Pangbalikan Sampurna
Antara liburan, keluarga, dan kota kelahiran

Liburan, sedikit membingungkan ketika aku harus menceritakannya. Ya, secara resmi memang telah berlaku dari akhir Mei lalu hingga 23 Agustus mendatang. Namun, hehe, realitanya yang paling terasa (meskipun masih kurang) liburannya ya di libur lebaran ini. Maklum, seabrek kegiatan di kampus diakui atau tidak memangkas waktu rehat panjang ini.
Berkata libur lebaran, lekat kaitannya dengan tradisi tahunan, mudik. Akhirnya tahun ini untuk pertama kalinya aku benar-benar merasakan mudik. 120 kilometer perjalanan darat ditempuh dari kota kembang ini menuju lembur panineungan. Wajar, biasanya hanya berhijrah lima kilometer saja dikala hari raya. Akhirnya bisa merasakan esensi bermudik, merasakan bagaimana terbayarnya kerinduan setelah lamanya penantian.
Tak ada agenda khusus di liburan ini, namanya rehat, jujur saja lebih banyak digunakan untuk istirahat, menikmati suasana rumah, menikmati waktu bersama keluarga. Sesekali aku keluar rumah untuk menikmati kota kecil ini, dimana kemacetan menjamur di kota yang biasanya tak mengenal kata macet di kamusnya ini. Tak lupa agenda bukber dengan berbagai kelompok juga mengisi waktu selama pulang kampung ini.
Aku cukup beruntung sejatinya, masih sempat berkelana ke beberapa tempat di kota kuda ini. Paseban Tri Panca Tunggal, Kuningan Islamic Center, Linggarjati, adalah beberapa lokasi yang sempat kudatangi. Dan seperti biasa, senjata lengkap pun tak lupa selalu kubawa kemanapun melangkah. Kamera, sketchbook, dan kawan-kawannya selalu mengisi tas kecilku. Hasilnya, beberapa coretan tangan bertambah di sketchbook-ku selama liburan. Sebatas penyaluran hobi.

Wisata kuliner tak lupa dijalani mumpung di sana. Mulai dari hucap, rujak kangkung, hingga peuyeum ketan sukses dilahap. Hanya satu yang gagal, nasi kasreng. Maybe next time…
Tugas-tugas sejatinya tetap membayangi pikiran. Tapi aaah, keinginan menenangkan dan menyenangkan pikiran mengalahkan segalanya. Mungkin membaca buku adalah usaha paling poll haha.
Sebuah buku akhirnya tamat dibaca. Metropolis Universalis judulnya. Sudah lama punya tapi baru kali ini aku baca dari awal hingga akhir. Buku yang bercerita tentang kota-kota maju di dunia dan sejarahnya dan diakhiri dengan cerita tentang impian kota maju Indonesia. Menarik.
Oh ya, sempat juga aku menulis di medium ini waktu libur kemarin. Ya hanya sebatas menjaga fokus otak ini tentang kota (disamping memenuhi tugas lain hehe).
Memang terlanjur cepat tapi terlanjur banyak kenangan yang sulit lupa. Meskipun flat-flat saja, tapi momen 18 juli jelas terkenang. Dan Kuningan, meski riuhnya luar biasa di masa mudik, macet dimana-mana, tapi dengan adanya energi tersendiri yang bernama cinta, tetaplah menjadi pangbalikan sampurna.
Muhammad Rafialdy Janitra | 19914098/15414083