Jadi kapan kita kemana, Pa?
Aku mengartikan kata mudik berbeda dengan yang orang lain artikan. Mudik bukan masalah pergi ke sebuah kampung halaman untuk bersilaturahmi, bagiku mudik adalah berkumpul dengan orang yang kita sayangi. Memang sensasi pergi ke kampung halaman sekaligus liburan itu sangat menyenangkan. Namun tidak semua orang dapat seberuntung itu untuk melakukan mudik sekaligus liburan bersama keluarganya.
15 Juli 2015. Satu kata; bahagia. Hari yang ditunggu-tunggu oleh tiga perempuan bersaudara ini akhirnya datang. Ayah mereka pulang dari kota yang mempunyai makanan khas serba santan, Padang. Setelah hampir tiga bulan ayah mereka tidak pulang, hari ini keluarga kecil itu dapat berkumpul dan berbuka puasa bersama untuk yang pertama kalinya. Puasa tahun ini memang sangat berbeda dari puasa-puasa di tahun sebelumnya. Tahun ini mereka hanya dapat berbuka puasa bersama dua kali dan sahur bersama satu kali karena ternyata hari raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 17 Juli 2015. Namun selalu ada yang sama di lebaran setiap tahunnya. Keluarga ini sangat jarang mudik. Padahal mereka berasal dari kota pahlawan, Surabaya. Orang tua dari tiga perempuan bersaudara ini adalah orang tua yang berkarir. Betapa sibuknya mereka hingga untuk mengambil cuti pun sangat sulit bagi mereka. Sehingga tiga perempuan bersaudara ini tinggal dirumah bersama nenek kakeknya. Karena nenek kakek mereka tinggal dirumah keluarga inilah mereka jadi semakin jarang mudik. Justru rumah mereka lah yang menjadi tempat mudik.
Di lebaran setiap tahunnya, rumah mereka selalu menjadi tempat penginapan cucu-cucu nenek kakek. Ramai bukan? Tapi… mereka juga bosan. Bosan dengan kota Bandung dan semua hal yang ada di dalamnya. Sudah jarang mudik, ditambah jarang liburan. Mereka tidak tega meninggalkan nenek kakeknya tinggal sendirian di rumah. Dan tidak mungkin bagi mereka membawa nenek kakek untuk pergi jalan-jalan jauh karena usia yang sudah mengkhawatirkan. Tak heran tiga perempuan bersaudara ini sering meminta untuk liburan tapi apa daya ayah ibu mereka pun sibuk dengan pekerjaannya. Liburan bersama teman-teman pun tidak pernah diizinkan oleh orang tua mereka. Mungkin karena anaknya perempuan semua.
Empat hari setelah lebaran, setelah cucu-cucu nenek kakek kembali ke kota asal mereka, tanpa rencana yang jelas ayah dari tiga perempuan bersaudara ini mengajak mereka untuk liburan di Jakarta. “Hmm.. Jakarta lagi? Ga bisa lebih jauh ya?” ucap si bungsu dalam hati. Karena orang tua mereka sudah rela mengambil cuti tiga hari, akhirnya tiga perempuan bersaudara ini setuju untuk pergi ke Jakarta. Empat hari tiga malam yang berharga. Keluarga kecil ini berliburan singkat sekaligus bersilaturahmi di Jakarta. Bagi mereka, bukan masalah jauh tidaknya pergi mudik tetapi kebersamaannya. Walaupun keluarga kecil ini tidak pernah liburan, bahkan untuk berkunjung ke kota kelahiran mereka pun terakhir kali mereka ke Surabaya itu tiga tahun yang lalu dan itu pun setelah lima tahun yang lalunya lagi mereka baru berkunjung kesana. Kadang kedengarannya menyedihkan tidak pernah liburan bersama keluarga, tetapi bukankah manusia diciptakan untuk selalu mengucap rasa syukur? Mungkin saja di luar sana ada keluarga yang tidak seberuntung mereka atau bahkan tidak dapat merasakan nikmatnya berkumpul bersama keluarga.
Dan rasa syukur lainnya ada pada si anak tengah dari tiga perempuan bersaudara ini, karena pada lebaran tahun ini akhirnya ia dapat pergi ke pantai (Pantai Ancol) untuk pertama kalinya.
Sekian.
Erviana F/15414004