2017.

Oleh: Maria Nofianti

Beberapa hari lalu saya melihat sebuah video di situs berbagi video Youtube. Ada beragam sosok yang muncul dalam video berdurasi 2:59 menit itu, mulai dari dia yang bermata lebar, berkulit hitam, berambut kriting, berkulit putih, hingga yang bermata sipit. Semua berbicara, dan semua yang mereka ungkapkan adalah mengenai satu hal, bahwa kita bukan mayoritas dan kita bukan minoritas, tapi kita adalah Indonesia.

Sederhana, simple, dan membuat saya tersenyum hingga hampir berair mata. Dalam hati saya hanya bergumam “Andai bisa seperti itu, andai semua orang berpikiran sama seperti itu, tentu akan sangat nyaman dan damai dunia ini.”

Saya terlahir di Indonesia, tepatnya di Cilacap, di selatan Provinsi Jawa Tengah yang sangat dekat dengan pantai, dan saya adalah orang Indonesia. Semua terasa baik-baik saja dalam hidup saya, tak ada yang membuat saya beralasan untuk tidak mencintai Indonesia apalagi pergi dari Indonesia.

Saya terlahir di keluarga yang heterogen dalam hal agama, dan etnis, kakek buyut saya beretnis Tionghoa dan penganut Konghucu. Kakek saya awalnya penganut Buddha, hingga akhirnya seiring berjalannya waktu hingga kematiannya ia yakin bahwa Kristen adalah agama yang diimaninya. Sedangkan ayah saya yang jelas beretnis Tionghoa, adalah seorang Kristen sebelum akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam saat menikah dengan ibu saya. Dalam hal etnis, ibu saya beretnis Tionghoa yang dibesarkan dengan budaya Sunda. Ia menganut Islam sejak lahir. Entah bagaimana menceritakan kompleksitas keluarga saya.

Semuanya biasa saja dan tak aneh, setidaknya itu saya rasakan hingga usia saya mencapai 9 tahun. Namun, saat saya sudah duduk di bangku sekolah dasar, mulai ada keinginan dan angan-angan saya untuk tinggal di negara lain selain Indonesia, karena sepertinya lebih “menyenangkan”. Bukan tanpa alasan saya memikirkan hal ini.

Ketika duduk di bangku sekolah dasar negeri yang notabene mayoritas siswanya adalah masyarakat setempat, beretnis Jawa, dan beragama Islam. Maklum sekolah swasta yang biasa menjadi rujukan sekolah anak-anak beretnis Tionghoa jaraknya cukup jauh dari rumah saya saat itu.

Saat itu sekitar tahun 1997–1999, saya yang beragama Kristen ini selalu dirundung di sekolah. Teman-teman saya selalu bilang bahwa “Orang Kristen itu matinya disalib! “. Wah, anak kecil mana yang tak ngeri mendengarnya. Selain Kristen, kebetulan orang tua saya beretnis Tionghoa. Jadi lengkaplah bahan ejekan teman-teman sekolah saya pada saat itu.

“Cina Lole!” , begitu lontaran “cibiran” mereka pada saya. Entah apa maksudnya. Sebenarnya saya tak begitu ambil pusing karena awalnya saya tidak paham.

Kian hari saya semakin merasa berbeda. Saya pun berkeluh kesah pada keluarga saya. Saya bertanya pada ayah saya, “Apa salah jika saya beragama Kristen?.” Ayah saya yang pada saat itu adalah seorang mualaf menjawab, “Tidak ada yang salah, asalkan kamu menjalaninya dengan baik dan benar.”

Kalimat ayah membuat saya menjadi lebih tenang. Ayah tak memaksa saya mengikuti kepercayaan yang dia anut, meski wajarnya anak-anak akan mengikuti kepercayaan orang tuanya. Tapi bukannya tak wajar, karena keluarga saya sangat menghargai pilihan pribadi; mereka memberikan kebebasan secara bertanggungjawab untuk memilih agama. Kami memahami keberagaman karena saat itu kami tinggal bersama di rumah keluarga besar yang heterogen.

Beranjak dewasa, saya menyadari bahwa saya adalah anak yang terlahir dari keluarga Tionghoa, sedangkan lingkungan tetangga tempat saya tinggal mayoritas beretnis Jawa. Saking seringnya diejek, saya pernah berkhayal menjadi orang Indonesia yang terlahir dari etnis Jawa. Sebagai anak kecil, pada saat itu saya sempat menghujat “Mengapa saya terlahir dengan garis keturunan yang berbeda dengan teman-teman saya?”

Saya tumbuh menjadi pribadi yang “kurang bersyukur” dengan agama dan tampilan fisik saya yang memang berbeda dari tetangga dan teman-teman sekolah. Saya tidak tahu, apakah hanya saya yang berada di lingkungan tempat tinggal tertentu itu yang mengalami cemoohan; atau memang semua anak yang terlahir dengan mata sipit menjadi objek cemoohan. Lagi-lagi saya menyesali diri, mengapa saya tidak terlahir dari keluarga Jawa tulen (demikian teman-teman saya menyebut diri mereka).

Teman-teman saya memanggil orang tua mereka dengan istilah “mamak”, “biyung”, “rama”, dll. Mereka memanggil orang tua, nenek, dan kakek mereka dengan istilah-istilah yang berbeda dengan saya. Saya memanggil orang tua saya dengan “mamah” dan “papah”. Kembali saya kembali merasa berbeda, “Mengapa saya tak memanggil orang tua saya sama dengan teman-teman saya?”. Sampai akhirnya saya bilang pada Mamah, bahwa saya ingin memanggilnya dengan sebutan “mamak”, agar saya bisa menjadi bagian dari “mayoritas” dan sama dengan teman-teman saya lainnya. Tapi sayang, upaya saya tak berhasil. Nyatanya mengubah kebiasaan sejak lahir tak semudah membalikkan telapak tangan.

Tak hanya itu, saya pun saat itu sempat memutuskan untuk pergi ke masjid, ikut mengaji, tujuannya tak lain agar saya tak lagi dirundung karena agama yang berbeda. Sederhana sekali pemikiran seorang anak kecil, tak ada idealisme untuk mempertahankan kepercayaannya. Hanya ada keinginan untuk bebas dari ejekan dan ingin menjadi sama seperti yang lain. Tetapi saya kembali menelan pil kekecewaan, karena alih-alih disambut gembira dengan tangan terbuka, teman-teman di masjid justru mendapatkan bahan ejekan baru, “Cina kok Islam sih ! ” .

Rasa-rasanya saya ingin menenggelamkan diri di dasar sungai es; membiarkan diri saya beku, dan awet agar saya terbebas dari sasaran tembak. Sebagai “minoritas” saya sudah berusaha semaksimal mungkin mengikuti arus, agar saya bisa diterima menjadi bagian dari mereka yang merasa “mayoritas”.

Saya kesal! Apa-apan mereka ini? Saya jadi Kristen, dirundung; ketika berusaha menjadi Islam pun masih dirundung. Akhirnya saya memutuskan kembali ke gereja. Orang-orang di gereja menyebut saya “domba yang hilang”.

Untuk mencegah “masalah” yang saya alami di Sekolah Dasar terulang kembali, pada tingkat Sekolah Menengah Pertama, orang tua saya memutuskan mengirim saya ke sekolah swasta yang mayoritas siswanya adalah anak-anak Tionghoa, dengan agama mayoritas Katolik dan Kristen; ada juga beberapa siswa yang beragama Islam. Yang jelas, sekolah tersebut menghargai keberagaman.

Saya pikir itu adalah salah satu solusi yang orang tua berikan untuk saya, agar saya terhindar dari rundungan teman-teman di sekolah. Saya bersyukur karena orang tua tidak memaksa saya beragama sama dengan mereka. Mereka berusaha menguatkan saya dengan cara yang tepat.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin memiliki pemikiran yang luas mengenai perbedaan. Perlahan saya menyadari bahwa perbedaan itu menyenangkan. Usia yang semakin dewasa membuat saya lebih luwes menerima perbedaan.

Saya kini memahami bahwa ternyata pada masa kanak-kanak saya, etnis Tionghoa masih saja dianggap minoritas. Bisa jadi, itu efek pasca tragedi 1998. Saya sendiri tidak benar-benar yakin.

Di semester 3 perkuliahan, di usia yang sudah cukup dewasa, saya memilih memeluk agama Islam; bukan karena ingin menjadi sama dengan teman lain atau karena takut dirundung, namun karena memang pilihan hati yang terdalam. Awalnya saya tidak memberitahu ayah saya, karena saya takut ia berpikir macam-macam. Ketika akhirnya saya memutuskan memberitahu ayah dan ibu saya, mereka cukup bahagia; terlebih setelah mengetahui motivasi saya memeluk Islam kini lebih jelas, tidak seperti masa kanak-kanak dahulu.

Saat ini, saya dan keluarga inti menganut agama yang sama. Orang yang tidak terlalu mengenal saya mungkin akan menduga bahwa saya begitu saja mengikuti agama yang dianut orang tua saya. Karenanya, saya cukup tergelitik dengan wacana “agama warisan” yang diangkat Afi Nihaya di media sosial beberapa waktu lalu.

Menurut saya, jika sejak kecil hingga kini seseorang menganut agama yang sama dengan orang tuanya, saya meyakini bahwa agama itu adalah pilihannya; karena orang yang bersangkutan sudah mengalami pergolakan batin dan dirinya meyakini bahwa apa yang dia anut dan dia pilih adalah yang terbaik. Jika agama disebut warisan, mungkin saya akan menganut agama Khonghucu seperti buyut-buyut dan leluhur saya terdahulu.

Indonesia negara yang kaya dan memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika; tetapi akhir-akhir ini Indonesia diwacanakan menjadi negara yang memiliki satu agama saja. Ingat, mengapa semboyan negara kita adalah Bhinneka Tunggal Ika; karena jelas bahwa leluhur dan para pendiri negara ini sadar bahwa Indonesia didirikan atas dasar keanekaragaman yang disatukan dalam satu komitmen, Indonesia.

Saya sedih membayangkan bahwa hari ini, nanti, atau esok masih akan ada anak-anak lain yang dirundung di sekolah karena memiliki agama yang berbeda, atau karena berasal dari ras atau suku yang berbeda. Mereka dikatai “minoritas”!

Mari, ciptakan suasana nyaman di negeri ini, karena kita adalah mayoritas. Jangan menyakiti hati sesama kita dengan menganggap mereka sebagai “minoritas”.

Jangan memaksakan semua orang sama, karena kita tidak seragam. Hargailah setiap perbedaan, karena kita adalah manusia yang penuh dengan akal budi dan tahu bagaimana menyebarkan cinta kasih pada sesama.

Saya Indonesia, dan belum lama menjadi seorang muslim; ilmu saya masih sangat cetek. Tapi saya tahu, Allah itu penuh kasih dan penuh ampunan. Lalu apa hak manusia saling menghakimi satu sama lain?

Terlepas dari hujatan yang pernah bergolak dalam hati saya di masa kecil dan masa lalu, kini saya sadar bahwa ada banyak pelajaran baik yang bisa saya ambil. Tidak semua orang bisa mengalami “dilematika” yang saya alami. Saya senang bisa memilih kepercayaan yang saya anut dengan penuh perjuangan, meski untuk kesukuan adalah hal yang sudah melekat.

Bagi saya perbedaan itu adalah hal yang menyenangkan. Karena akan sangat membosankan jika semua hal di dunia ini tercipta sama, cukup baju sekolah saja yang seragam, selebihnya kita boleh berbeda dan beragam.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.