Main ke Sumatera Barat Cuman Seminggu? Rugi Besar!

Diriku beserta keluarga kala berfoto bersama di Istano Baso Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatera Barat (21/6). Sumber: Foto sendiri.

Awalnya, impian saya untuk kembali ke kampung, Nagari Lengayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, setelah tiga tahun lamanya tidak pernah ke sana, terwujud kala saat last minute, alhamdulillah, ibu saya mendapatkan tiket gratis untuk empat orang untuk mudik ke sana. Semua anggota keluarga, kecuali ayahku yang berstatus tentara sehingga tidak kebagian tiket, dapat. Dan pada saat itu, wacana ayah saya untuk berkeliling Sumbar dengan mobil carteran, dapat terealisasi. Dua hari perjalanan, dimulai dari Kantor Kementerian Kesehatan RI pada Kamis (15/7), dilanjutkan dengan mobil carteran saat ayah tiba di Padang, malam takbiran (16/7), cukup melelahkan bagi semua anggota keluarga. Lanjut bersilaturahmi dengan saudara di seantero Kambang selama dua hari berturut-turut. Dan pada akhirnya, rencana ayah siap dieksekusi. Finally, adalah sebuah kerugian kala kami harus kejar tayang dalam berpetualang keliling Minangkabau. Hanya tiga hari saja!?

Fahmi Ardi, Faruq Ardi, dan saya. Di baliknya Painan loh. Masih foto sendiri.

Selepas mengubek satu Kambang, Minggu (19/6) pagi petualangan kami sekeluarga dimulai dengan mengubek Pantai Carocok dan Bukit Langkisau, duo objek wisata andalan Painan, ibu kotanya Kabupaten Pesisir Selatan. Tiba di sana, langsung bapak dan ibu saya mengurungkan niat ke sana, berhubung Carocok pueeeeenuh sangat! Bisa lebih dari Ancol malah. Maklumlah karena Carocok punya paket objek wisata yang lengkap: pantainya, batu karangnya, dua pulau yang bisa dikunjungin masyarakat, banana boat, dan banyak lainnya. Beruntung masih ada Bukit Langkisau, titik tertinggi pusat Kota Painan. Akhirnya, kami berfoto bersama di atas bukit itu. Setelahnya, lanjut berpetualang ke Jembatan Akar di Bayang. Ternyata, malah beda jauh dengan apa yang dilihat di TV: penuh dengan orang jualan! Sayang loh, padahal di TV kelihatan asri. Kata orang sekitar, itu pedagang cuma musiman saja. Toh setelah lebaran akan asri lagi tempatnya. Petualangan hari itu berakhir di penginapan di Lubuk Basung, Agam, setelah bermacet-macet sore ria di Jalan antara Padang-Lubuk Basung-Pariaman.

Maninjau! So besar, so megah! Karya dari Yang Mahakuasa. Masih foto sendiri.

Agenda hari kedua, Senin (21/6), dimulai. Targetnya adalah Danau Maninjau dan Jembatan Kelok 9. Dari Lubuk Basung, hanya 14 kilometer buat sampai ke bibir danaunya. Dan kalau mau lebih asik lagi, lanjutnya berkendaran melewati Kelok 44 untuk melihat kemegahan danau ini dari atas gunung. So fun! Lewat dari sana, lanjutlah singgah ke Ngarai Sianok. Awalnya kami tidak berencana ke sana, namun berhubung Faruq Ardi, si bungsu, ingin mencoba jalur alernatif, mobil Avanza kami sempat melewati jalan alternatif tersebut. Ternyata, jalanan tersebut bukanlah zonk! Malah kami dapat bonus pemandangan ngarai dari jalur belakang tersebut. Terima kasih Faruq!

Satu di antara tebing ngarai. Masih foto sendiri.

Lanjutlah ke destinasi akhir di hari itu: Jembatan Kelok 9 di Harau, Kabupaten Lima Puluh Koto. Satu kata dari mahakarya bangsa Indonesia itu: megah! Tidak heran kalau banyak jejeran rumah makan dan sampah di sepanjang jembatan tersebut. Pemudik dari dan ke Pekanbaru lambat laun akan terkesan biasa saja saat melewati “objek wisata” tersebut.

WC darurat. Fasilitas wajib di setiap tempat wisata, termasuk di Kelok 9. Ya tapi statusnya darurat sih. Mau gak mau. Masih foto sendiri.

This nearly-so-fast journey finally had its end saat bersua Istano Baso Pagaruyung dan Lubang Mbah Suro, Selasa (22/6) Selepas Dhuha, dari Kota Batusangkar, Tanah Datar, kami mengunjungi Istano Baso Pagaruyung. Megah? Mesti! Sayangnya, belum sejam berjalan kami harus berpacu dengan waktu agar cepat sampai di Padang sore harinya. Destinasi terakhir pun akhirnya tercapai di Lubang Mbah Suro di Kota Sawahlunto, siang harinya. Lubang inilah yang menjadi cikal bakal penambangan batu bara besar-besaran di kota ini pada zamannya, sekitar tahun 1920-an. Saat ini, lubang ini cocok menjadi tempat wisata andalan, terutama Anda yang tertarik dengan dunia pertambangan. Murah lagi tempat masuknya, hanya Rp8.000,-saja! Saya kaget dengan tempat wisata semurahm(parah) itu.

Narsis di pintu masuk menuju lubangnya. Bukan di gedung itu kok. Ada lagi jalannya. Masih foto sendiri.

Ya, pada akhirnya petualangan ekspres keliling Minangkabau harus berakhir Selasa sore. Berhubung pesawat yang akan membawa kami ke ibu kota harus berangkat Rabu (23/6) malam, dan banyak juga saudara (dan teman!) orang tuaku di sini. Jadi, Padang adalah tempat yang tepat untuk bersinggah sebelum kami meninggalkan negeri berbendera (mirip) Jerman ini esok hari.

Saya kembali teringat akan pesan ayah:

Kalau mau lebih puas jalan-jalannya, sekolah yang tinggi. Jadilah sukses. Niscaya dirimu bisa jalan-jalan sesuka hatimu.

Dan ibuku juga memberi spoiler tentang mudik tahun depan. Kami akan kembali ke Padang, membawa serta seluruh keluarga besar, dan bakalan lebih puas jalan-jalannya. Kalau masih ada umur ya hehehehe. Aaamiiin.

P.S.: Kali aja bisa ketemu sama ntu lagi pas lebaran. Kan bisa “sambil menyelam minum air”. Hehehe. #kodemulupak

Fikri Rachmad Ardi— 15414021