Sosok yang Terus Dikonsumsi
Memuja Bintang Rock, Selera?

— Kita, sekumpulan anak kecil — susah dewasa — yang selalu mencari panutan “berekspresi” — yang meng-imitasi tokoh-tokoh yang dianggapnya benar, bijak, baik, idealis, cerdas, atau high-profil semacamnya
— kegiatan memuja bintang Rock mungkin adalah salah satu ajang pembuktian diri seorang manusia sebagai makhluk paling sempurna, yang harus eksis dan punya sisi intelek bila sedang beradu argumen dengan jenisnya.
Penyembah musik rock (sebenarnya berlaku juga dalam hampir semua jenis “pemuja”, termasuk pengidola, pengagum, penikmat, dan lain sebagainya — yang melacur pada hal apa saja yang mereka cintai dan geluti) seperti saya, tentu akan meradang-menerjang bila melihat ada pemuja lain yang mengagumi figur yang sama namun bertumpu pada titik tolak menurutnya berbeda atau tidak utuh. Sikap ini mungkin didasari oleh terusiknya kenyamanan eksklusifitas mengidolakan yang sudah berjalan sedemikian tenangnya. Bila penyembah musik rock yang menganggap dirinya pelacur sejati tersebut mau bijaksana dan dewasa, mungkin tidak ada kritik negatif, atau protes yang terlontar kepada penyembah lain yang ditudingnya cabe-cabean. Sebab yang dikedepankan adalah semangat perbedaan. Namun sebenarnya ada sisi asik (uyee,lalalala, preketek) yang hadir dalam duel pemujaan tersebut, dialog.
Karya seorang Rocker dengan fesyen-nya hidup berdampingan. Fesyen yang dimaksud di sini bukan hanya fesyen secara fisik yakni busana, namun juga fesyen nonfisik semisal wawancara sang artist dengan media, opini-opini yang ia lontarkan, gaya hidup yang ia lakoni, atau berbagai polah yang ia lakukan.
Berdampingannya kedua hal tersebut tentu saja bukanlah hal baru dalam konteks pemujaan. Beberapa pemuja penyair jempolan Indonesia, Chairil Anwar, yang saya kenal, mengaku mulai merokok ketika melihat foto sang idola yang sedang merokok.
Dalam kasus pemujaan bintang Rock, media memegang peranan yang amat penting dalam penyampaian citra sang idola kepada penggemar. Selain karya sang artist, media juga berfungsi sebagai jembatan sang artist dengan para penggemarnya. Keberadaan majalah, koran, televisi, dan media sosial adalah panggung lain bagi si artist untuk tampil.
Tanpa bermaksud membunuh citra informatik dan cita-cita obyektif media — apapun bentuknya, baik itu murni media pemberita maupun sekedar forum diskusi onlen yang dipunyai masyarakat,semisal Kaskus atau Youtube, media memancing otak anda agar dapat bekerja secara analitik, hasil akhirnya adalah kesan tertentu (yang bisa saja kesan tersebut memang sudah di atur sedemikian rupa). Menurut saya, kerja otak tersebut tidaklah sama dengan kerja otak (jiwa, atau rasa, ya okelah) anda ketika menikmati lagu si artist , menerima stimulus musiknya — atau sekedar larut dalam hingar bingar lagunya. Dalam proses mendengarkan karya tersebut, menurut saya, kita sebagai pemuja, punya ruang super privat nan eksklusif untuk bermandikan apresiasi, kesan, maupun pendapat. Bahkan seringkali kesan yang kita dapat dari aktifitas mendengarkan tersebut tidaklah sama dengan kesan yang kita dapat dari hasil kerja analitik yang dipicu oleh media.
Sebenarnya kedua kerja otak tersebut (mungkin atau bisa) berkesinambungan, apalagi yang namanya konteks nggambleh, wacana atau discourse mutlak adanya; mengingat mayoritas produk musik rock berbentuk musik berlirik — contoh mudahnya: Bob Marley; tanpa mengetahui latar belakang, atau kisah hidup Bob Marley, saya yakin anda akan susah menangkap maksud lirik-lirik lagu Bob.
Landasan mana yang harus digunakan? berita-berita yang termuat di situs berita online yang anda baca, deskripsi Youtube video yang anda tonton, atau opini gaya bebas semacam komentar para user Youtube atau murni analisis privat anda pada karyanya saja? Mana sih yang lebih……?(silahkan isi titik-titik tersebut dengan istilah yang paling pas menurut anda)
Bila kita memang bermaksud menjadi penikmat musik yang kritis, kita bisa berbicara tentang bagaimana estetisnya lagu-lagu yang artist idola buat, atau bagaimana hebanya sang bintang merangkai pola/komposisi musik atau lirik dalam lagunya. Namun bila kita bermaksud mencari sosok panutan, kita bisa mengamini quote-quote inspiratif si artist, atau menganalisa transkrip interview-nya, atau mungkin membeli buku biografi sang bintang.
Setelah mencoba mendekonstruksikan proses pemujaan bintang Rock tadi, ternyata saya malah minder pada mereka yang mengagumi orang-orang besar pembawa perubahan besar bagi dunia. Karl Marx misalnya. Bagi saya fesyen milik Karl Max terlihat lebih keren dan kenabian belgedhes ketimbang fesyen milik Guns N Roses. Sebab fesyen dominan milik Guns N Roses adalah berpikir sinis, fuck you, dan cocaine. Nampak biasa saja.
Namun pada dasarnya hal-hal berkenaan dengan pemujaan semacam ini sesungguhnya cuma lempar-melempar label yang berujung pada — ini selera saya — itu selera anda — Hmmmm.
ps: bukan bermaksud mandi istilah di depan umum, tulisan ini hanya penyambung dari tulisan ‘balasan’ milik saudari Nafilah seputar pengidolaan.