Perjalanan Imaji di Jerman

Lebih Dekat dengan Materialisme Dialektis


Bulan tak nampak malam ini. Bintang juga tak berkeliaran malam ini. Tapi tetap, tak menghalangi Imaji untuk menembus semua malam dan singgah pada tahun 1818 di Treves, Jerman. Sebuah tempat bersejarah. Bukan karena Treves adalah tempat yang sangat dipengaruhi oleh Perancis selama revolusi dan era Napoleon, tapi di sanalah sosok yang mempunyai pengaruh dalam Filsafat lahir. Dialah Karl Marx.

Peta Treves atau Trier, Prusia, Jerman.

Imaji ini berkelana lagi ke tahun 1843, saat Karl Marx bertemu pertama kali dengan Engels di Perancis. Saat Engels menceritakan tentang tenaga kerja dan perekonomian Inggris.

Imaji berkelana beberapa waktu ke depan. Ia menemukan tempat itu. Sebuah taman di Bishkek. Tempat yang ia cari untuk mencari jawaban.

Sebuah taman di Bishkek, tempat Karl Marx dan F. Engels kerap bercengkrama

Imaji tersenyum tipis. Imaji menghampiri mereka yang tengah bercakap santai siang itu. Imaji mengangkat topinya. Memperkenalkan dirinya dan menyampaikan tujuannya berkunjung hari itu. Imaji menanyakan tentang dialektika, teori yang dikemukakan oleh Hegel yang terkenal itu. Tentang thesis, anti-thesis dan sintesis. Ya, tentang tritunggal yang panjang itu. Mereka mempersilahkan Imaji bergabung dan duduk diantara mereka berdua. Setelah sedikit basa basi, lalu merekapun menawarkan metode dialektika yang lain yang lebih menjanjikan daripada milik Hegel. Materialisme Dialektis, namanya. Imaji tertarik. Imaji menggeser kursinya lebih dekat dengan Marx dan Engels. Ini cerita yang aku harapkan dengar dari mereka. Pikir Imaji.

Materialisme Dialektis adalah pandangan dunia Partai Marxis-Leninis. Ia dinamakan materialisme dialektis sebab caranya mendekati gejala-gejala alam, caranya mempelajari dan memahami gejala-gejala ini adalah dialektis, sedangkan keterangannya (interpretasinya) mengenai gejala-gejala alam, pengertiannya mengenai gejala-gejala ini, teorinya, adalah materialis.

“Sebenarnya apa perbedaan dialektis kalian dengan milik Hegel, tuan-tuan?” tanya Imaji penasaran.

“Metode dialektis saja,” kata Marx. “Menurut dasarnya tidak saja berlainan dari metode Hegel, tapi adalah lawannya langsung. Bagi Hegel, proses berfikir, yang, dengan nama ‘Ide’ olehnya malahan diubah menjadi subjek yang berdiri sendiri, adalah penciptanya (demiurge) dunia nyata, dan dunia nyata itu hanyalah bentuk luar, bentuk gejala dari ‘Ide’. Sebaliknya bagi saya, yang ideal itu, tidaklah lain daripada dunia materiil yang dicerminkan oleh pikiran manusia, dan diwujudkan menjadi bentuk-bentuk pikiran.” (Karl Marx, Kapital, Jilid I, halaman 30, George Allen & Unwin Ltd, 1938)

“Kalau begitu, bukannya akan sama saja dengan Feuerbach? Tuan Feuerbach bukankah telah memulihkan materialisme ke tempat yang semestinya?” tanya Imaji lagi.

“Sekalipun dasarnya materialis, Feuerbach tetap terikat oleh belengu-belengu idealis yang tradisionil dan bahwa idealisme yang sesungguhnya dari Feuerbach menjadi terang segera setelah kita sampai pada filsafatnya tentang agama dan etika.” (Karl Marx, Pilihan Tulisae, Edisi Inggris, Moskow 1946, Jilid I, halaman 373,375).

Imaji merasa tercerahkan. “Dialektika berasal dari perkataan Yunani dialego, artinya bercakap-cakap, berdebat. Dalam zaman kuno dialektika adalah cara mencapai kebenaran dengan membeberkan kontradiksi-kontradiksi dalam argumen seorang lawan dan mengatasi kontradiksi-kontradiksi ini. Dalam zaman kuno ada ahli filsafat-filsafat yang percaya bahwa membeberkan kontradiksi-kontradiksi dalam pikiran dan bentrokan pendapat-pendapat yang bertentangan adalah cara yang terbaik untuk mencapai kebenaran. Cara berpikir yang dialektis ini kemudian diperluas sampai pada gejala alam, dikembangkan menjadi metode dialektis dalam memahami gejala alam, yang memandang gejala alam sebagai senantiasa dalam keadaan bergerak dan senantiasa mengalami perubahan, dan menganggap perkembangan alam sebagai akibat perkembangan kontradiksi-kontradiksi dalam alam, sebagai akibat saling mempengaruhi kekuatan yang bertentangan dalam alam.”

Kami bercerita panyang lebar, dan aku mencatat beberapa hal yang membuat materialisme dialektis dengan metafisika. Ciri-ciri pokok metode dialektis Marxis yang dicatat Imaji sangat berlawanan dengan metafisika. Pertama,dialektika berpandangan alam bukanlah tumpukan dari beberapa hal. Mereka bukan tercipta karena suatu kebetulan saja, tapi saling berhubungan secara utuh, bergantung dan saling menentukan. Dengan demikian, suatu gejala, bisa dimengertidan diterangkan kalau dipandang dalam hubungannya yang takterpisahkan dengan gejala-gejala disekelilingnya, sebagai gejala yang ditentukan oleh gejala-gejala disekitarnya.

Kedua, dialektika berpendapat bahwa alam adalah keadaan yang terus menerus bergerak dan berubah, keadaan yang terus menerus menjadi baru dan berkembang, dimana sesuatu senantiasa timbul dan berkembang dan sesuatu senantiasa rontok dan mati. Maka, dialektis menghendaki supaya gejala-gejala dilihat bukan saja dair sudut hubungan dan bergantungnya satu sama lain, tapi juga dari sudut gerak, perubahan, perkembangan, kelahiran, dan kematiannya.

“Seluruh alam,” kata Engels, “dari yang sekecil-kecilnya sampai pada yang sebesar-besarnya, dari sebutir pasir sampai pada matahari, dari protista sampai pada manusia, adalah dalam keadaan senantiasa timbul dan lenyap, dlaam keadaan senantiasa mengalir, dalam keadaan bergerak dan berubah yang tak henti-hentinya.” (F. Engels, Dialektika Alam)

“Dari itu, dialektika,” kata Engels, “memandang segala sesuatu beserta gambaran-gambaran tanggapannya pada hakekatnya dalamhubungannya satu sama lain, dalam rangkaiannya, dalam geraknya, dlam timbul lenyapnya.” (F.Engels, Anti-Diihring)

Ketiga, dialektika menganggap proses perkembangan sebagai suatu perkembangan yang melalui perubahan kwantitatif yang tidak berarti dan tidak kelihatan keperubahan yang terbuka dan fundamental, ke perubahan kwalitatif, suatu perkembangan dimana perubahan-perubahan kwalitatif tidak terjadi dengan berangsur-angsur, melaikan dengan cepat dan mendadak, dalam bentuk lompatan dari satu keadaan ke keadaan lainnya, perubahan-perubahan kwalitatif itu tidak terjadi secara kebetulan tapi sebagi akibat yang sudah sewajarnya darisuatu tumpukan perubahan kwantitatif yang tidak kelihatan berangsur-angsur.

Keempat, berlawanan dengan metafisika, dialektika berpendapat bahwa kontradiksi-kontradiksi intern terdapat di dalam segala sesuatu dan gejala, karena semuanya ini mempunyai segi-segi negatif dan positifnya, masa lampau dan masa depannya, sesuatu yang berangsur-angsur mati dan sesuatu yang berkembang dan bahwa perjuangan antara pertentangan-pertentangan ini, perjuangan antara yang lama dan yang baru, antara apa yang sedang mati dengan yang sedang lahir, antara apa yang sedang lenyap dengan yang sedang berkembang, merupakan inti-sari proses perkembangan, inti-sari perubahan-perubahan kwantitatif ke perubahan kwalitatif.

“Saya akan mengutip apa yang Lenin katakan.” Ujar Marx. “Menurut artinya yang sebenarnya, dialektika adalah studi tentang kontradiksi di dalam hakikat segala sesuatu itu sendiri.” (Lenin, Buku Catatan Filsafat, Edisi Rusia, halaman 263)

“Ya, perkembangan adalah ‘perjuagan’ dari yang bertentangan,” lanjut Engels. (Lenin, Pilihan Tulisan-Tulisan, Edisi Rusia, Jilid XIII, halaman 301)

“Sungguh sangat mengagumkan dialektika ini. Tapi bagaimana dengan materialisme itu sendiri? Apakah ada yang berbeda dengan apa yang telah diutarakan para Hegelian diluar sana?” tanya Imaji. Engels tertawa. Marx berdehem, melirik Engels yang terlihat senang menggoda Imaji. “Idealisme tidak baik untukmu, anak muda.”

Pertama, berlawanan dengan idealisme, yang menganggap dunia sebagai penjelmaan suatu, ide yang mutlak, suatu jiwa universil, kesadaran, maka materialisme yang saya yakini adalah dunia menurut sifatnya sendiri adalah materiil, bahwa gejala-gejala yang bermacam-macam dari dunia merupakan berbagai bentuk materi yang bergerak, bahwa saling berhubungan dan saling bergantungnya gejala-gejala, sebagaimana ditetapkan oleh metode dialektis, adalah hukum perkembangan materi yang bergerak, dan bahwa dunia berkembang sesuai dengan hukum-hukum gerak materi dan tidak memerlukan sesuatu jiwa universil.” Kata Marx.

“Pandangan dunia materialis tentang alam,” kata Engels, “adalah semata-mata penanggapan alam sebagaimana adanya, tanpa tambahan sesuatupun dari luar.” (F. Engels, Ludwig Feuerbach, Edisi Inggeris, Moskow 1934, hal. 79).

Kedua, materi, alam, yang ada, adalah kenyataan yang objektif yang berada diluar dan terlepas dan kesadaran kita bahwa materi adalah primer, karena ia adalah sumber perasaan, ide, kesadaran, dan bahwa kesadaran, adalah sekunder, akibat, karena ia adalah refleksi materi, refleksi yang ada; bahwa kesadaran adalah hasil materi, yang dalam perkembangannya telah mencapai tingkat kesempurnaan yang tinggi, yaitu otak, dan otak adalah alat untuk berpikir dan bahwa karena itu kita tidak bisa memisahkan pikiran dari materi tanpa membikin kesalahan besar.” Terang Engels.

“Dunia yang materiil, yang bisa ditanggap dengan panca-indera dalam mana termasuk diri kita sendiri, adalah satu-satunya kenyataan. Kesedaran dan pemikiran kita, bagaimanapun juga tampaknya seakan-akan diluar tanggapan panca-indera, adalah hasil anggota tubuh jasmani yang materiil, yaitu otak. Materi bukanlah hasil kesadaran, tapi kesedaran itu sendiri hanyalah hasil yang tertinggi dari materi.” (Karl Marx, Pilihan Tulisan-Tulisan, Edisi Rusia, Jilid I, hal. 332).

Mengenai soal materi dan pikiran, Marx mengatakan, “Tidaklah mungkin untuk memisahkan pikiran dari materi yang berfikir. Materi adalah subjek dari semua perubahan”. (Karl Marx, Pilihan Tulisan-Tulisan, Edisi Rusia, Jilid I, hal. 335).

Ketiga, dunia dan hukum-hukumnya sepenuhnya bisa diketahui, bahwa pengetahuan kita tentang hukum-hukum alam, yang diuji dengan percobaan dan praktek, adalah pengetahuan yang benar yang mempunyai kekuatan kebenaran yang objektif. Tidak ada sesuatu didunia ini yang tidak bisa diketahui, yang ada hanyalah hal yang belum diketahui, tetapi yang akan terbuka dan menjadi diketahui dengan usaha-usaha ilmu, dan praktek.” Engels menambahkan.

“Saya menangkap materialisme dialektis ini sungguh berbeda. Mudahlah untuk dipahamkan bagaimana amat sangat pentingnya perluasan prinsip-prinsip materialisme filsafat pada studi tentang kehidupan sosial, tentang sejarah masyarakat, dan bagaimana amat sangat pentingnya pemakaian prinsip-prinsip ini pada sejarah masyarakat dan pada aktivitas praktis Partai proletariat. Kalau hubungan antara gejala-gejala alam dan saling bergantungnya gejala-gejala itu adalah hukum-hukum perkembangan alam, maka kelanjutannya ialah bahwa hubungan dan saling bergantungnya gejala-gejala kehidupan sosial adalah juga hukum perkembangan masyarakat, dan bukan sesuatu yang kebetulan.

Maka itu, kehidupan sosial, sejarah masyarakat, tidak lagi menjadi timbunan kedjadian-kejadian kebetulan yang mistis, melainkan menjadi sejarah perkembangan masyarakat menurut hukum-hukum yang tetap, dan studi tentang sejarah masyarakat menjadi suatu ilmu.”Ungkapku. Dari sudut mata Imaji, ia melihat Engels tersenyum puas. “Kau sudah mengerti rupanya, nak.”

Pertemuan itu, kami tutup dengan beberapa cerita tentang kaitannya dengan kejadian-kejadian di masa itu. Tentang kaum sosialis dan komunis, partai proletariat, perekonomian dan beberapa hal lain. Waktu bergulir dengan cepat, dan Imaji harus kembali ke waktu ia berasal. Ia mendapat banyak pelajaran dari perjalanan kali ini. Sebelum perpisahan, mereka saling berjabat tangan. Karl Marx menyampaikan sebuah kalimat, seperti menjawab beberapa pertanyaanku sekaligus tentang penyebab beberapa hal dapat terjadi di masa Imaji berasal.

“Bukanlah kesadaran manusia yang menentukan keadaannya, tetapi sebaliknya, keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka.” (Karl Marx, Pilihan Tulisan, Edisi Inggris, Moskow 1946, Jilid I, hal. 300).

Imaji melangkah keluar pintu. Menatap langit yang masih betah dengan kegelapannya. Sisi ini gelap karena ada terang di sisi yang lain. Imaji tersenyum. Perjalanannya masih panjang dan lama. Ia tidak perlu terburu-buru, masih banyak guru yang harus ia kunjungi.


Yulida Rachmawati — 15414059