Nirvana

Nevermind, album Nirvana

Melebar atau menyempit-kan Grunge?

Rencana untuk memperlebar telinga saya dengan mendengarkan musik Grunge sebenarnya sudah ada sejak 2006–2008. Namun agaknya saya males untuk sekedar ndownload mp3 atau nonton yutub, sehingga baru terealisasi beberapa minggu yang lalu. Mungkin ini disebabkan oleh anggapan saya bahwa Nirvana=Grunge.

Akan tetapi setelah berbincang di Facebook dengan seorang seorang penggila — sekaligus musisi — Grunge yakni Jck Koben, ternyata pandangan tersebut amat keliru. Menurutnya Nirvana hanyalah sebuah titik kecil dari genre yang banyak disebut sebagai reingkarnasi dari subgenre punk tersebut. Ia menambahkan, Nirvana adalah band paling mainstream di scene Grunge. Vonis-nya mungkin didasari oleh keberhasilan album Nirvana: Nevermind.

Nevermind, adalah salah satu album yang populer di dunia rock. Selain karena kehebatan Geffen Records (monster-label-nya USA) dalam me-laris-maniskan sebuah album, Nevermind dari berbagai sudut pandang memang paling ‘enak’ untuk dinikmati bila kita bandingkan dengan album-album Nirvana lain.

Nevermind sendiri dirilis sesudah Bleach, album pertama Nirvana. Menurut Jck Koben, Bleach punya karakter yang lebih agresif serta lebih kasar, dibandingkan dengan Nevermind.

Fenomena lebih ‘lembut-nya’ album iconic — paling populer milik sebuah band rock memang tidak hanya menjangkiti Nirvana saja.

Album self-titled-nya Metallica (atau yang oleh fansnya disebut sebagai Black Album) juga berpenyakit sama. Album terlaris Metallica tersebut amatlah berbeda dari segi ‘power’ dengan album pertama mereka, Kill em All, yang punya peran kuat dalam subgenre metal. Metallica atau Black Album, lebih easy listening dibandingkan dengan Kill em All yang disebut sebagai album trash metal pertama.

Kedua album tersebut (Nevermind dan Metallica/Black Album) bisa dibilang album yang ‘easy listening’. Mungkin saja sifat ‘easy listening’ itulah yang mempopulerkan ke-dua subgenre (Grunge dan Heavy/Trash Metal) *.

Mudhoney, menurut Jck Koben adalah salah satu band Grunge paling awal atau native-nya grunge. Setelah saya mendengarkan album Superfuzz Bigmuff Plus Early Singles-nya Mudhoney, saya memang sependapat dengan Jck Koben; Nevermind memang lebih ‘easy listening’.

Pondasi dasar dari musik grunge sebenarnya terletak pada kasarnya karakter sound yang dipilih. Ambillah contoh album Mudhoney Superfuzz Bigmuff Plus Early Singles. Album tersebut menonjolkan sisi kasarnya distorsi yang dihasilkan efek fuzz. Efek tersebut, dalam sejarah perkembangannya, memang identik dengan Jimi Hendrix . Namun dalam meramu formula musik grunge, Mudhoney justru menonjolkan sisi kasar dari efek tersebut, bukannya ‘melembutkan’ efek tersebut seperti yang Hendrix lakukan.

Selain lebih mengedepankan karakter sound yang ‘kasar’, Grunge secara umum, menurut Jck Koben juga ‘menghindari’ solo gitar indah tulit-tulit ala musik rock umum (khususnya yang berkarakter nge-blues).

Di album Nevermind, cita rasa ‘kasar’ milik grunge memang muncul, selain karena distorsi gitar Kurt Cobain, hal ini juga didukung oleh gebukan drum Dave Grohl yang powerful serta pilihan nada bass Krist Novoselic yang sinkron. Efek gitar Boss Ds-1 (berkarakter distorsi ‘kasar’) yang dipakai oleh Kurt di album ini menjadi pondasi dasar album ini. Selain itu, Kurt Cobain bukanlah seorang virtuoso gitar semacam solo artist Steve Vai atau Ritchie Blackmore-nya Deep Purple, sehingga solo-solo gitar di Nevermind tidaklah ‘mewah’ atau tulit-tulit.

Menurut saya pribadi, Nevermind adalah sebuah album grunge yang otentik. Selain cita rasa musiknya yang juga ‘kasar’, pendekatan Nirvana dalam menciptakan lagu-lagu dalam album ini juga boleh dibilang brilian.

Bila kita membandingkan Nevermind dengan Bleach, di Nevermind, Nirvana menghilangkan rasa ‘heavy metal’ pada musik grunge yang diusungnya dengan cara membuat riff-riff gitar yang lebih nge-punk. Hasil analis saya tersebut berdasar pada dua lagu di Nevermind, In a Bloom dan Stay Away, yang saya bandingkan dengan sebagian besar lagu-lagu mereka di album Bleach yang sound-nya (sedikit) mengarah ke heavy metal .

Populernya album Nevermind yang melewati batas-batas pemilihan musik berdasarkan subgenre mungkin adalah alasan mengapa Nevermind dianggap kelewat mainstream oleh para pecinta maupun pelaku musik grunge. Popularitas tersebut tercermin dari banyaknya orang yang kenal album ini, termasuk saya, selain para penggila grunge sejati.

Subgenre grunge, seperti yang saya sudah sebutkan di awal, sebenarnya terbantu’ oleh populernya Nevermind. Meledaknya Nevermind di pasaran, secara langsung mengangkat scene grunge ke permukaan.

Setelah mendengarkan berbagai band grunge diusulkan oleh teman saya, si Jck Koben tersebut, Grunge sendiri ternyata cukup bervariasi. Ada yang sisi heavy-nya menonjol seperti Silverchair, Catchy semacam The Smashing Pumpkin, Alice in Chain yang menurut saya agak mirip Nirvana, atau fuzzy-noisy layaknya Mudhoney atau Sonic Youth.

Setelah menjelajah ke alam grunge, saya memang setuju dengan pendapat Jck Koben mengenai Nevermind — Nirvana — yang hanya salah satu dari sekian banyaknya cita rasa grunge yang ada, dan kurang mewakili grunge secara keseluruhan.

Gaung Nevermind sangat sukar untuk dihindari, layaknya Metallica dengan album Metallica/Black Album-nya. Bagi banyak orang, kehadiran Nevermind identik dengan kehadiran grunge itu sendiri.

Nevermind memang mempersempit grunge yang ada di pendengar musik rock secara umum, sekaligus memperluas jangkauan pendengar subgenre tersebut.

Satu hal yang menurut saya harus kita akui, baik pecinta grunge fanatik atau bukan, bahwa Nevermind adalah sebuah album grunge yang classic dan susah ‘ditelan’ perubahan jaman serta selera.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.