Dunia Marketing Kini

Jika ditanya apakah yang membuat dunia berputar begitu cepat 10 tahun terakhir? Jawabannya adalah Internet. Internet membuat segala hal berkembang begitu cepat. Semua orang kini mempunyai suara yang bisa didengar ke pelosok dunia. Semua orang juga bisa membuat panggungnya sendiri untuk unjuk gigi. Lantas apa yang bisa dimanfaatkan dengan kesempatan tersebut?

Kesempatan tersebut merupakan jalan pintas bagi dunia marketing. Seperti yang kita ketahui, marketing/pemasaran adalah sebuah praktik untuk mempromosikan dan menjual sebuah produk atau jasa melalui riset pasar dan proses iklan.

Sebelum era internet, praktik marketing hanya mengandalkan media-media mainstream seperti koran, majalah, radio, dan televisi. Media tersebut kemudian dikenal dengan istilah media above the line. Untuk mencari alternatif lain, pemasar mulai menawarkan produknya lewat event-event yang langsung mempertemukan mereka dengan audience. Event tersebut dikenal dengan istilah media below the line.

Kini internet menawarkan sebuah media baru dengan kesempatan seluas mungkin bagi seorang pemasar untuk menawarkan barangnya. Pemasar bisa menawarkan produknya dengan bantuan audio dan visual yang diracik dengan apik.

Dari perkembangan dunia marketing di era internet ada 5 trend yang menarik untuk kita simak bersama-sama.

1. User Generated Content

Seperti yang kita bahas sebelumnya, kehadiran internet membuat semua orang bisa berbicara dan membuat panggung bagi dirinya sendiri. Hal ini semakin berguling seperti bola salju dengan adanya sosia media. Dengan akses internet yang mudah didapat dan software editing audio visual yang semakin mudah untuk digunakan, semua orang sekarang bisa membuat konten masing-masing yang unik.

Source: http://www.irvinalioni.com/

Apakah kalian familiar dengan candaan “Youtube, Youtube, Youtube lebih dari TV?”. Sebuah lagu hip hop yang dibuat oleh para vlogger dengan maksud menyindir bahwa TV sudah sangat ketinggalan zaman dengan konten yang itu-itu saja. Vlog atau Video Log yang tengah populer di Indonesia ini memang menyuguhkan konten yang begitu beragam. Dari mulai tutorial hijab, aneka ragam resep masak, review gadget baru hingga keseharian para pembuat konten vlog itu sendiri.

Fenomena user generated content terutama vlog ini adalah sebuah kesempatan bagi brand atau produk yang ingin beriklan. Kenapa? Karena audience dari vlog sudah sangat terfilter berdasarkan keunikan para vlogger itu sendiri. Vlogger dengan konten review gadget sudah pasti mempunyai audience yang antusias dengan perkembangan gadget sedangkan vlogger dengan konten tutorial hijab sudah pasti para wanita muslim dengan kebutuhan fashion khusus mereka, dan begitu seterusnya.

Hal ini bisa dimanfaatkan oleh para brand untuk memasarkan produknya lewat endorsement kepada vlogger ini. Hal ini membuat brand berkomunikasi dengan audience-nya secara langsung tanpa terpapar terlalu banyak distraksi dari audience lainnya. Dengan demikian audience bisa menerima sebuah produk dengan mudah.

2. Personalization.

Era internet juga berarti era dimana sebuah personalisasi menjadi sangat penting. Semua orang berlomba untuk mempunyai ciri khas untuk bisa menonjol diantara komunitasnya. Ini yang mendasari brand-brand besar untuk membuat produk yang menyasar ceruk-ceruk pasar yang sebelumnya tidak tersentuh.

Nike adalah salah satu brand yang bisa dibilang menjadi pioneer dalam urusan personalisasi. Nike memberikan kebebasan pembeli untuk menentukan warna sepatu yang mereka inginkan sendiri melalui program NikeID.

Source: https://www.behance.net

Trend ini membuat persaingan produk beralih dari melayani kebutuhan audience yang luas menjadi melayani kebutuhan ceruk yang sangat spesifik. Tentu saja trend ini mempunyai resiko yang harus siap dihadapi oleh pemasar. Resiko yang akan dihadapi adalah “love-hate situation” dari konsumen. Akan ada konsumen yang sangat menyukai sebuah produk karena tepat guna sesuai keinginan mereka dan ada yang membenci sebuah produk karena merasa produk itu sama sekali tidak cocok untuk mereka.

3. Immersive Factor.

Internet juga mendorong perkembangan teknologi imersif yang mengaburkan batas virtual dan realita. Kendala ruang dan waktu sekarang bisa dibantu oleh teknologi virtual reality. Teknologi tersebut bisa menghadirkan materi virtual ke ruang dan waktu dimanapun anda berada.

Tak perlu cemas saat ingin mencoba banyak sepatu.

Selain itu, virtual reality bisa mengajak audience untuk merasakan hal yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Dengan begitu audience dengan mudah menerima informasi dari sebuah produk.

Mencoba sepatu hiking paling cocok memang saat hiking.

Jika anda merasa teknologi VR terlalu rumit dan perlu effort teknis yang cukup besar coba tengok apa yang Dunkin Donut lakukan untuk mengingatkan audience untuk selalu membeli produknya.

Saat semua indera dijejali nostalgia.

4. Create conversation or Ride the Wave

Dan yang paling penting di era Internet ini adalah untuk selalu hadir dalam percakapan audience. Netizen selalu mempunyai topik yang dibahas setiap harinya. Tak pernah habis dan selalu ada hal baru yang dibahas. Terkadang topik tersebut sangat sensitif dan menyangkut suatu hal yang besar. Sebagai pemasar, rasanya kita harus selalu terdepan, bijak dan pandai dalam menyikapi percakapan ini.

Sikap Orea terhadap kampanye LGBT yang sempat ramai beberapa waktu lalu.

Lihat apa yang Go-jek lakukan saat kejadian bom Sarinah di Jakarta beberapa waktu lalu. Mereka memberikan layanan gratis sebagai sarana evakuasi masyarakat yang berada dekat pada tempat kejadian. Sebuah reaksi yang cepat dengan tujuan yang baik pula, namun masih terukur sebagai sebuah praktik pemasaran.

Source: http://bali.tribunnews.com/

Namun selalu berhati-hati saat anda akan ride the wave tidak sedikit brand yang salah mengambil sikap dan berujung menelan pil pahit karena bermain diarea yang sensitif.

Nah, dalam berbagai macam trend dan media untuk beriklan di era internet yang sudah kita bahas di atas, tetaplah ingat untuk selalu menggali insight audience sampai batas yang paling dalam terlebih dahulu. Di era internet ini, semua hal yang dihasilkan bisa diukur dengan angka yang eksak. Seringkali, angka yang ingin dicapai ini mengaburkan tujuan sebenarnya kita untuk beriklan yaitu mengomunikasikan produknya dengan baik kepada audience. Media beriklan yang hebat tidak akan efisien jika tidak ditunjang dengan insight audience yang dalam.