No mudik? No problem!


Kurang lebih 3 minggu ini saya akhirnya merasakan yang namanya liburan. Waktu yang cukup lama untuk menghabiskan waktu dengan “kegabutan” yang saya buat. Well, sebenarnya tidak sepenuhnya saya habiskan hanya dengan bermalas-malasan saja. Dalam 3 minggu ini banyak momen yang ingin saya ceritakan. Mulai dari banyak bertemu teman lama (baca: bukber), berkunjung ke rumah saudara (lebih tepatnya lebih banyak yang berkunjung kerumah saya daripada saya yg berkunjung ke rumah mereka), dan yang pastinya tak lupa saya membeli beberapa baju untuk menambah persediaan kuliah hehe…

Sebenarnya, kata mudik belum ada di kamus saya. Terlahir dari seorang ayah dan juga ibu yang orang Bandung asli, maka ya apa boleh buat, mudik yang biasa saya lakukan setiap tahunnya hanya pergi ke rumah nenek yang terletak di Cimahi. Mudik macam apa yang hanya menghabiskan waktu 30 menit? Itulah kalimat yang sering dilontarkan adik saya sambil bercanda bersama beberapa anggota keluarga.

Daripada hanya berdiam dan bosan mengunjungi keluarga yang itu-itu aja, akhirnya ayah saya memutuskan untuk kabur sebentar keluar Bandung untuk ikut-ikutan mudik. Kami memutuskan untuk berlibur pada tanggal 25–26 juni. Yup, tepatnya sehari sebelum saya membuat tulisan ini.

“Kita niis yuk ah, cape dikota terus mah” lontar ayah dengan logat sundanya yang kental. Dengan perbekalan dan bawaan yang seabreg, pada pukul 8 pagi kami pun berangkat. Kami memutuskan untuk pergi ke pantai Rancabuaya. Rencana awal sebenarnya kami ingin camping di suatu tebing disana yang menghantarkan pemandangan lautan luas. Menakjubkan bukan? Rasanya saya sudah tidak sabar ingin cepat melihat pemandangan itu. Setelah hampir 5 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di pantai. Kami menikmati pemandangan sambil makan siang disana. Setelah itu kami meneruskan perjalanan menuju tebing tersebut. Namun sayang, ternyata perjalanan menuju tebing itu sangatlah curam dan ayah saya memberikan 2 pilihan “masih mau camping pemandangan pantai tapi jalannya ga meyakinkan, atau kita cari tempat di daerah dingin di Pangalengan sana yang pemandangannya danau?” dan akhirnya kami pun memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke Pangalengan untuk mencari tempat camping yang cocok.

Beristirahat sejenak di pantai Rancabuaya

Jam 5 sore akhirnya kami sampai di tempat, tepatnya di danau Cileunca, Pangalengan. Pemandangan disana sangatlah indah. Walau saya masih sedikit kecewa karena saya sebenarnya lebih suka pantai daripada pegunungan, namun ya apa boleh buat... Dengan matahari yang hampir tenggelam, kami bergegas membuat tenda dan mempersiapkan segala keperluan untuk menginap. Setelah semua siap, rasa lapar mulai membuat saya dan adik saya akhirnya membuat mie goreng ala kami dengan peralatan masak yang ibu saya bawa dari rumah. Ternyata mie goreng yang kami buat terasa jadi lebih nikmat karena kami sendiri yang buat dan suasana yang asyik. Tak berapa lama, adzan maghrib pun berkumandang, kami pun sholat berjamaah di alam terbuka beratapkan langit yang kemudian dilanjutkan dengan membuat api unggun. Kami menghabiskan waktu dengan mengobrol di api unggun, bercanda, memasak, berfoto-foto, dan masih banyak lagi. Memang benar-benar quality time bersama keluarga. Akhirnya karena capek, kami pun tertidur pulas berempat di dalam tenda walaupun terkadang terbangun karena rebutan selimut, haha…

Keesokan paginya, saya disambut oleh pemandangan yang begitu menakjubkan. Karena sebelumnya pemandangan memang tidak begitu terliat pada menjelang maghrib. Tapi sayangnya karena besok adik saya hari pertama sekolah, dan ayah saya sudah mulai bekerja kembali, setelah sarapan kami pun bergegas membereskan barang dan memutuskan pulang pada jam 9 pagi.

Pemandangan di pagi hari

Walaupun liburan itu sangat singkat, namun bagi saya itu sudah lebih dari cukup, karena kebahagiaan yang saya rasakan bersama keluarga sungguh tiada duanya ❤

I don’t think quantity time is as special as quality time with your family.
-Reba Mcentire



Nanda Khusnulkhotimah T / 19914212 / 15414046