Cerita Liburan
Saya ini sejak lahir tinggal di kota Bandung, begitu pula dengan kedua orang tua saya. Rumah nenek saja dapat ditempuh dengan menyeberang jalan, sehingga kami tidak memiliki kampung halaman untuk dikunjungi pada saat mudik. Setiap tahun kami memang tidak pernah mudik, dan hingga di usia yang hampir 20 ini saya masih bertanya-tanya bagaimana rasanya bermacet ria saat mudik. Bisa dibayangkan ‘kan betapa ‘garing’-nya liburan saya?
Untuk meminimalisasi ke-‘garing’-an liburan ini, saya dan beberapa sepupu saya berinisiatif mengadakan acara menginap di rumah nenek. Walaupun sederhana tapi saya sangat merasakan esensi dari acara menginap ini. Quality time!
Kami berempat terus berbincang sepanjang malam, mulai dari topik sederhana seperti cinta hingga topik-topik yang berat seperti harga minyak yang terus turun. “Nanti pokoknya suami/istri kita harus punya kampung halaman ya biar nggak garing, biar bisa mudik!” kami semua terbahak-bahak tapi diam-diam mengaminkan statement konyol itu.
Inilah yang saya butuhkan sejak berbulan-bulan kemarin!
Saya akui bahwa saya ini anak tunggal yang kadang-kadang memang butuh kakak atau adik untuk tempat curhat. Ternyata menyibukkan diri itu tidak cukup ampuh untuk mengangkat beban pikiran, ya? Atau malah hanya menambah-nambah beban pikiran juga? Senjata paling ampuh itu memang dengan bercerita, entah dalam bentuk lisan atau tulisan. Mungkin saya harus berlatih untuk bercerita mulai saat ini, terutama bercerita kepada diri sendiri, dalam bentuk tulisan tentunya karena saya tidak bisa seenaknya mendatangi sepupu-sepupu saya untuk sekadar curhat.
Cerita liburan ini memang terlihat tidak menarik karena tidak ada satupun nama tempat keren yang disebutkan. Ah, yang penting aku senang.
Maudina Wilwatikta / 19914002 / 15414068