Belajar Itu Selamanya
Hal ini selalu saya yakini kebenarannya, dan meski menurut orang-orang tidak ada yang pasti di dunia ini, hal ini saya percayai kepastiannya. Menurut saya belajar itu tidak dibatasi oleh usia maupun waktu.
Pembelajaran bisa datang dari mana saja. Tidak hanya dari orang-orang jenius dan berintelektual di atas sana, tapi kita juga bisa mendapat pelajaran dari kawan di samping kita, seperti juga Isaac Newton yang mendapat pembelajarannya dari sebuah apel yang jatuh dari pohonnya.
Pembelajaran juga bisa datang di saat yang paling tidak kita duga, seperti misalnya di saat kita tengah asyik liburan.
Tidur, begadang, dan bersantai ria merupakan hal yang biasa insan muda lakukan dalam bentuk pelampiasan selama musim liburan. Belajar bukanlah hal yang lazim berada di antaranya. Tapi dalam segala aktivitas yang ingin dilakukannya, seorang insan muda harus mengatur strategi bagaimana aktivitas-aktivitas tersebut dapat dilakukan dalam rentang waktu beberapa minggu liburan. Selain itu, biasanya seorang pelajar seperti saya sendiri memiliki tugas khusus yang diberikan selama liburan. Maka dari itu, seorang insan muda dapat belajar untuk mengatur prioritas dan manajemen waktunya sewaktu liburan.
Jadikan waktu rekanmu, bukan musuhmu!
Hal ini yang saya pelajari dari liburan kali ini, karena liburan kali ini dipenuhi oleh tugas-tugas dan acara-acara silaturahmi keluarga. Di antara riweuhnya acara keluarga yang mengharuskan bolak-balik ke luar kota, saya juga harus melaksanakan tugas yang saya sudah komit untuk selesai. Maka tugas yang ada harus dicicil supaya tidak numpuk di akhir liburan.
Selain prioritas dan manajemen waktu, kebetulan saya juga mendapat pembelajaran lagi dari sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari negara Indonesia tercinta.
Beberapa hari setelah lebaran, kebetulan saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke negara tetangga (sebrang serong) kita, yaitu negara Singapura. Seperti yang sudah diketahui bahwa Singapura termasuk dalam salah satu negara maju di dunia ini. Singapura sendiri terkenal akan peraturan-peraturannya yang ketat, apalagi peraturan tentang kebersihannya. Peraturan dilarang membuang sampah sembarangan, ataupun makan dan minum di tempat publik dapat dilihat di mana-mana. Dendanya pun tidak tanggung-tanggung, sebesar 500 dollar Singapura untuk kasus pembuangan sampah sembarangan, atau sekitar 5 juta Rupiah.
Kemudian ketika saya amati, warganya juga begitu tertib dalam menaati peraturan-peraturan tersebut. Apakah karena pengaruh dari peraturannya yang diterapkan dengan baik atau karena warga sudah memiliki kesadaran yang tinggi akan kebersihan lingkungan saya mulai bertanya-tanya. Akhirnya setelah mendapat pengalaman beberapa hari di sana, saya pun pulang ke Indonesia. Begitu saya sampai di Jakarta, saya kaget ketika orang tua saya tiba-tiba menyodorkan sebuah buku yang di atasnya tercetak huruf kapital besar, bertuliskan: One Man’s View of The World, Lee Kuan Yew.

Lee Kuan Yew? Siapa gerangan bapak yang wajahnya terpampang di cover buku ini? Saya pun bertanya-tanya.
“Baca deh, bagus isinya. Dia itu perdana menteri pertama Singapura.” Jelas orang tua saya. Wah! Saya pun langsung melihat-lihat buku tersebut, dan langsung kagum dengan sanjungan-sanjungan tiada henti terhadap perdana menteri pertama Singapura ini dari berbagai petinggi-petinggi di dunia.
Jadi inilah Lee Kuan Yew, perdana menteri pertama Singapura yang telah berjasa sangat besar dengan menjadikan Singapura negara seperti sekarang ini. Kepintarannya dalam menganalisis keadaan dunia ke depannya telah membuat berbagai pemimpin negara berdecak kagum. Bagaimana tidak? Singapura yang dimulai sebagai negara yang memiliki lahan minim dan sumber daya manusia terbatas, dikelolanya dengan sedemikian rupa hingga menjadi negara pariwisata dan perdagangan yang sukses di dunia.
Meski baru sempat membaca halaman-halaman awal dari buku tersebut, tapi saya sudah terkagum sendiri dan tidak sabar untuk menghabiskan keseluruhan dari buku tersebut.
Saya mohon maaf jika ada salah kata, karena saya juga masih senantiasa belajar.
Karena belajar itu selamanya.
Khairissa Nabila Adriani — 19914207 / 15414016