Pesan dari Bumi Lancang Kuning


Seorang gadis berdiri dengan hati gusar. Kakinya sudah menginjak Bandar Udara Soekarno-Hatta, namun hatinya tidak di sana. Dengan langkah gontai, ia melangkahkan kaki ke antrean para calon penumpang yang akan memasuki terminal. Matanya tertuju pada papan pengumuman. GA174. Pekanbaru. 10:25. ‘Ah mengapa harus Pekanbaru. Mengapa Ayah tidak bisa pulang lebaran ini. Aku ingin ke Semarang. Harus berapa lama lagi aku meninggalkan rumah setelah 7 bulan tidak ke sana.’ keluhnya dalam hati.

“Boleh lihat tiketnya?” tanya pria yang ada di hadapan gadis itu. Diserahkannya selembar tiket diikuti arahan dari penjaga untuk menuju x-ray. Setelah check in, ia bergerak menuju ruang tunggu. Diamatinya kondisi ruang tunggu tersebut. Tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi. Didudukinya salah satu kursi yang berada di dekatnya kemudian ia mengambil dan memperhatikan boarding pass miliknya. Gunarso/Chintya Jasmine, tertulis namanya disana. 10:05, tertulis pula waktu boarding pesawat yang akan dinaikinya. Matanya beralih ke jam tangan yang ia kenakan. Jam sudah menunjukkan pukul 10:05. Tak berapa lama terdengar pengumuman dari pengeras suara, “Ditujukan kepada seluruh penumpang Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA174 tujuan Pekanbaru, penerbangan Anda mengalami keterlambatan dikarenakan keterlambatan kedatangan pesawat dari Makassar”. Dihembuskannya napas panjang. Segera ia membuka telepon genggamnya, membuka internet dan membunuh waktu.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — -

“Selamat datang di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Tidak ada perbedaan waktu antara Pekanbaru dan Jakarta. Mohon tetap duduk hingga pesawat berhenti dengan sempurna dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah dipadamkan”, suara pramugari dengan indahnya menyambut mendaratnya pesawat di bumi lancang kuning. “Here we go, setidaknya tempat baru, eksplorasi baru, pengalaman baru.” ucapnya perlahan untuk menyemangati hatinya. Dihirupnya udara setelah ia keluar dari bandara. ‘Selamat datang, Chintya”, ujarnya lagi pada dirinya seraya menaiki kendaraan ayahnya.

Sepanjang jalan, Chintya memperhatikan baik-baik suasana Kota Pekanbaru. Jumlah kendaraan tidak terlalu banyak. Jalan yang ada pun cukup lebar. Namun yang menjadi ketertarikannya pada kota ini adalah bangunan-bangunan publiknya. Hampir semua bangunan memiliki unsur rumah adat Riau, entah hanya pada bagian atap maupun secara keseluruhan eksterior. Chintya pun tersenyum. Ada sentuhan kecil di hatinya ketika melihat sebuah kota masih mempertahankan ciri kebudayaan mereka. Perjalanan masih berlanjut hingga sampailah Chintya di tengah kota. Masih diperhatikannya keadaan sekitar. Lebih ramai dari daerah sekitar bandara, namun tetap saja tidak ada kemacetan. Dilihatnya bangunan di kanan dan kiri. Berdiri dengan megahnya Kantor Gubernur Riau, Kantor DPRD, dan kantor pemerintahan lainnya yang masih menonjolkan bentuk rumah adat Riau. Hingga tak terasa sampailah Chintya di rumah dinas ayahnya. Segera ia mengambil koper, masuk rumah dan beristirahat.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

“Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar”, takbir bersautan malam itu, menandakan Ramadhan telah berakhir dan Idul Fitri telah datang. Seperti biasa malam itu Chintya dan keluarganya berkumpul di ruang makan untuk berbuka puasa dan bertukar cerita akan hari yang sudah dialami. Chintya tidak berniat mengutarakan cerita hari itu. ‘Orang aku hanya diam di rumah, buka line, buka instagram, nonton tv, ngobrol sama kakak, ngobrol sama ibu, apa coba yang harus diceritakan’, batinnya dalam hati. Akhirnya ibunya memulai pembicaraan dengan menceritakan acara yang ditontonnya tadi siang. Lambat laun semua orang membuka suara, memberikan komentar, menyeletukan lelucon kecil dan semua tertawa.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Satu Syawal pun tiba. Hari masih pagi namun semua orang sudah sibuk dengan aktivitasnya. Chintya sibuk mengumpulkan nyawanya untuk mandi. Ayahnya sibuk mencari baju koko. Ibunya sibuk bersolek. Kakaknya sibuk menggulungkan dirinya di selimut. “Adek, Mas, cepet mandi”, teriakan Ibunya sudah menggema. Segeralah mereka terpanggil untuk berangkat mandi.

Atmosfer Idul Fitri di Pekanbaru terasa agak berbeda, namun rutinitas Idul Fitri tetap sama. Setelah melakukan Sholat Eid, Chintya dan keluarganya berkumpul di kantor ayahnya dan dimulailah acara halal bi halal. Ketika orang tuanya sibuk bersalaman, yang ada di pikiran Chintya hanya satu, ia ingin mencicipi banyak hidangan. Setelah halal bi halal di kantor ayahnya, Chintya dan keluarganya mulai berkeliling lagi untuk mendatangi open house beberapa atasan ayahnya. Tak terasa hari telah siang. Mereka sudah lelah sehingga tidak nampak tradisi sungkem di rumah itu. Namun tetap dengan syahdu mereka bermaafan hingga tak terasa air mata mengalir.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Rutinitas Chintya sebelum lebaran pun terulang, bangun tidur, membantu ibunya mengepel dan mencuci, menonton televisi, membuka line, membuka instagram, terlalu standar untuk dijadikan momen libur lebaran. Hingga suatu siang “Dek”, panggil Ibunya, “Adek kan dulu di Semarang nyetir belum lancar, terus di Bandung nggak pernah latihan lagi, kemarin Mama sama Papa mikir daripada kamu nggak ada kerjaan di rumah, kenapa kamu nggak les nyetir lagi, bisa jadi kamu malah hapal Pekanbaru nanti.” ‘Les nyetir di Pekanbaru? Hm menarik’ pikirnya. “Boleh deh ma”, jawabnya.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — -

Hari pertama les pun tiba. Dengan sedikit gugup Chintya menunggu pengajarnya. Tak berapa lama pengajarnya pun tiba. Segera ia masuki mobil dan mulai menyetir. Hari pertama ia habiskan berkeliling kota Pekanbaru. Semakin dekat saja ia dengan kota asing tersebut. Hari kedua kembali ia kelilingi kota Pekanbaru sampai ke permukimannya. Tidak nampak perumahan padat penduduk, yang ada justru rumah dengan kanan dan kiri rerumputan. Sungguh berbeda dengan kota besar di Jawa.

Hari ketiga cukup berbeda. Ada sedikit kejutan dari sang pengajar “Hari ini kita nyetir 2,5 jam ya”, kata sang pengajar. Chintya agak terkejut tapi ia mengiyakan. Sepanjang jalan ia hanya mengikuti arahan dari pengajar untuk berbelok ke kanan, kiri, atau lurus. Sampai akhirnya Chintya merasa ada yang berbeda. Jalan yang ia lewati sudah bukan jalan perkotaan. Jalan tersebut lurus, beraspal, dan jumlah kendaraan yang lewat dapat dihitung dengan jari. Karena penasaran, Chintya pun mulai melirik ke kanan kiri, mencari tahu apakah ada plang toko atau kantor yang biasa menunjukan nama daerah. Hingga terbaca suatu nama. Pasir Putih. Kabupaten Kampar. Chintya terkejut. Rupanya ia sudah berada di perbatasan menuju luar kota. Tidak ada rasa takut di hatinya, yang ada justru semangat, karena ia dapat menyetir sampai ke luar kota. Semangat itu semakin bertambah ketika ia melewati perkebunan kelapa sawit. Pemandangan yang ditawarkan sepanjang jalan tersebut adalah perkebunan kelapa sawit. Suatu pemandangan dan pengalaman tak biasa. Tepat 2,5 jam dan Chintya kembali ke rumah. Diceritakannya pengalaman tersebut dengan senyum yang tak hilang di wajahnya.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — -

Malam itu Chintya tidak dapat tidur. Semua baju telah ia kemas, tanda esok hari ia harus kembali ke Bandung. Ia kembali memutar ingatannya akan ketidaksukaannya untuk pergi ke Pekanbaru yang akhirnya mulai tergantikan dengan kekagumannya pada kekentalan budayanya, keindahan perkebunan kelapa sawitnya, dan yang terpenting, keluarga. Walaupun ia tidak melakukan apapun di sana, namun yang ia dapatkan adalah kehangatan untuk berkumpul berbuka puasa atau makan malam bersama dan bertukar cerita, suatu yang sudah lama tak ia dapatkan di tanah rantau. Ia ingat bahwa ia enggan pergi ke Pekanbaru dengan alasan rindu rumah, ingin pulang ke rumah di Semarang. Padahal mungkin saja bila ia ke Semarang, yang ia dapatkan hanya sebuah benda bernama rumah. Malam itu ia juga menyadari bahwa rumah bukan sekedar tempat, namun rumah adalah perasaan. Home is not place, it is a feeling.

Chintya Jasmine Gunarso

15414018/19914123