Kami, yang Selalu Berusaha Menjadi Terbaik

Dulu. Kami adalah keluarga besar dengan 213 anggota. Sangat banyak memang, untuk ukuran sebuah keluarga. Kami datang dari berbagai daerah di negeri ini, yang lalu memutuskan untuk berkumpul bersama di sini. Mungkin beberapa dari kami, baru pertama kali menginjakan kaki di kota sejuta taman ini, mungkin juga tidak. Dalam suasana hati yang antah berantah kami mengadakan pertemuan akbar pertama di salah satu aula tempat ibadah. Di situlah, mulai terngiang wajah-wajah baru yang nantinya akan kami temui setiap waktu.

Dulu. Suka, duka, manis, dan pahit memang sudah kami rasakan bersama. Banyak orang yang lebih tua mengatakan masa dan tahapan kami adalah tahap yang paling bahagia. Masa dimana kami lebih banyak bermain dibanding belajar. Sekaligus, masa dimana kami belum mengerti sepenuhnya akan apakah yang terbaik untuk kami kedepannya. Yaa.. itu semua memang dulu.

Spontan perasaan yang antah berantah kami rasakan kembali, ketika kami harus berpisah dengan 106 anggota yang lain. Mereka berusaha berlari untuk mencapai “titik sukses” dengan jalan yang berbeda dengan kami. Banyak diantara kami yang gembira, namun juga tak sedikit yang sedih. Gembira dan sedih yang kembali tak terungkap secara pasti.

Kini. Perkenalkan kami adalah keluarga dengan 107 anggota. Kami berusaha berlari mencapai “titik sukses” dengan jalan yang kami percaya memang terbaik bagi kami, “Perencanaan Wilayah dan Kota”. Jalan ini akan menjadikan kami mampu memberikan perkripsi bidang dalam ranah publik. Dengan semangat warna merah marun, kami masing-masing mulai membuka wawasan dan isu-isu serta tak lupa mencari solusi untuk masalah wilayah dan kota.

Kini. Perkenalkan kami adalah perwujudan dari sosok analitis yang kritis. Kami memakai mahkota dari untaian bulu burung merak yang beragam. Melambangkan kami yang terdiri dari berbagai macam sifat dan individu yang berbeda namun tersusun harmonis. Di samping mahkota kami terdapat api yang terus menyala tak ubahnya semangat kami yang tak pernah padam. Kami yakin bahwa peradaban di negeri bahkan dunia ini tak lepas dari tindak tanduk kami. Kami lah yang selalu mengembangkan pola pikir komprehensif, sistematis, mengkaji, kritis, dan tentunya solutif. Kami lah yang selalu berusaha mengubah kebiasaan kami yang semula hanya see, talk, and hear menjadi look, speak, and listen. Intinya kami selalu memaknai apa yang kami kerjakan. Dan kami lah yang berusaha menjadi problem solver, agent of change, dan the guardians of value.

Karena kami adalah berbeda,
karena kami adalah generasi cerdas penerus bangsa,
kami yang selalu berusaha menjadi terbaik,
karena kami adalah Sadeva Satyagraha
Mahasiswa Planologi, Institut Teknologi Bandung, 2014.

Bernardus Andre | 15414094

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.