The brain behind some of the most progressive fashion enterprises in Indonesia

Meet our COO, Lydia Hartanto

MENGINTIP profil LinkedIn kepunyaan Lydia Hartanto, bisa disimpulkan bahwa ia adalah seorang wanita yang amat sibuk. Bulan April lalu, ia dan partner Dennis Keller baru saja meresmikan Roomoomo, sebuah online premium outlet yang menawarkan karya fashion designer ternama di Indonesia dan Asia Tenggara dengan diskon besar-besaran.

Pada waktu yang sama, ia juga masih menjalani kesibukan sebagai CEO di lini busana Peggy Hartanto, posisi yang menjadi batu loncatannya ke dunia fashion. Keterlibatan Lydia dengan label kontemporer sang adik bermula saat Peggy kembali ke Surabaya setelah menyelesaikan studinya di Ra es College of Design and Commerce di Sydney.

“Pas si Peggy balik, dia pengen bikin ready-to-wear (RTW). at’s actually her passion. Tapi, RTW masih belum umum di Surabaya waktu itu. Beruntungnya, Peggy kemudian ditawarin untuk show di Jakarta Fashion Week pada November 2012. Responnya bagus banget. Ada stylist yang langsung tertarik dengan baju kita,” kenangnya.

Setelah JFW 2012, tak dibu- tuhkan waktu lama bagi label yang berbasis di Surabaya ini untuk mendandani artis Hollywood macam Jennifer Jason Leigh, JLo, dan Gwen Stefani. Apa trik Lydia dalam meluncurkan label Peggy Hartanto ke ranah mode internasional?


“Waktu memulai PH, boleh dibilang saya belum tahu apa- apa soal fashion karena saya itu lulusan teknik industri. Tapi, seusai JFW, saya coba kirimin foto koleksi PH ke media luar. Petty, adik saya yang satu lagi, bantu bikin branding, terus urus media sosial dan PR. Dan ternyata feedback-nya lumayan bagus. Pokoknya kita bertiga benar-benar belajar dari nol,” jawabnya tersenyum.

Empat tahun kemudian, pengaruh label PH terhadap tren fashion negeri dapat terlihat dari aksen cutout yang kini kerap menghiasi aneka atasan dan gaun. Tak jarang juga desain Peggy Hartanto lantas ditiru dan kemudian dipasarkan dengan harga yang cukup tinggi.

Tanggap Lydia, ”Rasanya frustasi melihat desain Peggy dijiplak begituan karena creative process di Peggy Hartanto itu panjang. Peggy emang desainernya, tapi untuk menyatukan sebuah koleksi yang punya nilai
jual dan tetap sesuai dengan estetika label PH itu sendiri butuh kerja sama dari saya, Peggy, dan Petty. Hasil tiruan ini terkadang dijual mahal pula. Mirisnya lagi bagi para pembeli, karena mereka enggak tahu kalau desain dari baju yang dibeli itu ternyata adalah hasil imitasi.”


Selain Peggy Hartanto, Lydia dan kedua adik perempuan- nya turut berkolaborasi dengan beberapa fashion designer ibu kota untuk membuka butik multi-label bernama Ara Jakarta. “Soalnya fashion label di Indonesia selama ini belum mendapat tempat yang diakui secara cukup. Kalau di department store, selalu brand luar yang lebih di-highlight. Kita ingin membangun sebuah tempat yang bisa merepresentasikan kualitas local designer yang tak kalah dengan designer luar,” jelasnya.

Belum setahun Ara Jakarta berjalan, Lydia sudah merambah lagi ke bidang online retailer lewat Roomoomo.


“Roomoomo terlahir dari pengalaman saya di Peggy Hartanto dan Ara Jakarta sebagai jawaban atas perubahan musim fashion yang begitu cepat. Di dunia fashion, dalam setahun ada 4 seasons dan 2 big seasons dan para desainer lokal yang baru memulai bisnisnya tetap saja harus mengeluarkan karya baru, ‘kan. Nah, mau dikemanain barang-barang dari koleksi yang sudah lewat? Jadi, Roomoomo adalah tempat bagi mereka untuk menjual past collections mereka,” terangnya.

Roomoomo menargetkan pasar yang berbeda dengan Ara Jakarta, yaitu mereka yang belum familiar dengan
desainer Indonesia, dengan gimmick diskon luar biasa menggiurkan — hingga 70%.
“Kami harap setelah para buyer coba, terus suka dan sadar kalau karya desainer lokal juga bagus-bagus, mereka akhirnya jadi pelanggan setia desainer lokal tersebut, “ tambahnya.

Lewat Roomoomo, Lydia ingin memperkenalkan para local designers ke market yang lebih luas lagi. “Setelah Surabaya, kita bawa Roomoomo ke Medan. Soalnya banyak orang Medan yang belanja
di Peggy Hartanto dan Ara Jakarta juga,” tutupnya.

This article was originally written by and published in Aplaus Magazine and republished on select by ROOMOOMO

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.