Déjà vu
Lebaran tinggal sehari lagi dan aku sudah berdada di rumah nenekku, nenekku yang sudah sendiri di tinggal sang suami tercinta pada Februari 2013 kemarin. Aku berangkat kesana dengan sepeda bermesin yang sudah lama menemaniku dari tahun 2011 silam, hanya saja sepeda bermesinku yang sekarang sudah tidak seperti dulu lagi, mulai dari performanya yang makin melemah serta shock breaker yang sudah tidak empuk seperti baru keluar dari showroom. Waktu sudah menunjukan pukul 17.00 disaat aku melihat kearah jam dinding di rumah nenekku yang berada di pusat kota Cianjur itu, suasana lebaran disana tidak jauh beda dengan suasana lebaran tahun-tahun yang lalu, yang membedakan hanyalah uang ampao yang semakin menipis seiring bertambahnya usia karna tergerus oleh waktu.
Hari Jum’at pun tiba, aku bangun dan kemudian disusul dengan kegiatan bersih-bersih badan terpagi di tahun 2015 ini, ya aku biasa mandi sore atau malam dan ga pernah lebih dari satu kali. Even besar hari itu telah dilalui dan saatnyaaaaa!!! makan!!! yap ketupat dihidangkan dengan opor ayam disertai rendang dan juga teri pedas buatan wanita-wanita hebat yang ada di keluargaku ini memang tokcer lah. Ting! tong! bel pun berbunyi bukan karena ada petugas PLN untuk memeriksa meteran listrik tetapi tetangga-tetangga yang bertempat tinggal di sekitar rumah nenekku yang datang untuk halal bihalal. Mereka datang selain untuk halal bihalal pasti juga diselingi niat untuk memakan kue lebaran yang sudah disediakkan di atas meja ruang tamu nenekku, terlihat hanya baru beberapa keluarga toples kue lebaran itu sudah tidak bernyawa lagi seluruh isi jiwanya telah direnggut oleh tetangga nenekku sendiri, sungguh malang nasib kue lebaran itu ya dibuat setahun sekali dan hanya selang sehari setelah dibuat langsung lenyap meninggalkan dunia yang sudah mulai menunjukan tanda-tanda sakit.
Selang 2 hari setelah lebaran aku dan juga seluruh orang yang tinggal di Cimahi-pun pamit untuk meninggalkan bangunan warisan ibu dari nenekku itu. Aku pulang masih menggunakan sepeda bermesinku yang kupakai saat aku pergi kerumah nenekku, belum berganti, masih tetap yang dulu, yang selalu menemaniku kemanapun ku pergi. Setibanya dirumah setelah melalui 2 jam perjalanan karena macetnya jalanan, aku pun langsung tidur, tidak memikirkan apapun, apalagi memikirkan masa depan walaupun itu semakin dekat dan aku gugup menghadapinya. Jam menunjukan pukul 08.00 sembari aku mengecheck handphone-ku, kukira Lily Collins mengirimkan SMS-nya untuk menanyai kabarku, dan bertanya apakah aku punya waktu luang untuk mengajaknya jalan pada malam hari? ahsudahlaahhh itu cuma khayalan yang ada hanya operator cellular yang memberikan promo internetan. Hari berjalan seperti biasa tak ada yang berubah, kukira ini Déjà vu ternyata ia.
Kesan lebaran dan liburan tahun ini sama saja seperti tahun kemarin tak ada yang membuatku spesial, mungkin ini Déjà vu dan ternyata ia ini Déjà vu.