Mengisi Liburan Bagai Mengisi Gelas Kosong — Keduanya Sama-Sama Pilihan
“Tali persaudaraan itu tidak mengenal lelah.
Pencarian wawasan dan jati diri pun sama.”
Berbagi Maaf dan Ketupat
Mungkin beberapa orang skeptis soal bermaaf-maafan yang hanya terjadi saat Lebaran. Bagiku, hal tersebut justru terlihat indah. Ketika banyak orang yang biasanya meninggalkan keluarga mereka untuk bekerja, bersekolah, dan lainnya, kembali kepada keluarga mereka dan bercengkrama.
Hari pertama Idul Fitri, seperti tradisi di tahun-tahun sebelumnya, keluargaku menampung tamu-tamu yang datang untuk bersilaturahmi di rumah kami. Lalu kami dan keluarga dari adik ibuku yang merupakan tetangga dekat kami pergi berziarah ke makam kakekku. Jika dari pandangan orang luar hal ini merupakan hal yang biasa saja, buatku tidak. Aku menghabiskan masa kecil dekat dengan kakak-kakak dan saudara sepupuku. Karena itu, menghabiskan waktu dengan mereka yang biasanya terpisah oleh jarak menjadi momentum yang tidak pernah tidak berharga, walaupun kesempatan tersebut hanya terjadi paling sedikit setahun sekali.
Tradisi lain di hari Lebaran adalah berkunjung ke kampung halaman ayahku yang berada di Cianjur pada hari kedua. Tahun ini, sayangnya, hanya aku, ayah, dan ibu saja yang bisa pergi, sementara kakakku yang pertama berada di kampung halaman istrinya, dan kakakku yang kedua merasa tidak enak badan. Disana, kami bersilaturahmi dengan keluarga dekat dari ayahku. Pelajaran berharga tentang hari itu kuambil seminggu setelahnya, ketika salah seorang paman yang kujenguk di Cianjur karena sedang sakit, meninggal dunia.
Jika tidak memiliki tradisi berkunjung kesana, kami tidak bisa lagi bertemu dengannya.
Pengetahuan Bukan Hanya Buku
Tahun ini, saudara dekatku yang tinggal di Medan berkunjung ke Bekasi. Karena ada mereka, hampir setiap hari kami jalan-jalan di sekitar kota Bekasi. Pada suatu kesempatan, salah satu dari kami mencetuskan untuk mengunjungi Kota Tua. Tidak semua saudaraku ingin ikut, sehingga kami hanya pergi berempat, yaitu aku, dua saudaraku yang dari Medan, dan satu orang saudara lagi.
Di Kota Tua, kami tidak tahu harus melakukan apa selain melihat-lihat dan berfoto-foto, jadi kami memutuskan untuk ke museum BI dan mengedukasi diri.


Terdapat cukup banyak ruang di museum BI ini, dari mulai yang modern sampai yang terlihat seperti ruang rapat tradisional. Beberapa ruang didesign untuk menjelaskan seputar sejarah BI. Ada juga ruang pameran yang memajang mata uang Indonesia lama serta mata uang asing.






Shafiera Syumais Aziz — 19914132
26 Juli 2015