Cirebon In Charity, Beramal dan Berbagi


Selasa, 7 Juli 2015, gemuruh rangkaian gerbong kereta api Ciremai ekspres terus memecah keheningan. Berkilo-kilometer telah ditempuh oleh kereta ini hingga membuat saya semakin dekat dengan daerah kelahiran saya, Cirebon. Cirebon merupakan sebuah daerah pesisir di pantai utara Jawa Barat. Sinar matahari terasa begitu terik membakar kulit, sungguh sambutan yang hangat. Rasa bahagia tak dapat saya bendung ketika kembali menginjakkan kaki di Cirebon, menikmati liburan di kota kelahiran.

Banyak hal berkesan yang saya lalui selama berlibur. Menikmati dekap hangat keluarga dan suasana rumah yang amat dirindukan merupakan satu hal yang pasti. Namun, liburan kali ini ada hal lain yang menyulut semangat saya. Saya bersama teman-teman saya yang berkuliah di ITB mendapatkan sebuah amanah yang mulia. Kami mendapatkan amanah untuk mengurus sebuah organisasi non profit yang bergerak di bidang pendidikan yaitu Cirebon In Charity atau biasa disebut CIC. CIC bermula dari SIC (Smansa In Charity), sebuah gerakan yang dilakukan oleh para alumni SMAN 1 Cirebon untuk membantu adik-adik di SMA tersebut di bidang pendidikan. SMAN 1 Cirebon sendiri merupakan sebuah sekolah menengah atas yang berlokasi di pusat kota yang notabene para siswanya berasal dari kalangan yang berada. Oleh karena itu, sudah banyak di antara mereka yang mengikuti bimbingan belajar di luar jam sekolah. Melihat hal ini, akhirnya pengurus memutuskan untuk melebarkan sayapnya. SIC berubah menjadi CIC. CIC mempunyai dua program, yaitu program bimbingan setiap bulan dan program intensif SBMPTN selama satu minggu. Peserta bimbingan CIC adalah para siswa SMA kelas 10, 11, dan 12 IPA yang lolos seleksi sebanyak 35 orang. Seleksi yang dilakukan bukanlah ujian mengerjakan soal-soal, akan tetapi seleksi ranking di sekolah, essay, dan keadaan ekonomi. Seleksi dengan cara seperti ini bertujuan untuk melihat seberapa besar motivasi siswa untuk belajar dan komitmen dalam mengikuti bimbingan tersebut. Berbeda dengan program bimbingan setiap bulan, program intensif persiapan SBMPTN terbuka untuk umum, dengan kata lain tidak memerlukan tahap penyeleksian. Kedua program tersebut tidak dipungut biaya apapun, justru teman-teman peserta CIC mendapatkan beasiswa dan uang pengganti ongkos.

Sumber: @CrbnInCharity, diakses pada 26 Juli 2015 pukul 20.15 WIB





Saya kembali teringat pada akhir Desember 2013 hingga awal tahun 2014 saat saya mengikuti intensif persiapan SBMPTN di CIC. Waktu yang singkat tersebut memang bukan ditujukan untuk dapat menguasai semua materi. Akan tetapi, waktu yang singkat tersebut hanyalah sebagai penyulut semangat untuk berusaha dan berjuang mempersiapkan diri menaklukkan SBMPTN. Saya kagum kepada teman-teman saya yang datang dari rumah mereka yang berkilo-kilometer jauhnya dari tempat bimbingan Di antara mereka bahkan ada yang harus menggunakan angkutan umum sebanyak tiga kali. Di sini saya melihat bukti nyata dampak dari sebuah motivasi dan semangat yang dimiliki oleh seseorang. Pada akhirnya, kenyataan tidak akan mengkhianati usaha. Kesungguhan adalah sebuah kemauan kuat yang mampu menjadi penggerak dalam diri seseorang.

Pada tahun 2015 ini tidak kurang dari lima orang diterima di ITB, selain itu diterima di IPB, Unpad, UPI, dan PTN-PTN lainnya, ada pula yang diterima di PTS. Kini saya bersama teman-teman saya telah diberi amanah untuk terus menjaga geliat CIC. CIC tercipta sebagai wadah untuk belajar mengenai banyak hal. Cirebon In Charity, beramal dan berbagi.

Sumber: @CrbnInCharity, diakses pada 26 Juli 2015 pukul 20.15 WIB




Umayah — 19914146