Mengapa Kita (Masih) Layak Mendengarkan Queen?

Ratu-nya musik rock 70-an, salah satu band yang namanya masih bergema hingga kini.

image: rollingstone.com

We are The Champions atau I Want To Break Free mungkin sangat akrab dengan telinga kebanyakan orang. Kedua lagu tersebut mungkin lebih populer dari nama Queen sendiri.

Sebagai salah satu band legenda di musik rock, Queen sebetulnya punya segudang lagu yang matang secara musikal, bila dibandingkan dengan kedua lagu tersebut. Walaupun saya menganggap semua lagu Queen matang secara musikal, namun dominasi kedua lagu tersebut mengganggu pandangan kita terhadap Queen secara umum. Hal ini dikarenakan citra yang terbangun oleh pemakaian berlebihan kedua lagu tersebut sebagai theme song, semisal: selesainya sebuah kompetisi bola, soundtrack game olahraga, atau iklan-iklan di televisi yang memakai lagu tersebut.

Contoh lagu-lagu lain yang juga berbau ‘hiburan’ adalah Fat Bottomed Girls, ciptaan Brian May, Somebody To Love, atau Too Much Love Will Kill You. Lagu-lagu tersebut mungkin akrab di telinga yang kenal dengan Queen.

Ketidaksukaan saya kepada arus mainstream rock akhir-akhir ini mungkin salah satunya berdasar pada kecintaan saya pada salah satu raja dunia rock ini (atau mungkin mindset classic yang selalu melekat tidak hanya bagi mereka yang mencoba menganalisa musik, namun hampir selalu melekat pada segala sesuatu yang berhubungan dengan karya seni).

Queen sangatlah mempesona, tidak hanya dari lagu-lagunya dikenal bernilai blockbuster, namun juga karena kehebatan duo legendaris di era stadium rock, Freddie Mercury dan Brian May.

image : cnn.com

Queen, sebagaimana yang kita semua ketahui, adalah raja rock era 70-an dengan lirik-liriknya yang ‘cerah’. Mereka identik dengan suara vokalisnya yang soft dan petikan sang dewa gitar rock yang powerful . Namun bagi para penggila musik rock yang menyukai band berlirik sinis Nirvana, gelap-setanisme-nya Black Sabbath, atau ‘tanpa lirik sama sekali’ seperti yang dipopulerkan oleh band-band punk semacam Ramones, mungkin nama Queen adalah nama yang mereka anggap cuma sebagai ancestor, generasi lama, the great one, atau band hebat dari masa lalu.

Sosok Freddie Mercury

image: cinemags.id

Freddie mungkin salah satu orang yang paling populer di dunia ‘hiburan’, selain karena penyakit AIDS yang membawanya pada maut. Sosoknya yang eksentrik dan sedikit feminim membawanya menjadi salah satu penyanyi rock paling banyak disebut. Suara merdu serta gayanya yang luwes diatas panggung mungkin hampir selalu membuat siapa saja yang pernah menyaksikan konser Queen jatuh cinta. Namun tentu saja Freddie tidak serupa dengan salah satu artis rock yang tengah populer di samping kanan-kiri kita, Adam Levine. Freddie tidaklah setampan suaranya, atau seseksi gayanya diatas panggung, ditambah lagi orientasi seksnya yang tak lazim. Kontras dengan Adam Levine yang dikenal tampan dan good looking sehingga begitu dipuja oleh banyak orang (terutama lawan jenis). Meskipun warna suara Adam sebenarnya sangat unik, namun sulit bagi para fans musik era sekarang untuk cuma bisa tertarik pada pada hal remeh-temeh semacam warna suara. Sementara Freddie Mercury dipuja dan dicinta oleh para fans-nya karena teknik vokalnya yang bagus, sosoknya yang cerdas nan eksentrik, serta jiwanya yang selalu terpanggil untuk menelurkan lagu-lagu terbaik. Meski pilihan untuk mengidolakan seorang figur adalah pilihan masing-masing individu yang amat dipengaruhi oleh ‘rasa’, dan semua orang bebas mengagumi siapapun, namun mengidolakan Freddie Mercury adalah sebuah pilihan elegan yang bisa dipilih.

Sebagai seorang frontman Queen, sosok Freddie memang iconic. Tampilan busananya yang terlihat kecewek-cewekan (yang kemudian menjadi tren di kalangan musisi glam rock), lenggak lenggoknya diatas panggung, serta power suaranya di lagu-lagu Queen akan selalu dikenang oleh dunia rock. Yang paling berkesan bagi para penggemarnya, termasuk saya, adalah bagaimana mix vokalnya dengan lagu-lagu Queen yang selalu terdengar bergema (ciri khas seperti inilah yang oleh beberapa pengamat musik rock disebut sebagai stadium rock, subgenre aliran musik rock).

Meski menghabiskan tahun-tahun terakhirnya bergelut dengan penyakit AIDS, Freddie tetap mampu membuat lagu-lagu yang bagus. Semisal The Show Must Go On, yang ia rekam di penghujung usianya. Selain tetap aktif merekam lagu baru, Freddie juga aktif bagi berbagai kegiatan amal yang berkaitan dengan AIDS.

Freddie Mercury amat beruntung sebagai seorang penyanyi rock. Secara kualitas ia tidak diragukan, secara ‘rasa’ ia pun ‘enak’ untuk dinikmati, dan terlebih lagi ia berada di sebuah band dengan personel yang tidak hanya cerdas secara musikal, namun juga mengerti bagaimana membuat sebuah lagu yang penuh rasa.

Brian May, adalah mengapa lagu rock milik Queen tidak hanya asal nge-rock

image: brianmay.com

Sosok Brian May adalah gambaran bagaimana kecerdasan (juga pengetahuan atau ketrampilan) bermusik akan lebih bernilai bila dibarengi dengan rasa yang peka. Solo-solo gitar Brian May tidak sekedar kompleks namun juga amat dipengaruhi oleh ‘rasa’ yang selalu menuntunnya. Ia selalu cermat dalam menempatkan solo gitarnya. Setiap part gitarnya dalam lagu-lagu Queen selalu ia sinkronkan dengan kebutuhan lagu. Memang terdengar klise, apalagi pas dan tidaknya porsi gitar dalam sebuah lagu amat relatif. Namun bila anda mendengarkan Queen, anda akan menemukan sosok Brian May yang selalu humble dalam memainkan gitarnya.

Musik rock era sekarang memang tidak menuntut bentuk apa pun, sebab telah banyak ragam musik rock yang muncul, dan rasa yang dihasilkan ragam-ragam tersebut tentu saja bisa dinikmati. Namun pendekatan yang Brian May pilih dalam memainkan gitar masih mendapat tempat sebagai inspirasi bagi para gitaris di era sesudahnya. Sebut saja Slash-nya Guns N Roses, yang amat nge-fans pada caranya menyusun sebuah solo gitar.

Queen menyukai harmoni

Sebagai orang awam dalam teori musik, sebenarnya saya tidak terlalu paham dengan apa yang ingin Queen buktikan dengan harmoni-harmoni vokal yang mereka buat di lagu-lagunya. Mungkinkah mereka ingin pamer teori musik? Apakah harmoni dalam sebuah lagu memang mutlak? Ataukah mereka memang sedikit nyleneh? Yang jelas kebanyakan harmoni vokal di lagu -lagu mereka memang indah, itu saja.

Setelah saya mendengarkan lagu-lagu mereka dengan maksud mengamati, saya juga menemukan kebiasaan Brian May mengharmonisasikan beberapa part gitar miliknya, baik dengan pedal efek harmoni maupun merekam dua part berbeda. John Deacon yang kadang memainkan keyboard, terkadang juga melakukannya.

Cita rasa megah pada lagu-lagu milik Queen dibangun dari harmonisasi baik vokal maupun instrumen. Sebagai band yang punya pengaruh bagi para juniornya, Queen memiliki patokan dasar dalam membuat lagu, harmoni.

Lantas?

Queen memang masih disebut sebagai salah satu musisi yang paling berpengaruh sampai saat ini. Ada banyak musisi yang mengaku bahwa Queen adalah influence mereka. Memang musik rock selalu berkembang. Band-band baru yang inovatif selalu muncul. Bahkan band-band baru rock di dekade ini amat susah dimasukkan ke dalam kotak-kotak aliran. Begitu pula pendengar musik rock yang sekarang yang tergolong antusias. Selain dimanjakan dengan kemudahan mencari, membeli atau sekedar ‘mendengarkan’ , kita juga punya media sosial sebagai pemangkas jarak dengan artis idola.

Sayangnya kita, para pendengar musik rock di era ini, kurang bijaksana dalam memilih sudut pandang dalam mengidolakan seorang figur. Kita sebenarnya bisa lebih bijaksana bila kita paling tidak bersedia meluangkan waktu sejenak, mendengarkan band-band masa lalu yang sudah terlabeli ‘bagus’ atau ‘legendaris’, Queen misalnya. Kekaguman kita nantinya tidak cuma akan didasari dari hal-hal kurang nyambung semacam good looking, fesyen yang trendi, atau pilihan celana dalam yang di posting di instagram. Kita-kan (harusnya) mendengarkan musik, bukannya menonton channel Fashion TV.

I’m burnin’ through the sky, yeah
Two hundred degrees
That’s why they call me Mister Fahrenheit
I’m trav’ling at the speed of light
I wanna make a supersonic man out of you
Queen- Don’t Stop Me Now
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.