Libur(lebar)an


Saya gak henti-hentinya bersyukur atas liburan singkat yang saya alami tahun ini. Iya, liburan singkat. Kalender akademik yang sudah kampus saya sebar jauh-jauh hari dan menyatakan libur yang amat panjang pada pergantian semester ini kayaknya sama sekali gak berbekas. Ada banyak acara yang harus saya ikuti di kampus, sehingga saya gak bisa dengan bebasnya ongkang-ongkang kaki melangkah ke sana ke mari berbekal kalender akademik kampus yang ngasih libur panjang itu. Dari mulai Diklat Terpusat Panitia OSKM, kemudian sekarang dan mungkin berlanjut beberapa hari ke depan dengan Sekolah Mentor. Jujur aja sih, saya memang mengikuti serangkaian acara itu dengan keinginan sendiri, pake niat dari hati. Gak karena terpaksa atau bahkan dipaksa. Cita-cita saya dari OSKM dulu semenjak lihat kakak mentor yang bagi saya bukan menginspirasi dalam hal mengayomi maba, malah menginspirasi saat nampilin yel-yel, membuat saya gak berpikir dua kali untuk bilang dalam hati, “Oke! Tahun depan, saya harus jadi mentor. Fix!”. Hingga akhirnya kesukaan saya nonton video yel-yel mentor (yg dulu namanya taplok) dari tahun ke tahun bermanfaat juga sekarang. Dan, selain ikut diklat panitia OSKM, hari-hari saya di kampus dalam masa libur di kalender akademik juga diisi dengan kegiatan interaksi mahasiswa Planologi 2014 bersama HMP yang salah satu tugasnya adalah menulis tentang ini.

Lantas, kenapa saya bersyukur? Saya tahu, hal ini gak layak lagi untuk ditanyakan sebenarnya. Sudah seperti kata-katanya semua guru ngaji, kita harus bersyukur dengan segala hal yang kita dapatkan. Saya bersyukur karena liburan kali ini benar-benar saya nikmati dengan keluarga. Meski saya tinggal di Bandung, dan setiap harinya bisa dengan bebas bertemu mereka, tapi semua kegiatan saya di kampus setahun belakangan ini cukup membuat saya merasa bersalah dengan keluarga saya di rumah. Pasalnya, karena saya sudah bikin rumah saya hanya sebagai ‘hotel’ alias tempat tidur saja. Sisanya, sebagian besar waktu saya dihabiskan di kampus dan perjalanan menuju/ dari sana. Makannya, saat mendapati diri saya tanpa kegiatan sama sekali dan berada di rumah, saya amat bahagia. Lebih dari itu, saya benar-benar feeling grateful.


Minggu awal liburan, tepat seminggu menuju hari lebaran, saya menghabiskan waktu dengan belajar nyetir. Setahun kuliah di Ganesha, perjalanan saya ke kampus selalu ditemani Ayah saya. Setiap pagi dianter, pulang melebihi waktu maghrib dijemput. Bahkan gak jarang pula kalo saya ke kampus hanya untuk ikut ujian atau keperluan lain yang waktunya sebentar saja, Ayah akan menunggui saya hingga selesai. Nah, gimana gak semakin bikin ngerasa bersalah, tuh? Sudah menjadikan rumah hanya sebagai penginapan, saya pikir jangan sampai saya menjadikan ayah saya sebagai tukang antar jemput. Saya jelas-jelas akan berdosa besar. Hiii, jangan sampai, deh. Meskipun itu adalah murni keinginan beliau dengan alasan kasihan melihat saya kalau habis naik angkot melewati kemacetan Jalan Kopo, tapi saya tetap berpikir saya harus bisa bawa kendaraan sendiri untuk transportasi saya ke kampus. Jujur saja, sebenarnya saya sendiri jauh lebih suka naik sepeda motor karena faktor efektifitas waktu tempuh yang tentunya lebih cepat. Namun, dokter tidak mengizinkan saya membawa sepeda motor karena suatu hal.

Dilanjutkan sampai beberapa hari menjelang lebaran, setelah paginya saya konsentrasi belajar nyetir (dengan Ayah saya sendiri yang keukeuh pada awalnya gak mengizinkan, tapi akhirnya luluh dan menunjuk diri sendiri sebagai guru privat nyetir saya) siangnya saya membantu Ibu saya bikin kue kering lebaran. Bagi saya yang memang sampai saat ini belum menemukan bakat yang bagus dalam segala macam urusan dapur, saya menikmati momen bikin kue lebaran ini bukan sebagai ajang uji kemampuan mengolah bahan, namun sebagai saat-saat di mana saya bisa bercerita banyak hal dengan Ibu saya, mendengar cerita-cerita beliau yang tentu saja — pastinya, diselipi nasihat-nasihat ringan.

Setiap tahun, saya selalu berlebaran di lingkungan tempat tinggal saya — di Bandung tentunya, bersama keluarga besar kakek dari Ayah saya. Selesai sholat Id, kami akan pergi berziarah ke makam keluarga yang letaknya masih dalam komplek perumahan kami, lalu berkumpul untuk makan bersama di rumah saudara kakek yang paling tua. Selain makan bersama, tentu saja acara berkumpul keluarga dalam formasi lengkap setahun sekali ini diisi dengan pembagian angpau dari om dan tante, juga kakak-kakak sepupu yang sudah punya penghasilan sendiri, dan prosesi foto bersama.

Setelah menyelesaikan seremonial tahunan di Bandung, keluarga inti saya bersama Nenek dari Ayah saya dan satu orang adik kandung sekaligus kakak iparnya bersiap kembali untuk menuju tempat selanjutnya. Subang. Kota yang terletak kurang lebih 60 KM dari Kota Bandung ini menjadi tempat tujuan kami selanjutnya. Kami mudik bersama, karena memang rumah keluarga Nenek dari Ayah (tinggal di Bandung) dan Nenek dari Ibu (tinggal di Subang) bertetangga, bahkan masih ada hubungan keluarga meskipun tidak secara langsung. Kami pergi ke Subang menggunakan jalur Tol Cipali dengan jarak yang hampir dua kali lipat jalur normal. Hal ini karena dalam pengecekan saya sebelumnya, pintu keluar GT Pasteur mengalami antrian hingga 5 KM, belum lagi jalur Setiabudi hingga Lembang yang sudah bisa dipastikan macet total saat libur lebaran seperti ini.

Di Subang, saya menghabiskan waktu dengan silaturahmi dari satu rumah saudara ke rumah yang lain. Tadinya, saya pikir liburan ke Subang saya kali ini akan seperti liburan ke Subang saya biasanya — dimana selalu menjadi seorang jobless karena apa-apa selalu ada yang bantu ngerjain. Tapi ternyata gak ada kegabutan yang biasa saya alami pada liburan kali ini. Di liburan sekarang juga, saya jadi tahu persis silsilah keluarga Nenek dari pihak Ibu saya. Selama ini, seringkali saya bingung karena saudara Nenek saya ini banyak sekaliii. Ternyata setelah melalui penyelidikan lebih lanjut dan ikut ngumpul bersama sepupu Nenek saya yang lain, saya jadi tahu kalau anggota keluarga dari pihak Nenek dari Ibu saya ini banyak yang melakukan kebiasaan (atau paling tidak perlakuan) nikah-cerai, dan semua anak dari setiap pasangan akan selalu dianggap sebagai saudara. Jadi ternyata inilah sebabnya mengapa saya pikir saudara Nenek saya ini banyak dan lokasi tempat tinggal mereka menyebar sekali.

Setelah 3 hari berada di Subang, perjalanan kami berlanjut ke kota selanjutnya yaitu Majenang, Jawa Tengah. Ada saudara lain yang meninggal dunia. Meski kami tahu saat itu hampir mendekati puncak arus balik Lebaran 2015, tapi kami lebih tahu bahwa silaturahmi tetap harus jadi prioritas utama. Makannya, tanpa pulang ke Bandung, saya dan anggota keluarga yang lain langsung menuju ke kota Majenang. Perjalanannya lewat Subang menuju ke Wado lalu kemudian ke Sumedang dan sampai di Majenang memakan waktu sekitar 9 jam. Kami berangkat dari Subang pukul setengah 6 pagi dan tiba di sana pukul 3 sore, beberapa menit sebelum adzan ashar berkumandang. Rencananya sih, kami akan menginap semalam dan pulang ke Bandung di waktu subuh keesokan harinya. Tapi, berhubung ada acara lain yang harus dikejar oleh Nenek saya, maka kami pulang setelah berada di sana kurang lebih 3 jam. Kami berangkat dari Majenang jam setengah 7 malam sehabis sholat maghrib. Baru sampai di Cikoneng, Ciamis, perjalanan kami sudah tersendat. Menurut pengamatan Ayah saya, macet malam ini lebih panjang dibanding macet tadi siang. Dari sana, kemacetan masih terus berlanjut hingga Tasikmalaya sampai akhirnya kendaraan kecil roda 4 selain bus dibelokkan menuju arah Ciawi. Nah, dari sini saya sudah tidak terlalu memperhatikan perjalanan karena mengantuk, dan tak lama kemudian tertidur. Pokoknya, seingat saya sudah sampai di rumah pukul setengah 4 pagi. Dan! Seisi rumah baru bangun untuk sholat shubuh sekitar pukul 8 pagi.

Akhirnya, seharian setelah sampai di rumah, kami habiskan waktu yang ada dengan tidur bersama. Rumah sepi sekali. Saya sendiri sama sekali gak merasa lapar, atau ingin ke kamar mandi. Yang ada dalam pikiran saya hanya satu; mengantuk dan capek. Wah, kalau Ayah saya sih jangan ditanya. 18 jam waktu mengemudi (walaupun tidak non-stop) menurut saya adalah waktu yang cukup menjengkelkan jikahanya dipakai buat gonta-ganti pedal yang diinjak. Dan carlag itu berlanjut sampai beberapa hari setelah hari kedatangan kami di Bandung.

Hingga akhirnya datanglah suatu hari di mana pagi-pagi buta, Ibu saya buru-buru banget nyamperin saya ke kamar dan mengabarkan bahwa hari ini kami sekeluarga bersama dengan Nenek dan Kakek dari pihak Ibu yang sedang berlibur di rumah kami akan pergi ke Pantai Santolo, Garut. Kami berangkat dari rumah pukul 9 pagi, melewati jalan perkebunan Pangalengan yang indah. Melintasi bukit Cukul yang dikelola oleh perkebunan teh milik pemerintah. Berlanjut terus ke sisi selatan kota Bandung, hingga setelah kurang lebih 130 KM berjalan, kami tiba di Pantai Santolo. Jujur saja, pantai ini termasuk pantai yang cukup indah jika dibandingkan pantai lain di Jawa Barat yang pernah saya kunjungi. Tapi memang, kebersihan yang ada di pantai ini kurang terpelihara. Banyak sampah yang berserakan di jalan-jalan, di belakang kios-kios souvenir yang menghadap ke pantai. Pantai Santolo ini ternyata berpasir putih dengan ombak khas laut selatan yang sangat besar. Selain bermain seluncur ombak, bermain pasir, untuk pertama kalinya saya berhasil mengajak kedua orangtua saya bermain banana boat. Meskipun Ibu saya sempat merasa tegang dan jelas sekali memancarkan ketakutan saat kami pertama kali dijatuhkan di laut lepas, namun kesenangan dan keinginan untuk kembali memacu adrenalin sangat menantang kami untuk melakukannya lagi di lain waktu. Namun, kesenangan kami di Pantai Santolo harus berakhir saat hujan gerimis kecil tiba-tiba turun. Walaupun memang saat perjalanan menuju pantai langit tidak terlalu cerah, namun kami tidak menyangka akan turun hujan. Akhirnya, kamipun memutuskan untuk tidak jadi menginap dan langsung pulang. Kami berangkat menuju Bandung pada pukul setengah 7 malam sehabis solat maghrib melalui jalan Garut- Bandung, bukan jalan Pangalengan seperti yang kami lalui sebelumnya. Tapi waktu perjalanan kami kali ini normal. Pukul setengah 11 malam, kami sudah sampai lagi di Bandung.


Dan sekarang, hari Minggu.

Saatnya saya dan adik-adik saya beristirahat untuk mempersiapkan segala kegiatan kami yang akan dimulai esok hari.

Dan, teman-teman. Cuma itu deh yang bisa saya ceritakan dari Lebaran saya kali ini. Lebaran yang heboh. Lebaran yang punya banyak destinasi silaturahmi. Lebaran penuh suka sekaligus duka. Lebaran yang menyisakan penyesalan karena Ramadhan tahun ini buat saya sama sekali gak berasa. Lebaran yang penuh kesyukuran karena akhirnya bisa benar-benar saya nikmati bersama keluarga. Lebaran yang…

Ah,

ketemu lagi gak ya dengan Lebaran dan satu bulan mulia sebelumnya tahun depan?

Semoga, iya.

Salam,

Marsa N. Aulianisa/ 15414078.