Anies & Pembentukan Karakter

Masih ingat dengan reshuffle kabinet jilid ll, akhir bulan Juli lalu? Nama Anies Baswedan yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, masuk dalam daftar. Anies diganti dengan Muhadjir Effendy. Keputusan Presiden Joko Widodo mengganti Anies, ternyata mengagetkan masyarakat. Selama menjabat sebagai menteri, kinerja Anies dinilai bagus. Suci Handayani dari Solo misalnya, dia menyatakan terheran-heran lantaran Anies jarang menjadi sorotan negatif media. Anies menerima keputusan itu dengan tenang, khas dirinya.

Meskipun tidak lagi menjabat menteri, ternyata Anies ikut dalam pencalonan gubernur DKI Jakarta, 2017 mendatang. Anies bersama Sandiaga Uno digadang-gadang bakal jadi saingan berat calon lain. 
Nama Anies Baswedan sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia, terutama di kalangan anak muda. Sosok intelektual muda ini banyak membuat gebrakan di dunia sosial, pendidikan, kebudayaan. Anies adalah rektor termuda di Indonesia. Dalam usia 38 tahun dirinya ditunjuk menjadi rektor Universitas Paramadina. Selain rektor, nama Anies semakin mencuat sewaktu dirinya mendirikan gerakan Indonesia Mengajar tahun 2009. Gerakan ini mendapat sambutan meriah dari anak muda Indonesia, mereka terpanggil untuk berbagi ilmu kepada anak bangsa lain di berbagai pelosok negeri.

Dikenal sebagai sosok yang cerdas dan santun, Anies dipercaya mampu mengemban tugas yang tak kalah berat, memimpin ibukota. Dalam visinya, Anies-Sandi menyebutkan “Jakarta kota maju dan beradab dengan seluruh warga merasakan keadilan dan kesejahteraan.”

Sedangkan dalam penjabaran misinya, Anies menggarisbawahi kata kepemimpinan humanis dan mengayomi. Sosok Anies dengan sepak terjang organisasi yang sangat luas, diharapkan menjadi pemimpin yang tegas dan mengayomi masyarakat.

Keunggulan Anies adalah berani memulai sebuah gerakan yang pada akhirnya menjadi tradisi penting dalam membentuk karakter masyarakat sejak usia dini. Pembangunan karakter dan perbaikan diri yang menjadi ruh dalam tindakannya, mampu membangun sebuah masyarakat yang kuat.

Contohnya penghapusan sistem Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang terlanjur menanamkan budaya penggojlokan dan senioritas berlebihan warisan kolonial. Anies berani mengambil tindakan tegas. Anak muda mulai membenahi diri dengan meninggalkan praktik minim manfaat.

Cara kerja penuh perhitungan inilah yang mengantarkan dirinya layak memimpin ibukota. Anies memang tidak muluk-muluk menjanjikan ini-itu. Namun dirinya menyiapkan penyelesaian masalah dari akarnya. Apalagi yang akan dipimpinnya adalah Jakarta dengan karakter masyarakat yang sangat beragam.

Dengan nama yang bersih, banyak diidolakan anak muda, mampu menggerakkan perubahan, Anies adalah sosok yang tepat dalam memimpin Jakarta.