Total Eclipse; Kemesraan di antara Arthur Rimbaud dan Paul Verlaine

Pada mulanya, Total Eclipse adalah sebuah drama panggung karya Christopher Hampton yang dipentaskan pada tahun 1967 berdasarkan pada surat-surat dan puisi-puisi yang menampilkan catatan akurat sejarah tentang hubungan antara dua penyair Perancis besar abad ke-19 Paul Verlaine dan Arthur Rimbaud, dan diangkat ke dalam sebuah film oleh sutradara Agnieszka Holland pada tahun 1995 dengan judul yang sama.

Film ini sebagian besar bertumpu pada Arthur Rimbaud, bagaimana awal mula ia melakukan pengembaraan atas dasar cintanya pada puisi–Je est un autre, dan kedekatannya kepada Paul Verlaine, penyair yang telah memiliki nama pada masanya hingga hubungan ini pula yang mengibatkan keretakan rumah tangga Paul Verlaine.

Arthur Rimbaud ialah seorang yang sangat malang nasibnya. Jika kita membaca sejarah rekam jejak jagad kepenyairan Rimbaud, kita bisa mengetahui bagaimana awal mula Rimbaud mencintai puisi hingga akhir hayatnya tewas menderita pula dikarenakan kecintaannya terhadap puisi teramat besar. Keseluruhan dalam film ini tidak menceritakan awal mula Rimbaud mencintai puisi.

Setting yang digunakan dalam film ini ialah ketika Paul Verlaine menerima surat Arthur Rimbaud yang berisi puisinya yang berjudul The Drunken Boat, pada tahun 1871. Saat itu Rimbaud masih berusia 16 tahun, tetapi dalam suratnya tersebut ia mengaku berumur 20 tahun. Verlaine yang terpesona dengan puisi tersebut, lalu mengundang Rimbaud untuk datang ke rumahnya.

Rimbaud pertama kali datang di rumah Verlaine disambut dengan baik oleh istri dan mertua Verlaine. Rimbaud yang datang dengan tak membawa pakaian selain yang ia kenakan, dipersilakan untuk masuk. Sikap Rimbaud yang semena-mena membuat mertua Verlaine terpaksa harus mengusirnya dari rumah. Verlaine yang tak berhak untuk menahannya karena rumah tersebut bukanlah rumahnya, ia pun menyewakan sebuah kamar di salah satu penginapan untuknya.

Rimbaud mulai berkenalan dengan kawan-kawan Verlaine, dan juga mereka bekerja sama untuk menulis sebuah buku kumpulan puisi. Rimbaud sempat melakukan kritik atas seniman-seniman di kota yang borjuis, bahkan lebih borjuis dari kaum borjuis. Saat pembacaan puisi pada jamuan makan malam, Rimbaud melakukan pemberontakan. Ia naik ke atas meja dan berlari sambil berteriak, lalu mengencingi salah satu lembaran puisi.

Pada suatu saat, Rimbaud dan Verlaine mengalami perkelahian yang membuat Verlaine menodongkan senjata dan tak sengaja melepaskan peluru hingga mengenai telapak tangan Rimbaud. Verlaine saat itu berada pada titik ketidakstabilannya dan menyesalkan perbuatannya tersebut. Namun, kejadian inilah yang membuat Verlaine masuk ke dalam penjara dan di saat itu pula hubungannya dengan Rimbaud semakin meregang. Verlaine mengalami kesunyian di balik jeruji dingin penjara, sedangkan Rimbaud disalahkan oleh beberapa kawan Verlain atas kasus yang menimpanya. Ia pun pindah ke London.

Ketika Rimbaud telah meninggal dunia, saudarinya datang mengunjungi Verlaine untuk meminta agar tidak lagi menerbitkan puisi-puisi Rimbaud, karena puisilah yang membuat aib di dalam keluarganya. Tetapi, jika saja Verlaine menuruti permintaan tersebut, kita tentu tak akan mengenal kemahsyuran puisi-puisi Arthur Rimbaud–pengusung surealisme. Bahkan Verlaine sendiri mengatakan bahwa, dirinya ialah seorang penyair yang hebat, tetapi Rimbaud seseorang yang sangat jenius.

Sebagian besar film ini menggunakan plot yang regresif, namun tetap saja, ketika menjalin sebuah plot yang berjalan mundur, Total Eclipse kurang berhasil mengawal tempo film sehingga membuat mood dalam film cukup berantakan. Barangkali, Agnieszka Holland memang sengaja membuat seperti ini karena berdasarkan pada kedua tokoh utamanya yang memiliki peranan personaliti yang masing-masing cukup buruk di antaranya.

Hal yang cukup disayangkan ialah tak ada penjelasan secara pasti mengenai awal mula hubungan intim antara Arthur Rimbaud dan Paul Verlaine dalam film tersebut ataupun mengapa puisi-puisi Arthur Rimbaud dan Paul Verlaine memiliki dampak yang begitu besar. Kita hanya bisa menangkap bagaimana rekam jejak hubungan kepenyairan di antara Arthur Rimbaud dan Paul Verlaine dalam film tersebut yang terjadi begitu saja. Verlaine yang juga semakin tidak tahan dengan sikap borjuis mertuanya, sering keluyuran meninggalkan rumah beserta istri dan janin dalam kandungannya. Tetapi, walaupun Verlaine melakukan hubungan intim bersama Rimbaud, ia tetap mencintai istri dan anaknya. Karena Verlaine mencintai Rimbaud dan istrinya itulah yang membuat Rimbaud cemburu dan membuat mereka bertengkar. Namun, Verlain tetap saja selalu mengalah walaupun Rimbaud mengoloknya.

Di Film ini, kita bisa melihat bagaimana sosok Rimbaud yang walaupun memilih berjarak dari keluarga, tetap saja tempat kembalinya hanyalah keluarga; ketika ia berada pada titik keterpurukan-kesunyian. Dalam keterpurukan-kesunyiannya, ia menuliskan surat untuk Ibunya. Membacanya membuatnya lantas iba terhadap apa yang telah menimpa Rimbaud.

Total Eclipse tentu saja memberi bekas bertanda tanya pada ingatan, mengapa ada hubungan intim di antara kedua penyair besar tersebut. Bahkan, mungkin bagi sebagian orang awam yang menonton film tersebut akan berpandangan bahwa untuk menjadi penyair, harus berbeda dari lainnya; seperti hubungan gay di antara Rimbaud dan Verlaine.

Terlepas dari itu semua, kita tetap akan memaklumi atas sumbangsih yang diberikan Rimbaud karena ia begitu tekun dalam beribadah puisi. Bukan berarti lantaran sikap ia yang cenderung ke arah yang sangat buruk tersebut, kita lantas membencinya.

Melalui film ini kita bisa menyusuri sudut-sudut kota yang disinggahi oleh Arthur Rimbaud. Kita bisa menguak jejak Rimbaud dalam membuat dirinya yang lain, dan bagaimana perjalannya terkait dengan gejolak zaman yang berlasung di ruang-ruang yang ia singgahi. Je est un autre.

Total Eclipse ialah film pertama yang diperankan oleh Leonardo di Caprio yang dalam pengadeganannya melakukan hubungan intim bersama pria lain. Leonardo di Caprio yang memerankan Arthur Rimbaud dalam film tersebut sungguh tidak main-main dalam melakukan hubungan intim di setiap adegannya bersama David Thewlis yang memerankan Paul Verlaine.

Jika kita menyimak dengan baik rekam jejak Arthur Rimbaud dalam jagad kepenyairannya, tentu saja tak bisa menampik untuk menyisihkan Chairil Anwar yang memiliki hampir kemiripan dari segi pandangan hidup.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.