Libur (katanya)…

Libur, sebuah kata yang berjuta makna. Sudut pandang yang berbeda memberi arti yang berbeda. Ya, setelah terlarut dalam kesibukan selama satu semester, liburan adalah sesuatu yang seharusnya bisa menghilangkan dahaga di dalam diri kita, mahasiswa. Mulai dari urusan akademik, kesibukan di unit-unit, bahkan sampai perkara hati sungguh-sungguh telah membuat penat jiwa dan raga. Ya tetapi itulah lika-liku yang harus dihadapi untuk menggapai masa depan yang indah. Sebelum tulisan ini mulai melantur dari arah yang seharusnya, saya akan langsung membuka topik. Topik yang mau saya angkat adalah tentang liburan saya selama libur bulan Juli ini. Jujur saja, selama saya libur ini adalah liburan yang paling menyita pikiran dan perhatian. Baiklah, let’s start!

Bulan Juli ini adalah bulan yang sudah saya nanti-nanti. Mengapa? Ya simple saja. Setelah berbagai kepusingan yang saya alami selama semester 2, kemudian kegiatan-kegiatan di unit yang cukup melelahkan, dan ditambah lagi saat ini saya sudah masuk ke jurusan yang saya idam-idamkan sejak awal ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, yaitu PWK atau Planologi ini, dan saya sudah mulai memikirkan apa yang akan saya kelak lakukan dan kerjakan selama kurang lebih tiga tahun di kampus ini dan mempelajari ilmu perencanaan, tentu saja pikiran saya semakin penuh akan hal-hal yang harus dipikirkan. Satu hal yang menyenangkan selama liburan ini adalah saya belajar untuk menjadi anak yang baik. Mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumahan, kemudian belajar memasak, dan juga belajar mengemudikan mobil(real men use three pedals), sungguh sebuah wacana yang sudah lama saya pikirkan untuk lakukan dan akhirnya dapat saya wujudkan tanpa mengeluh! Terima kasih kepada teman saya (yang saya tak dapat sebutkan identitasnya) yang telah menasehati saya dan menyemangati saya untuk mewujudkan wacana-wacana itu.

Lalu pada liburan ini juga, saya sangat beruntung karena Inanguda(bisa juga disebut Tante atau Bibi) mengajak saya dan sepupu saya liburan ke Bali! Sungguh sangat beruntung saya, dan saya menerima ajakan itu karena saya berpikir dapat menenangkan pikiran saya selama libur. Ya memang, dilengkapi dengan fasilitas hotel bintang lima, kemudian perjalanan-perjalanan seperti ke Pulau Lembongan, Safari Night di kebun binatang Bali, sungguh nikmat liburan yang saya rasakan. Sekembalinya dari liburan di Bali, saya lalu merencanakan untuk pergi ke Museum Sejarah Jakarta, atau lebih dikenal dengan Museum Fatahillah. Saya pergi ke sana untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh panitia interaksi yaitu tugas photomapping. Tugas angkatan ini mengharuskan tiap individu Sadeva Satyagraha untuk foto di tempat khas kota asalnya. Tujuannya adalah supaya kami lebih mengenal asal daerah rekan-rekan kami.

Ya akhirnya, liburan yang sesungguhnya bukanlah bersantai ria, mengendapkan lemak dengan tidak melakukan apapun, tetapi liburan sesungguhnya adalah sarana bagi kita untuk take a break dari rutinitas kita, kemudian menenangkan pikiran kita, agar kita dapat menjadi lebih produktif. Liburan bukan berarti kita vakum dari aktivitas, tetapi justru kita mempersiapkan diri untuk beraktivitas di kemudian hari, dan sebaiknya kita membuat liburan kita lebih produktif dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Akhir kata, selamat mengakhiri liburan, selamat menghadapi realita kehidupan, salam Sadeva!


Daniel Pasarella — 15414009