Belajar dari Kepulangan


Bukalah pikiran. Setelah membaca tulisan ini mungkin anda bisa saja membenci saya. Saya tidak bermaksud menjelekkan atau membuat stereotype.

Tradisi mudik selalu diterapkan keluarga saya setiap tahun. Sejak keluarga saya menetap di Kota Bandung maka mudik selalu melalui jalur darat. Terdengar melelahkan karena memang kenyataannya begitu. Ditambah lagi saya mudah sekali parno. Adegan-adegan di film Final Destination dan berita kecelakaan selama perjalanan mudik menghantui. Agar tidak dijadikan beban saya anggap saja mudik ini traveling karena selain jalan-jalan saya juga belajar banyak.

Perjalanan mudik beberapa tahun belakang ini selalu membuat saya banyak berpikir. Pikiran yang menghantui itu berawal dari tahun 2012. Sebutsaya sombong, saya pernah ditawari lalu menjadi wakil dari Kota Bandung pada acara International Leadership Academy 2012 di Fort Worth, Texas, Amerika Serikat. Pada acara itu saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara dan berbagai ras yang mewakili seluruh belahan dunia. Saya sempat merasa minder dan malu tapi justru mereka yang memberi banyak pelajaran pada saya. Pelajaran tersebut sangat sederhana namun sangat (kalau boleh saya akan menulis seratus kata sangat) berarti. Beberapa pelajaran tersebut akan saya sangkutpautkan dengan perjalanan mudik saya.

Pertama mari mulai dari budaya mengantre. Saat itu saya sedang mengantre toilet di salah satu rest area. Antrean tersebut cukup panjang karena toilet yang tersedia hanya satu. Giliran saya untuk menyelesaikan ‘tugas’ saya di balik bilik tersebut hanya tersisa satu orang lagi setelah saya menunggu hampir setengah jam hingga akhirnya seorang wanita sehat berumur sekitar empat puluh akhir datang dengan rusuh merusak antrean sambil berkata, “Neng, punten, neng, Ibu duluan masuk, ya.” Tentu saya kaget. Beliau melaui saya dan orang di depan saya lalu menatap muka kami berdua seolah berkata, “Saya mau masuk duluan!” Kami hanya pasrah lalu membiarkan ibu tersebut masuk dan ternyata beliau cukup lama di dalam toilet. Setidaknya sebelumnya beliau sempat mengatakan ‘punten’. Kalau mau membandingkan, tentu saja antrean di Fort Worth sangat berbeda; tidak ada saling serobot ataupun ‘titip-titipan’ antre.

Kedua saya lanjutkan dengan budaya berlalu lintas. Dalam bermudik, lancarnya lalu lintas menjadi salah satu faktor yang sangat besar. Bayangkan saja kalau semua kendaraan bermotor berjalan di lajur yang sesuai, kendaraan roda dua ada di lajur kiri, kendaraan yang ingin mendahului ada di lajur kanan, semua pengemudi taat pada rambu lalu lintas, dan tidak ada kendaraan yang menyalip tiba-tiba pasti kecelakaan dan kemacetan akan minim terjadi. Selain itu saat sedang terjadi kemacetan saya kerap melihat orang di dalam mobil merokok dan membuang sampah sembarangan dengan enaknya!

Keluarga angkat saya di Fort Worth selalu menyuruh saya agar memakai sabuk pengaman meskipun duduk di kursi belakang, ya karena begitulah semestinya. Yang saya heran mengapa hal tersebut tidak kita terapkan juga di Indonesia? Bukankah akan lebih aman? Lalu saya juga pernah bertanya kepada ibu angkat saya saat sedang mengemudi mengapa ia mengambil jalur yang macet dan mengapa tidak menyalip saja. Beliau menjawab secara sarkastik, “Maybe you only can do that in Indonesia.” Saya tidak merasa tersinggung karena ia benar, hal tersebut justru tidak menyebabkan kemacetan.

Ketiga saya lihat dari sisi kebiasaan kebersihan. Orang Indonesia itu banyak, bahagia, dan sederhana maka hobi orang Indonesia adalah berkumpul. Saat mudik kemarin saya pergi ke suatu tempat wisata dan melihat banyak perkumpulan keluarga yang berkumpul menggelar tikar sambil makan bersama. Jujur saya senang melihatnya tapi yang disayangkan adalah sampah bekas makanan mereka menumpuk dan dibiarkan begitu saja. Ayolah apa susahnya membuangnya ke tempat sampah?

Saat di Fort Worth saya diajarkan untuk membuang sendiri bekas makanan di restoran ayam goreng cepat saji dan saya terapkan hal itu di Indonesia. Tapi nyatanya orang Indonesia masih sedikit yang melakukan kebiasaan tersebut. Contohnya seperti saat keluarga saya memutuskan untuk makan di suatu restoran ayam goreng cepat saji ketika kehabisan bakmi di Yogyakarta. Saya melihat meja tanpa pelanggan namun sampah bekas makanan dibiarkansaja di atas meja. Mungkin berharap agar ada petugas yang membersihkan sampah mereka.

Saya senang memperhatikan kebiasaan orang; membuat saya selalu ingin membandingkan kebiasaan orang Indonesia dengan kebiasaan negara maju. Sebut lagi saya sombong lah, tidak cinta Indonesia lah, atau apa lah. Tidak apa. Toh, maksud saya sebenarnya baik. Saya bisa belajar memahami kekurangan sehingga kalau bisa pun saya ingin mengajarkan yang benar. Semoga omongan saya pun saya lakukan, tidak hanya sekedar tuntutan tugas.

Khairana Tiardi — 19914138, 15414043