Semua Karena Pak Anies

Anak muda memang minim pengalaman, karena itu ia tak tawarkan masa lalu. Anak muda menawarkan masa depan.

Perkenalan pertama saya dengan Pak Anies, kira-kira sekitar tahun 2010. Ketika itu status saya masih menjadi mahasiswa Institut Manajemen Telkom, sementara Pak Anies sendiri masih menjabat rektor Universitas Paramadina.

Kalau tidak salah ingat, beliau mendatangi kampus saya dan menjadi pembicara untuk roadshow Indonesia Mengajar yang digagas olehnya. Terus terang saya sendiri sudah lupa apa saja yang dikatakan oleh beliau ketika itu.

Gara-gara roadshow itu, saya pernah punya mimpi untuk menjadi sosok Pengajar Muda. Rasanya keren saja gitu menyandang gelar Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar karena ‘tahan banting’ ditempatkan di pelosok negeri selama satu tahun dengan akses terbatas dan menjadi pendidik — pekerjaan yang mulia bukan?


Meski mimpi menjadi Pengajar Muda mesti tidak kesampaian sampai sekarang, berkat pertemuan saya dan Pak Anies dan mungkin juga pengaruh lingkungan tempat saya bernaung, sejak saat itu saya mulai tertarik untuk terjun ke dunia sosial dan pendidikan sebagai anak muda yang ingin turut membangun perubahan. Tsailah…

Meski saya tidak terlalu aktif ikut dalam berbagai macam kegiatan atau menjadi pengurus komunitas sosial sekalipun, sebisa mungkin saya tetap terlibat dalam berbagai bentuk. Jika tidak bisa dalam bentuk kehadiran, ya, minimal saya bisa menyumbangkan hal-hal lain, misalnya benda atau nominal uang dalam jumlah tertentu (semoga ini buka riya’).

Begitulah. Kadang apa yang kita pilih dalam hidup membawa pada pilihan-pilihan lainnya.


Tiga tahun kemudian, saya menjadi bagian dari Kelas Inspirasi Bandung 2 sebagai seorang kakak inspirator. Untuk yang belum tahu apa itu Kelas Inspirasi, sini saya jelaskan sedikit, ya.

Kelas Inspirasi itu semacam ‘adik’ dari Indonesia Mengajar (maafkan bila tafsiran saya salah) yang menaungi para pekerja serta profesional dari berbagai bidang pekerjaan untuk turut serta dalam pendidikan.

Salah satunya adalah menjelaskan profesi mereka kepada siswa-siswa Sekolah Dasar. Percaya atau tidak, kalau kamu bertanya kepada anak-anak sekolah apa cita-cita mereka, pasti mereka akan menjawab cita-cita yang umum dan standar, seperti guru, polisi, PNS, dokter, dan perawat.

Padahal, ada banyak sekali profesi yang bisa mereka jajal sekarang, seperti content writer (ini sih bidang pekerjaan saya. :p), web developer, IT consultant, akuntan, dan lain-lain.

Bukannya saya merendahkan pekerjaan umum tersebut, ya, tapi dengan adanya Kelas Inspirasi ini diharapkan dalam membuka pandangan adik-adik kalau ada banyak sekali pekerjaan yang bisa digeluti. Ngomong-ngomong cerita saya soal Kelas Inspirasi bisa dibaca di sini.


Tak lama mendengar kabar, tahu-tahu Pak Anies ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan di era Presiden Jokowi-JK. Setelah menjadi menteri, Pak Anies lebih dikenal sebagai Pak Menteri (PM) dan Mas Menteri oleh para stafnya.

Saya memang tidak banyak membaca berita, baik cetak maupun daring, tapi sedikit-sedikit saya tahu tentang sepak terjang Pak Anies saat menjadi Mendikbud. Jika menelisik laman Wikipedia tentang Pak Anies Baswedan misalnya, maka kamu bisa menemukan banyak hal yang dilakukan oleh Pak Anies selama menjabat.

Kalau saya pribadi, saya paling senang dengan konten-konten dari Mendikbud yang nampak begitu segar, muda, dan kekinian tidak seperti lembaga pemerintahan yang kaku dan tua yang selama ini melekat pada saya dan mungkin orang-orang awam lainnya.

Selain itu, di zaman Pak Anies pula, Indonesia memiliki Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Ujian Nasional tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kelulusan, ada Hari Pertama Sekolah, dan masih banyak lagi hal baik lainnya.


Kami bukan warga negara yang diam. Kami warga negara yang terlibat — Anies Baswedan

Tahun ini, saya kembali bertemu dan dekat kembali (uhuk) dengan Pak Anies karena terlibat menjadi relawan Bulan Pendidikan dan Kebudayaan bulan Mei lalu.

Pak Anies tentu saja tidak lagi mengenal saya, tapi saya masih mengingat sosoknya dari pertama kami bertemu. Beliau tampak lebih sehat dan bugar, tapi wajahnya tetap tersenyum sumringah di tengah kesibukannya wira-wiri untuk menjalani program kerja yang sudah dibuatnya.

Pada pertemuan pertama #BulanDikbud, dia menceritakan banyak hal. Terlebih alasannya kenapa membuat Bulan Pendidikan dan Kebudayaan untuk semakin melibatkan para pemuda dalam hal kepedulian terhadap pendidikan dengan cara yang menyenangkan.

Dan memang, ketika saya mendatangi gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta bertemu para staf, tidak terjadi gap antara atasan dengan bawahan, semua orang berbaur seperti seorang teman dan tidak menganut ABS (Asal Bapak Senang). Semua terlihat senang. Semua terlihat baru.

Namun, Pak Anies juga manusia. Di balik senyumnya pun, ternyata dia bisa bete juga. Hehehe… Saya sempat melihat wajahnya sedikit merengut ketika sedang menunggu teknisi saat akan mengadakan live untuk penutupan (eh apa pembukaan, ya) Olimpiade Sains Nasional.

Untunglah beliau tidak sampai membentak-bentak dan cukup sabar menunggu, sehingga membuat saya makin kagum akan sikapnya yang tidak gampang tersulut emosi.


Karena Pak Anies dan Bulan Dikbud , saya bisa bertemu banyak kenalan baru serta para anak-anak muda yang hebat dan peduli. Walaupun rata-rata usia mereka masih anak kuliah, sementara saya jauh lebih tua, tapi kami saling berbaur satu sama lain, bahkan setelah acara tersebut selesai dan panitia resmi bubar.


Saya tidak tahu seberapa dekat Pak Anies dengan para stafnya Kementerian. Namun, kelihatannya beliau memang pemimpin yang dicintai. Bahkan ketika beliau terkena reshuffle kabinet, diramaikan oleh hashtag #TerimakasihABW untuk sepak terjangnya selama ini.

Lalu berita mengejutkan tahu-tahu datang lagi dari beliau saat dia memutuskan ikut bursa Calon Gubernur DKI Jakarta dengan bersanding bersama Pak Sandiaga Uno. Banyak yang kecewa karena keputusannya yang terlalu cepat, termasuk saya yang menilai apa sih yang dipikirin sama Bapak?

Namun, setelah membaca tulisan ini, ini, dan ini, sedikit demi sedikit saya paham apa yang ingin dicapai oleh Pak Anies. Mungkin banyak orang yang kecewa seperti meme yang bertebaran di internet yang membandingkan Pak Anies dengan Bapak Ignasius Jonan dengan caption, ‘Coba kamu sabar sedikit, pasti diangkat menteri lagi kayak aku’, tapi jika kamu memiliki hak untuk memilih, maka belajarlah untuk berpendapat terpuji.

Tidak usah saling menjatuhkan. Jangan langsung percaya dengan apa yang diberitakan di media terutama media daring seperti kata Pandji soal click bait. Cari informasi tentang visi-misi mereka soal Jakarta, dan yang pasti pilihlah sesuai dengan kata hatimu.

Saya sendiri tidak punya hak pilih karena KTP saya berdomisili di KOTA BEKASI (syukurlah bukan Kabupaten), tapi saya cukup jengah dengan pernyataan negatif yang bertebaran di media sosial.

Semua karena Pak Anies, makanya saya tergerak untuk menuliskan hal ini. Sebenarnya ingin ditulis beberapa bulan yang lalu, tapi karena malas, makanya baru menulis sekarang ini.

Like what you read? Give Bella Zoditama a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.