Anies Baswedan, Tak Sekadar Jago Retorika

Pak Anies yang saya kagumi,

Jadi begini, Pak. Saya boleh curhat nggak? Saya sedih dengan pemberitaan tentang Pilkada DKI belakangan. Saling serang. Saling fitnah. Fakta diputar-balik. Padahal, saya percaya Bapak bukan orang yang seperti itu. Lebih jauh lagi, Bapak bahkan sudah berkali-kali menyerukan kampanye damai, festival gagasan, dan perang ide. Terlebih dengan adanya ‘Salam Bersama’, salam persahabatan dengan gestur tangan terbuka, bukan tangan terkepal.

#SalamBersama

Ada yang bilang Bapak hanya jago retorika saja. Mana bukti kerja nyata? Lalu mereka meributkan dan meragukan kapabilitas Bapak terkait kinerja di Kemdikbud. Kami –para relawan — mencoba mencari tahu hal itu dan ternyata, dari 20 bulan kerja Bapak di Kemdikbud, sudah ada 40 hasil kerja yang jelas terbukti.

Begitu juga dengan isu KIP yang kata orang menjadi alasan kuat kenapa Bapak dicukupkan menjabat jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Yang paling baru, terkait isu KIP dan KJP. Tapi sudahlah, saya tak mau berpusing-pusing meyakinkan orang yang tak mau mendengarkan. Saya cuma mau bilang bahwa apa pun yang terjadi Pak, saya tetap dukung Bapak.

Sabtu, 29 Oktober malam, saya hadir di kediaman Bapak, mendengar Bapak pidato terkait Sumpah Pemuda. Satu kutipan yang cukup menohok:

“Kerja tanpa kata-kata adalah kerja tanpa makna”.

Ucapan Bapak ini mengingatkan saya pada beberapa peristiwa di masa lalu……….

Pilpres 2014. Kesan pertama begitu menggoda

Jujur, saya tak pernah menaruh minat pada dunia politik. Terlanjur melabeli ‘politik nggak asik’. Tapi saya ingat sekali momen #MengadiliAnies ketika masa konvensi Demokrat, juga gerakan relawan Turun Tangan.

Saya baru sadar pentingnya peduli (setidaknya mengikuti kabar) politik ketika Bapak bilang bahwa kalau ada orang baik ingin masuk politik, seharusnya didukung, bukan malah dicaci-maki.

Dari situ, alergi saya terhadap politik mulai berkurang. Benar kata orang, tak kenal maka tak sayang. Saya mulai mengikuti perkembangan Pilpres yang berlangsung seru sekali, sampai akhirnya terpilihlah Jokowi sebagai presiden RI 2014–2019.

Indonesia Mengajar. Ketika sang penggagas gerakan jadi menteri

Anies Baswedan dalam Pelepasan Calon Pengajar Muda 9

Pilpres selesai, di tahun yang sama, saya menjadi Pengajar Muda angkatan 9. Tepat di tanggal 27 Oktober 2014, Bapak dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bersamaan dengan pelepasan kami, para calon Pengajar Muda (iya, saat itu masih calon).

Bapak hadir di situ mengisi sambutan. Saya ingat betul Bapak bilang yang intinya, kalau dulu gerakan Indonesia Mengajar dibuat sebagai gerakan sipil oleh warga sipil, sekarang pendirinya ada di pemerintahan. Hidup memang penuh kejutan ya, Pak!

Dalam sambutan itu juga, Bapak berpesan:

“Pilihlah jalan mendaki”.

Ketika seseorang memutuskan menjadi Pengajar Muda, maka saat itulah jalan mendaki harus ditempuh.

Sepulang dari penempatan, Bapak kembali mengisi sambutan dalam Orientasi Pasca Penugasan Pengajar Muda. Di situ, Bapak menjelaskan pada kami bagaimana pertimbangan dalam memilih pekerjaan:

1. Financially well

2. Intellectually growing

3. Socially impactful

Dan itulah yang menjadi pegangan saya dalam memilih wadah berkarya selepas jadi Pengajar Muda.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pelibatan publik, warna baru dalam birokrasi

Acara pengarahan relawan Bulan Pendidikan dan Kebudayaan

Mulai bulan Mei 2016, saya membantu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengelola relawan dalam rangkaian kegiatan Bulan Pendidikan dan Kebudayaan, juga Hari Pertama Sekolah di bulan Juli 2016. Dalam pengelolaan itu, saya menyaksikan betul secara langsung segala sikap, ucapan, maupun tindakan yang mencerminkan kualitas kepemimpinan Bapak.

Pemimpin yang rendah hati, penuh apresiasi, dan benar-benar mampu menggerakkan. Saat pertama kali pengarahan relawan, saya melihat Bapak duduk di antara para relawan. Tak ada jarak, bahkan saya tertawa geli sendiri melihat mereka berebutan duduk di depan Bapak seperti bocah SD menunggu orang dewasa membacakan cerita dongeng, menatap penuh kekaguman.

Bapak menyampaikan apresiasi dan pesan bahwa kita menjadi seperti kita yang sekarang itu karena pendidikan. Lantas, bagaimana cara kita bayar balik untuk pendidikan?

Kemudian juga saat rapat evaluasi Gerakan Hari Pertama Sekolah. Kami, para relawan, berkumpul, lalu tanpa diduga Bapak hadir dan bilang begini:

“Kita pernah membuktikan bahwa dunia digital bisa menghancurkan pilar fear. Pertanyaan selanjutnya, dengan alat yang sama, bagaimana kita bisa membangun pilar trust?”

Tak lama setelah itu, Pak Presiden mencukupkan Bapak menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Berita yang sungguh mengejutkan kami semua. Tapi tak pernah satu kali pun saya mendengar nada kecewa Bapak, bahkan Bapak pun berkata tak pernah mempertanyakan keputusan Presiden.

Ada dua pesan dari Bapak yang saya ingat terus. Pertama:

“Peran boleh berganti, tapi bawa terus misi”.

Kedua:

“Ceritakan pengalaman melalui tulisan karena seringkali, pengalaman terkubur bersama badan”.

Siap, Pak! Sedang saya tuliskan di sini :)

Pilgub 2016. Undangan #MajuBersama

Semesta seperti tak pernah kehabisan skenario. Mendadak, Bapak dicalonkan menjadi Calon Gubernur DKI oleh Gerindra dan PKS sebagai partai pengusung. Di tanggal 26 September 2016, saat pertama kali mendengar kabar tersebut, saya langsung konfirmasi pada mantan atasan saya di Kemdikbud dulu. Ya, berita itu benar adanya dan saya diminta ikut membantu.

Sejujurnya, saat itu, saya ragu. KTP saya Tangerang Selatan. Saya justru menitipkan hak suara saya pada warga Jakarta. Lantas, apa yang bisa saya bantu?

Lalu saya hadir dalam sebuah undangan pertemuan relawan. Di sana, ternyata bukan cuma saya yang tak punya KTP DKI. Di sana, ternyata banyak pendatang juga komuter seperti saya. Di sana, saya jadi menyadari satu hal. Ya, memang Indonesia bukan hanya Jakarta. Tapi Jakarta juga bagian dari Indonesia.

Dari situlah, jadi tak penting lagi ragu soal domisili. Suara saya mungkin bisa dititipkan pada warga Jakarta, tapi kontribusi saya tidak. Dan semua napak tilas peristiwa sampai titik saya ada di sini untuk mendukung Bapak menjadi Gubernur DKI, semua berawal dari kata-kata.

Jadi Pak, melalui surat ini, saya ingin berterima kasih pada Bapak. Saya juga ingin menyampaikan pada semua bahwa jangan pernah anggap remeh retorika. Kemampuan merangkai kata sama kuatnya dengan senjata.

Mungkin kata-kata yang tak melukai memang tak punya kemampuan menyembuhkan. Tapi kata-kata yang disampaikan dari hati, jelas punya kemampuan menggerakkan.

Salam bersama,

Fidella Anandhita Savitri