Saya transgender, dan orang-orang injili berusaha mendoakan saya. Sebaliknya, saya yang mendoakan mereka.
Pada satu hari Minggu sore, saya duduk di halaman sebuah kafe di tengah kota Washington, menyeruput kopi di bawah sebilah atap di hari yang basah, memikirkan urusan-urusan saya sendiri, ketika tiga orang yang jelas-jelas turis berjalan dan memberi gerak isyarat kepada saya untuk melepas headphone yang sedang saya gunakan. Setelahnya, satu dari mereka bertanya, “Bolehkah kami mendoakanmu?”
Saya bertanya mengapa mereka ingin mendoakan saya, dan orang yang sama menjawab bahwa mereka merasa dipanggil Tuhan untuk berjalan menelusuri jalan-jalan D.C. sambil mendengarkan suara Tuhan yang mengatakan siapa-siapa yang kemungkinan “terluka” atau memerlukan doa. Terluka.
Sebagai orang Kristen, saya tidak menentang doa ataupun orang-orang yang mendoakan saya secara spesifik, setidaknya jika hal itu dilakukan dengan itikad baik. Akan tetapi, saya adalah seorang perempuan transgender juga, dan saya berdandan se-feminin perempuan-perempuan hari ini, dengan make up yang menawan dan pakaian dan anting-anting. Saya yakin sekali bisa menangkap semangat dari orang-orang ini yang menemui saya untuk menawarkan saya untuk didoakan.
Perkenalan saya dengan Kekristenan yaitu di dalam gereja-gereja injili. Selama bertahun-tahun, saya menavigasi ruang-ruang relijius konservatif di mana saya mengalami kefanatikan dan usaha-usaha untuk mempermalukan orang-orang LGBTQ dan perempuan sesering itu, sesering itu pula saya menemukan orang-orang berhati hangat yang berhasrat melayani orang lain. Terdapat juga lebih dari sedikit rasisme di sana. Saya pernah mendengar pernyataan “Saya akan mendoakanmu” dikatakan dengan cinta kasih, dan saya pernah juga mendengar pernyataan tersebut dikatakan secara penuh penghakiman dan cemooh. Daripada masuk kepada debat teologis yang seringkali tidak membawa siapapun kemana-mana karena tidak didasari itikad baik dalam diskusinya, saya ingin mereka merasakan bagaimana rasanya didekati seseorang sekiranya dengan cinta kasih tetapi mengakibatkan rasa sakit dan ketidaknyamanan. Mungkin itu yang dibutuhkan. Perspektif yang dipaksakan dalam empati. Kenapa kita tidak mencoba pendekatan itu?
Saya bisa saja mengabaikan mereka, tetapi saya sudah sampai pada pengalaman bahwa ada beberapa orang injili yang mencoreng nama komunitas mereka karena mendesak untuk mendefinisikan konsep kemanusiaan saya untuk saya. Mereka melihat seorang transgender dan berasumsi saya terluka karena identitas gender saya. Mereka melihat konstelasi ke-diri-an saya melalui teleskop terbalik. Hal ini membuat saya marah melihat seluruh ke-ada-an saya dapat direduksi dalam pemahaman keliru mereka tentang orang-orang LGBTQ, sebuah pandangan yang sebenarnya bisa diperbaiki dengan mudah apabila mereka mau mengambil waktu untuk mengenal saya alih-alih berasumsi mereka sudah mengenal saya.
Jadi saya akan sial jika saya membiarkan mereka menginterupsi waktu saya minum kopi di hari Minggu sore ketika saya jelas-jelas tidak mengganggu mereka. Tapi tidak kali ini. Dan saya berpikir: Oke, mari kita bereskan ini. Lalu saya bertanya kepada juru bicara mereka apakah dia menyadari bagaimana mereka terlihat ketika mencari-cari orang “terluka” untuk didoakan dan secara spesifik memilih orang transgender secara acak di jalan. Dan mereka tampak lebih dari sekedar terkaget-kaget.
Saya berdiri, tersenyum, tetapi di dalam hati terganggu dengan situasi ini, dan saya bertanya kepada mereka apa yang dikatakan Injil Matius tentang doa. Mata mereka terbelalak. Pemuda di sebelah kanan mulai tergagap-gagap dalam gugup, kelihatan jelas kesulitan menjawab pertanyaan saya. Dua orang yang lain juga kebat-kebit, tersergap tiba-tiba oleh ide bahwa orang transgender yang “terluka” bertanya pertanyaan sederhana tentang ayat umum mengenai doa dalam Matius.
Bagi Anda yang belum paham, Matius adalah kitab pertama dalam Perjanjian Baru dan satu dari tiga Injil Sinoptik, masing-masing merupakan narasi tentang kehidupan Kristus, seringkali menceritakan kisah-kisah yang serupa, terkadang dengan kata-kata yang identik. Walaupun ketiganya memuat perintah dalam hal doa, saya mengambil Matius 18:20 karena ayat tersebut sangat lumrah dalam komunitas injili dan aplikasinya yang keliru oleh anggota komunitas tersebut. Singkatnya, ayat tersebut berbunyi: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
Mereka yang lebih fasih dalam pengetahuan Alkitab mungkin heran mengapa saya tidak mengambil Matius 6:5–7, ayat yang tajam mengritik orang-orang munafik yang mempraktekkan Kekristenan secara performatif, menyuruh mereka berdoa di ruang pribadi dalam momen intim dengan Allah alih-alih melakukannya di jalanan supaya mereka dilihat orang lain. Ayat itu ayat yang baik, tidak diragukan lagi, tetapi secara tidak mengejutkan terabaikan dalam lingkaran-lingkaran injili. Mereka tahu ada ayat itu, tetapi ayat itu tidak membuat nyaman.
Ayat yang saya pilih justru menusuk karena ayat tersebut sangat sering didengar sebelum persekutuan doa di gereja-gereja injili. Di sana, ayat tersebut cenderung ditafsirkan secara keliru sebagai sebuah hitung-hitungan jumlah, sebuah ayat tentang mewujudnyatakan apa yang diminta kepada Allah dalam doa. Mereka memahami ayat tersebut sebagai panggilan untuk membawa lebih banyak orang ke dalam gereja atau, secara lebih sinis, kemakmuran personal melalui injil.
Pada kenyataannya, ayat tersebut adalah tentang akuntabilitas di hadapan Allah dan tentang bagaimana Allah boleh mengerjakan akuntabilitas itu melalui manusia. Seperti yang dikatakan Leisa Baysinger, ayat tersebut merujuk kepada tradisi Yahudi kuno bahwa setidaknya mesti ada tiga saksi untuk dapat memutuskan penghakiman atas seseorang. Pada waktu itu, saya tidak menyadari akar sebenarnya dari ayat tersebut, yang secara mengejutkan cocok, melihat satu geng ini yang berusaha duduk di sini dalam penghakiman atas saya, tetapi saya masih memahami apa yang dipertaruhkan di sini, dan saya menyukai ide menggunakan sebuah ayat tentang akuntabilitas yang mereka mungkin sangat sering memahaminya secara keliru.
Saya adalah orang yang dihakimi yang memahami hukumnya lebih baik daripada mereka yang berusaha menghakimi saya, dan hari itu, saya menuntut akuntabilitas.
Hal-hal seperti ini bukanlah isu yang saya anggap enteng, dan sikap merendahkan mereka yang pasif-agresif jelas-jelas tidak memberikan rasa aman. Ini bukanlah waktu untuk bersikap sopan. Tidak di waktu Trump-Pence White House berusaha melarang orang transgender masuk militer. Tidak di masa siswa-siswi transgender dengan pengalaman diskriminasi diabaikan oleh Departemen Pendidikan. Tidak dalam tahun ketika Presiden trump dan Wakil Presiden Pence berusaha mengimplementasikan regulasi baru dalam Health and Human Services Department yang membolehkan pekerja kesehatan untuk menolak memberi pelayanan kesehatan yang dapat menyelamatkan hidup bagi orang-orang LGBTQ. Tidak ketika delapan orang transgender terbunuh di Amerika Serikat tahun 2018, dan 28 orang di tahun 2017 — jumlah tertinggi per tahun sepanjang sejarah. Tidak sekarang. Saya tidak akan diam.
Sebaliknya, saya bicara.
“Kalian tahu ‘kan Matius berkata bahwa di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Yesus, di situ Dia ada di tengah-tengah kita?”
Mereka menatap saya dengan tatapan kosong. Saya memang tidak berencana bersantai dengan mereka.
“Itu yang dikatakan Matius, kan?”
Akhirnya, satu dari mereka angkat bicara: “Ya, itu benar.”
“Kalau begitu, mari berdoa.”
Dan mereka beranjak maju membentuk lingkaran dalam kegugupan.
Saya berkata kepada salah seorang dari mereka: “Kamu yang mulai.” Dan dia melakukannya, berdoa cepat-cepat dan sangat hati-hati karena mereka bertiga ingin menjauh sejauh mungkin dari situasi canggung ini. Lalu saya melanjutkan ketika dia sudah jelas-jelas selesai berdoa.
“Tuhan Yesus, saya beryukur atas teman-teman ini,” saya memulai doa saya, penuh kejujuran dengan Allah bahwa saya berharap Dia memberkati teman-teman baru saya ini, mendorong mereka untuk mengafirmasi, dan menjadi inklusif, kepada orang lain. Saya berharap komunitas mereka menghormati semua orang sebab Allah yang menciptakan mereka dan menjunjung tinggi nilai keberagaman.
Lebih lanjut, saya menyebutkan keindahan alami dari komunitas LGBTQ dan beryukur kepada Allah sekali lagi karena telah menciptakan kami sebagaimana kami adanya, memohon secara ikhlas supaya mereka selamat dalam perjalanan mereka pulang ke rumah. Lalu, dengan audiens yang seperti mereka, saya menutup doa ini dengan fraseologi banal injili — “setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil,” “biarlah Allah ada di dalam hati mereka” — supaya mereka tahu saya familier dengan “bahasa daerah” komunitas mereka juga, mengembalikan “Mari kami doakan” mereka sepuluh kali lipat, mereka menggumamkan terima kasih dan bergegas mundur menghilang.
Saya tidak tahu apakah kata-kata saya berhasil, tetapi saya berharap mereka merasakan sedikit sensasi bagaimana rasanya ada orang asing memaksakan racun self-righteous atas diri mereka. Saya juga berharap agar mereka menyadari betapa perilaku-perilaku seperti ini melemahkan kekuatan doa dan justru menyakiti orang-orang LGBTQ. Doa supaya seseorang mengubah seksualitas atau identitas gendernya adalah dorongan mengerikan bagi mereka yang ingin mendiskriminasi orang-orang LGBTQ dalam sistem hukum kita dan ingin melakukan kekerasan kepada orang-orang LGBTQ dalam komunitas kita. Rasa kecut dari doa saya supaya mereka sadar akan rasa asam dari doa mereka juga, melalui suntikan spiritual yang tajam.
Orang-orang ini tidak ingin mengenal saya lebih dalam. Mereka hanya ingin berbicara kepada saya dan mendoakan saya. Dan saya yakin bukan itu yang akan dilakukan Yesus. Ada banyak orang dalam komunitas injili yang mengasihi dan mengafirmasi keluarga, teman, dan sesama manusia LGBTQ mereka. Sayangnya, beberapa orang lainnya masih mesti diberitahukan sebuah kebenaran sederhana: Mereka tidak sedang mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan cara mempolitisi doa dengan merugikan orang lain atau dengan melemparkan sikap merendahkan yang salah tempat kepada orang asing yang mereka pikir terluka.
Doa semestinya adalah sebuah tindakan cinta kasih, bukan senjata untuk melakukan marjinalisasi.
Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari artikel berjudul I’m transgender, and evangelicals tried to pray for me. I prayed for them instead oleh Charlotte Clymer

