Menguji Kelayakan Trotoar Kota Bandung

pukul tujuh lewat
Sep 4, 2018 · 6 min read

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan. Sayang engkau tak jalan di sampingku kawan.

Pada Sabtu (11/8) kemarin, aspal terlihat terang akibat memantulkan cahaya matahari yang panas, namun udara tidak terlalu pengap hari itu. Meskipun begitu terlihat kendaraan bermotor penuh sesak merangkak di jalan raya. Saya tengah berada di Bandung, salah satu kota besar di Indonesia, yang memegang gelar sebagai negara paling malas berjalan di dunia. Saya mengetahui hal itu ketika tidak sengaja melihat sebuah artikel dari Dailymail yang membahas hal tersebut. Melihat berita itu entah kenapa saya ingin membuktikan bahwa label “orang Indonesia malas jalan kaki” itu tidak ada pada diri saya. Sehingga, saya pun mencoba untuk menjadi anomali di negara ini. Saya akan mencoba untuk berjalan kaki untuk bepergian (dan untuk menghindari macet juga sih). Mungkin saya bisa memulai dengan berjalan dari kantor Pukul Tujuh Lewat (Ciumbuleuit) menuju Mall Cihampelas Walk dan dari situ saya bisa memakai angkot untuk pulang ke rumah saya di sekitar jalan BKR.

Tali sepatu sudah diikat lantas kaki tentunya tinggal digerakkan dan baru saja saya melenggang beberapa langkah, motor di belakang sudah mengklakson. Bagaimana bisa? Itu mungkin pertanyaan yang muncul jika anda tidak berasal dari sekitar jalan Ciumbuleuit. Mari kuberi tahu sobat bahwa di Ciumbuleuit tidak ada yang namanya trotoar. Yang ada hanya pinggiran jalan raya. Untuk berjalan saja kita harus rebutan dengan motor-motor yang juga menyelip-nyelip di pinggiran untuk menghindari jalanan macet di Ciumbuleuit. Sepeda motor bukanlah satu-satunya tantangan dalam berjalan kaki. Untuk berjalan kaki dari kantor P7L yang letaknya di depan jalan Bukit Jarian sampai ke pertigaan Gandog (ujung jalan Ciumbuleuit), saya juga harus menyempil-nyempil di sela-sela mobil yang parkir agar bisa berjalan tanpa perlu ke tengah jalan. Mungkin orang-orang biasa sudah akan menyerah dihadapi dengan rintangan-rintangan seperti ini. Namun, karena saya memiliki tekad yang kuat, saya tetap melangkah dengan mantap. Tak sadar akhirnya saya sampai juga di ujung jalan Cihampelas setelah pertigaan Gandog (gandok, gundog, gandox terserah kalian menulisnya gimana).

Dari ujung Gandog saya melihat trotoar bukan hanya sebagai trotoar biasa. Seperti melihat oase di padang pasir, kira-kira begitu saya melihat trotoar yang berada di ujung gandog. Trotoar ini benar-benar proper. Memiliki tingkat kerataan jalan yang nyaman serta dilengkapi dengan guiding block (penuntun jalan bagi penyandang tuna-netra) menonjol berwarna kuning tanpa ada mobil dan motor yang menghalangi. Benar-benar hal yang nyaman ketika bisa menapakan kaki dan berjalan di tempat yang memang seharusnya. Dalam mendeskripsikan trotoar yang seperti ini saya sengaja memakai perumpamaan oase di padang pasir. Karena layaknya oase di padang pasir, TROTOAR DENGAN KONDISI SEPERTI INI LANGKA DI JALAN CIHAMPELAS.

Trotoar di pertigaan gandog

Belum lama berjalan, kira-kira sesampainya di pertigaan Setiabudi saya kembali diberikan sambutan hangat oleh mobil dan motor yang parkir menghalangi. Mungkin jika saya bisa dapat receh dari setiap mobil dan motor yang saya lihat parkir di jalan Cihampelas, saya sudah bisa membuat lapangan parkir di sekitar situ. Namun saya sendiri malu untuk mengeluh. Karena setidaknya saya bisa melihat. Saya membayangkan diri saya sendiri sebagai seorang tuna-netra yang tengah berjalan menyusuri jalan Cihampelas. Mungkin saat di perjalanan saya harus duduk dulu untuk memegang jempol bengkak saya akibat keseringan tidak sengaja menendang ban mobil yang parkir. Atau mungkin, skenario terburuk, sedang dikerubungi warga lantaran tidak sengaja menjatuhkan sederetan motor yang parkir di jalan. Ya, banyak memang pemilik kendaraan bermotor yang memarkirkan mobil atau motor mereka tepat di atas guiding block trotoar di jalan Cihampelas.

Trotoar sebelum pertigaan jalan Lamping

Kemudian, sesampainya di pertigaan jalan Lamping saya diberikan pemandangan yang cukup menarik apalagi jika harus membayangkan menjadi penyandang tuna-netra. Guiding block di trotoar tiba-tiba hilang. Ajaib. Dan lebih ajaibnya lagi tidak berapa jauh kemudian trotoar sebelah kiri pun ikutan hilang dan hanya berada di sebelah kanan jalan. Benar-benar ajaib. Benar-benar sebuah pemandangan yang aneh. Atau mungkin, memang sedang ada gerakan atau tren untuk membuat trotoar yang tidak simetris. Jika memang demikian, saya tidak sabar untuk mengetahui alasan dari munculnya gerakan ini.

Hilangnya trotoar setelah pertigaan jalan Lamping

Pemandangan seperti kendaraan yang parkir di trotoar dan trotoar yang hanya muncul di sebelah kanan akan kalian temui sampai akhirnya di daerah Cihampelas Walk. Di daerah ini setidaknya trotoarnya sudah mulai lebar-lebar. Namun pemandangan kendaraan bermotor yang parkir di trotoar masih sering ditemui bahkan dapat dikatakan semua trotoar di daerah Cihampelas Walk secara langsung merupakan lahan parkir.

Mungkin permasalahan yang ada di Indonesia bukanlah orang-orangnya yang malas jalan kaki; Namun memang trotoarnya kurang layak untuk dipakai jalan kaki sehingga orang jadi malas. Jika merujuk kepada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 03/PRT/M/2014 Tentang Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki Di Kawasan Perkotaan, trotoar memiliki fungsi untuk memfasilitasi pergerakan pejalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menjamin aspek keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki. Berpegangan kepada pernyataan tersebut dan mempertimbangkan fakta di lapangan, menunjukkan bahwa trotoar diantara Ciumbuleuit sampai Cihampelas kurang layak untuk dipakai berjalan. Maka dapat dikatakan bahwa orang-orang yang ingin pergi dari Ciumbuleuit ke Cihampelas lebih memilih untuk bepergian menggunakan kendaraan bermotor dengan kondisi jalanan yang macet karena lebih nyaman dan aman ketimbang berjalan kaki lancar di trotoar. Memang, bagaimanapun juga menaiki kendaraan bermotor pribadi memang lebih nyaman ketimbang harus berjalan kaki sampai ke tempat tujuan. Namun, menggunakan kendaraan bermotor untuk menempuh jarak antara Ciumbuleuit ke Cihampelas yang hanya berjarak 2.5 Km bukanlah hal yang ideal untuk dipilih jika keadaan trotoar jalan yang ideal untuk dipakai.

Selain itu kondisi jalan yang berada di antara ruas jalan tersebut tidak aman untuk digunakan pejalan kaki tuna-netra. Absennya guiding block dan bahkan absennya trotoar menyebabkan sulitnya penyandang tuna-netra untuk dapat berjalan sendiri di sisi jalan Ciumbuleuit-Cihampelas. Jika ada guiding block pun penyandang tuna-netra masih dapat menabrak kendaraan bermotor yang parkir di daerah tersebut yang merupakan akibat dari kurangnya sarana parkir di wilayah Cihampelas yang termasuk kedalam kriteria kawasan pertokoan.

Dalam melihat kondisi trotoar di antara Jalan Ciumbuleuit menuju Jalan Cihampelas dapat menjadi cerminan bagaimana kondisi sarana dan prasarana pejalan kaki di Bandung. Tidak jarang kita menemukan kondisi trotoar yang buruk di wilayah padat penduduk seperti di Ciumbuleuit dan kondisi trotoar yang bagus di wilayah yang menjadi tujuan utama. Padahal sudah disebutkan juga dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 03/PRT/M/2014, bahwa sarana dan prasarana pejalan kaki berfungsi sebagai penghubung antar pusat kegiatan, dalam hal ini, penghubung antara pusat pemukiman dengan pusat pertokoan/perbelanjaan. Jika sarananya buruk tentu masyarakat yang tinggal maupun datang ke Bandung ogah berjalan kaki untuk menikmati kota Bandung. Hal ini dapat menjelaskan mengapa kemacetan lalu lintas sering terjadi setiap akhir pekan. Kota Bandung seakan ramah kepada pengguna jalan kecuali pejalan kaki. Jika ramah, mungkin gerakan Koalisi Pejalan Kaki Bandung tidak akan muncul.

Jika trotoar di Bandung sudah diurus dengan rapi dapat dikatakan akan menekan jumlah pemakai kendaraan pribadi secara efektif. Sehingga mungkin permasalahan orang-orang kota seperti “Males ‘jalan’ weekend karena macet” bisa menghilang. Jika macet pun orang-orang akan cuek dan memilih untuk berjalan kaki. Namun apa daya, saat ini untuk jalan di Bandung saat weekend memang sulit. Baik secara kiasan maupun harafiah.

Teks & Foto: Andrian Dharmawan

pukultujuhlewat

halo, kami dari pukultujuhlewat siap menempuh hidup baru

pukul tujuh lewat

Written by

pukultujuhlewat

halo, kami dari pukultujuhlewat siap menempuh hidup baru

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade