Libur
Pagi hari kumulai dengan perlahan membuka mataku, kurasakan kasur yang kutiduri lebih empuk dari biasanya dan temperatur yang aku rasakan lebih hangat dari biasanya. Dengan setengah sadar aku menegakkan punggungku dan melihat sekelilingku, lalu…. akupun tersadar, aku ada di rumahku. Setelah hampir satu menit duduk termenung aku pun mulai berjalan perlahan ke kamar mandi untuk membasuh muka dan bersiap untuk sesuatu yang sudah kunantikan yaitu sahur bersama keluarga.
Ramadhanku kali ini lebih berbeda dari Ramadhan sebelum-sebelumnya, karena di Ramadhan kali ini aku lebih mandiri dalam mengatur urusanku sendiri. Seperti bangun untuk sahur lalu salat subuh, membaca AlQuran dan hal-hal lainnya sampai waktu berbuka puasa tiba. Awalnya tentu aku belum terbiasa mencari makan sahur dan buka sendiri, namun seiring dengan berjalanya waktu, akupun semakin terbiasa, bahkan aku sudah berkeliling di wilayah sekitar kosan untuk mencari di mana saja aku bisa mendapatkan makanan atau minuman untuk takjil dan berbuka.
“Oh sudah bangun ternyata.”
“Yah….” Jawabku kepada adik perempuanku yang hendak membangunkanku.
Aku biasa pulang dari bandung dengan naik kereta dari stasiun Bandung. Suatu pagi di hari kepulanganku ke Solo, aku pamit dengan teman sekamarku di kosan lalu dengan angkutan kota aku menuju stasiun Bandung. Pukul tujuh lebih dua puluh kereta berangkat. Dalam perjalanan aku menghabiskan sebagian besar waktuku dengan tidur, cukup untuk menghemat energi dalam perjalanan ini apalagi saat itu aku sedang berpuasa. Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat hingga aku sadar aku telah sampai di stasiun Balapan Solo. Saat itu sekitar pukul empat sore, dan di sana tepatnya di depan gerbang keluar, orang tua dan dua adikku sedang menunggu. Akupun menyapa dan menyalami mereka.
Setelah beberapa hari menghabiskan hari-hari Ramadhan di rumah, akhirnya hari raya pun tiba.
Pada liburan Ramadhan kali ini aku lebih menghabiskan waktuku berada di rumah dan membantu adik-adikku. Khususnya adikku yang sekarang sedang bingung mencari universitas untuk melanjutkan belajar. Dia masih belum beruntung ketika menghadapi SBMPTN dan beberapa tes sebelumnya, namun dalam beberapa hari setelah hari raya, ia akan mengikuti tes lagi di Malang. Oleh sebab itu, orang tuaku memintaku untuk mengajarinya agar ia bisa diterima di universitas yang baik. Aku sendiri sebenarnya tidak pandai dalam mengajar, adikku juga pekerjaanya hanya bermain saja. Oleh sebab itu… aku menyerah.
“Besok kita Idul Fitri di mana ?”
“Nggak tau. Tanya ibu aja sono” Jawabku menjawab pertanyaan adikku.
Di hari raya Idul Fitri kali ini, aku dan keluarga mudik ke Gresik, lebih tepatnya ke rumah nenek. Perjalanan menghabiskan waktu selama hampir delapan jam dengan mobil. Kami berangkat sekitar jam lima sore dan sampai di sana sekitar jam satu malam. Di sana aku bertemu dengan beberapa anggota keluarga besar seperti beberapa kerabat dari Malang, Wonosobo dan Jogja. Setelah meletakkan tas kami langsung beristirahat untuk esok hari.
Solat Id dilaksanakan di halaman sebuah masjid di kawasan tersebut. Setelah khutbah selesai para jamaah pun kembali ke rumahnya masing-masing untuk sarapan atau bersiap untuk silaturahmi, begitu pula kami. Sarapan disiapkan dengan jumlah yang besar, cukup untuk jumlah anggota keluarga yang hadir.
“Kamu tadi tidur ya pas khutbah ?” Tanya seorang sepupuku.
“Iya… semalem kurang tidur.” Jawabku.
“Emang di mobil nggak tidur ?”
“Nggak, adikku yang nyetir nggak bisa santai.”
Saat bercakap-cakap dengan keluarga yang lain, beberapa tamu berdatangan satu persatu, membuat suasana rumah menjadi semakin ramai. Sampai akhirnya suasana ramai itupun berangsur-angsur menurun. Saat itulah aku mengambil kesempatan untuk tidur di kamar. Di sore harinya sepupuku mengajakku pergi ke pantai bersama dengan yang lain tanpa ada orang tua yang ikut dan oleh karena itu akupun langsung setuju. Di pantai kami mengambil beberapa foto bersama dengan terbenamnya matahari.
Setelah dua hari berada di rumah nenek, kami pun kembali pulang ke Solo. Nenek juga ikut kami ke Solo, karena dalam beberapa hari kedepan akan ada walimahan salah satu sepupuku di Jogja.
“Tadi yang nyetir siapa ?”
“Abah.”
“Lho bukan kamu ?”
“Bukan mbak.”
Pagi ini aku sudah berada di Yogyakarta, tepatnya di pondok pesantrenku dulu. Di tempat inilah akan diadakan acara walimahan sepupuku. Aku baru sampai sekitar jam lima pagi bersama keluarga. Sejak pagi semua sudah mulai bersiap-siap. Tidak hanya keluarga besar, keluarga para ustaz yang ada di pondok pesantren juga ikut membantu dalam menyiapkan acara ini.
Dan pada saat acara berlangsung…. aku tertidur di kamar. Rasa kantuk yang kutahan sejak tadi malam sudah tidak bisa kutahan lagi, karena tadi malam aku tidak tidur untuk membantu orang tua menyiapkan makanan ringan untuk para tamu. Sampai akhirnya acara selesai aku dibangunkan ibuku untuk bersiap pulang.
Mahmud Saifudin Fauzi/ 15414102