Menghabiskan Waktu di Ibukota


“The greatest gift you can give to someone is your TIME. Because when you give your time, you are giving a portion of your life that you’ll never get back.”


Waktu. Ya, sesuatu yang tak bisa terulang kembali. Hal itulah yang membuat setiap detik yang berlalu menjadi berharga. Namun, adalah sebuah pilihan bagi masing-masing orang untuk menghabiskan waktu mereka dengan cara apa.

Liburan kali ini, saya memiliki waktu kurang lebih tiga minggu untuk kembali ke “kampung halaman”, Ibukota tercinta, Jakarta. Lahir dan tumbuh besar di kota ini membuat saya sedikit ‘muak’ dengan keadaannya dan segala permasalahannya. Namun, ketika harus berkuliah di Kota Kembang, pastinya ada kerinduan pribadi saya akan kota asal. Berikut inilah bagaimana cara saya menghabiskan waktu liburan di Jakarta.


Tinggal di bagian paling utara DKI Jakarta, tentunya punya cerita tersendiri bagi saya. Bagian paling utara itu bukan Pantai Indah Kapuk, bukan juga Kelapa Gading, melainkan Ancol. Ya, Ancol dan Mangga Dua. Daerah Ibukota yang seringkali muncul di layar kaca karena “banjir”nya. Baik “banjir” pengunjung yang ramai, banjir saat musim hujan, maupun yang terparah, banjir lokal di musim kemarau karena air pasang yang meluap. Mungkin, dari sudut pandang seorang mahasiswa planologi, pemikiran bahwa keadaan tersebut “tidak terencana dengan baik” pastinya ada. Tetapi, tetap saja, kecintaan saya akan Ancol―sebuah pantai yang bisa saya capai “lima langkah dari rumah”― dan Mangga Dua―tempat belanja yang apa aja ada― tidak akan pernah hilang.

Kemudian, liburan juga menjadi sebuah “kesempatan emas” bagi mahasiswa. Untuk apa? Ya, pastinya untuk beristirahat(re: bangun siang). Begitu juga dengan saya. I don’t know, but I enjoy doing nothing.


Libur Lebaran menjadi sebuah kesempatan untuk pulang kampung bagi sebagian orang. Dan momen ini―mungkin setahun sekali― membuat orang-orang yang tetap tinggal di Jakarta merasa senang. Mengapa? Karena jalan utama Sudirman-Thamrin menjadi sangat sepi. Ya, jalanan kosong, lancar, dan bebas macet mungkin menjadi hal langka di Jakarta, tetapi libur Lebaran berhasil membuatnya demikian.


Sementara itu, beberapa anak perantauan―anak Jakarta yang kuliah di luar kota―memanfaatkan liburan ini untuk kembali ke Ibukota. Dan pastinya, ketika harus terpisah oleh jarak dari teman-teman seangkatan demi mengejar cita-cita di universitas masing-masing, membuat kesempatan liburan ini menjadi ajang reunited . Melewati waktu bersama sekadar untuk tertawa, berbagi pengalaman, dan juga flashback cerita masa lalu yang menimbulkan tawa atau mungkin sesal mengingat bagaimana waktu berlalu begitu cepat.

Kata-kata ini mungkin terdengar klise. Namun, ya, memang benar, “Bahagia itu sederhana. Tak perlu mewah asal bersama.



Dina Oktavia — 15414087/19914080