Ketika Kamu Ikutan Mudik

Dan ini adalah sedikit cerita dariku untukmu.


Setiap peristiwa yang terjadi tiap harinya sebenarnya memiliki arti dan kenangan tersendiri , begitu pula dengan kisah-kisah yang terjadi selama liburan. Dan ini sedikit cerita mengenai liburan yang cukup mengesankan bagi saya.

Selama kurang lebih dua minggu dari liburan panjang ini saya habiskan di kampung halaman ayah dan ibu saya di daerah Kediri, Tabanan, Bali. Disaat sebagian besar teman-teman berkumpul bersama keluarga untuk merayakan hari raya Idul Fitri, saya pun ikut merayakan hari raya bersama keluarga di Bali. Saya rasa tidak banyak yang tahu mengenai hari raya dalam agama Hindu yang kebetulan berdekatan dengan Idul Fitri ini.

Ada dua hari raya besar, yang pertama adalah hari raya Galungan yang jatuh pada 15 Juli, dan sepuluh hari setelahnya disusul dengan Kuningan pada tanggal 25 Juli. Rangkaian hari raya ini dirayakan setiap 6 bulan sekali, dan setiap 6 bulan sekali pula seluruh umat Hindu di Bali menyambutnya dengan cukup antusias. Masyarakat memasang penjor di depan rumah mereka sebagai tradisi menyambut Galungan-Kuningan. Barong-barong yang dimainkan oleh anak-anak pun banyak berkeliaran untuk menunjukkan aksinya.

Mengenai kediaman saya di Bali, saya tinggal di kediaman keluarga besar saya di daerah Kediri, tepatnya di Banjar Delod Puri. Sistem kediaman disini menggunakan tanah adat, dimana masyarakat banjar tertentu diperbolehkan untuk tinggal di daerah sekitar banjar dan dibebaskan dari pajak bangunan. Tanah adat ini tidak untuk diperjualbelikan, hak miliknya pun atas nama banjar setempat.

Di kediaman ini lah saya berkumpul dengan keluarga besar saya. Setiap liburan selalu ramai didatangi oleh paman, tante, dan sepupu-sepupu lainnya. Khusus untuk liburan kali ini, saya rasa liburan paling sepi di rumah ini. Beberapa waktu yang lalu keluarga saya tertimpa musibah dan kehilangan sosok seorang tante. Biasanya setiap liburan selalu ada tante yang menyambut hangat kedatangan kami di Bali ini. Benar-benar terasa perbedaannya saat tante tidak ada, rumah ini seakan hampa dan kosong.

Kebetulan ibu dan adik-adik saya harus pulang duluan ke Bandung, menyisakan saya dan ayah saya serta paman dan kedua anak laki-lakinya. Ada satu sepupu lagi dari Denpasar, Winda (18), yang ikut diam di Tabanan menemani saya selama disini. Hanya kami berdualah perempuan yang ada di rumah ini. Naluri seorang wanita, kami dituntut untuk memasak untuk seisi rumah, karena kalau bukan kami, siapa lagi yang akan mengurus urusan perut saudara-saudara sekalian

Kami berdua yang masih awam dalam dunia masak, akhirnya mencoba belajar menjadi ibu rumah tangga yang cager, belajar memasak, mencuci, dan lain-lainnya. Sebelumnya semua diurus oleh tante. Kini saatnya kami belajar untuk mandiri. Banyak cerita konyol selama kami menjadi ibu-rumah-tangga-sementara ini, cukup berkesan untuk dikenang.

Selanjutnya. Tentu saja bila orang menyebut Bali, hal yang langsung terbesit dalam benaknya adalah pantai. Ya, tentu saja berkunjung ke pantai selama berada di Bali merupakan hal yang wajib dilakukan. Saya pun sempat bermain dan menikmati keindahan alam pulau dewata ini, berkunjung ke beberapa pantai dan mencoba kuliner-kuliner Bali.


Senja di pantai Tanah Lot

Pemandangan yang memukau, dinikmati ratusan bahkan ribuan wisatawan domestik dan turis-turis yang berkunjung. Pantai memang tempat yang cocok untuk memanjakan mata dan pikiran.

Pamit, sekian.

Salam bagi teman-teman yang merayakan Idul Fitri.




Putu Indah Adnyani / 19914109 / 15414042