Segudang Cerita Untukmu

Sudah lama ku tak rasakan rumah yang hangat, dekapan ibu dan ayah atau sekedar tawa jenaka berlapis keisengan kakak tersayang. Lebay sih, baru aja pulang dalam sebulan yang lalu, tapi jujur, hingga hanya dengan mengingat aroma masakan ibu pun sudah membuatku lapar, ya aku merindukan rumah berisikan orang-orang konyol itu. Tak kuat menahan rasa ini langsunglah kupesan tiket untuk pulang ke Depok, kota yang masihkah disebut kota? Atau hanya berisikan rumah dan gedung berserakan mungkin karena jalan tak beraturan dengan hiasan tiang listrik di tengah jalan, mungkin hanya perasaanku saja. Lucu sekali aku tak mempersiapkan kepulanganku hingga kuterburu-buru lari dari kampus selesai interaksi dan menata baju saat itu juga, dengan jadwal yang mepet yaitu jam setengah 8 temanku berbaik hati mengantarkanku ke tempat travel yang berada tak jauh dari kediaman sementaraku. Sampailah aku di bis tepat 10 menit sebelum keberangkatan, dengan hati berdebar aku menduduki sebuah kursi di samping pengemudi dan mengucapkan doa.
10.25, jamku berkata, sungguh… parah… kemacetan… di sini… kalau Tuhan memperbolehkanku berjalan saja dari tempat ini mungkin sudah kulakukan, tetapi takut aku bila terlalu cepat bertemu dengan-Nya hanya karena masalah sepele seperti tertabrak mobil atau motor yang naik ke jalan untuk pejalan kaki, itu pun kalau masih ada jalan tersebut. Tepat jam 11.00 sampailah aku di kantor Aya Travel dan disambut oleh ayahku, kuberikan beliau pelukan hangat beserta salam dan juga segenap tas jinjing dari tanganku tanpa lupa sedikit tawa meledek dan langsung kabur ke mobil dan barulah kusadar… dimana mobilnya? Untung ga nyasar, mungkin bagi beberapa orang itu termasuk tidak sopan, ya emang ga sopan sih, but that is my family, konyol-jenaka-tawa-dan-canda tapi tetap respect terhadap orang tua kami ditambah lagi I am daddy’s little princess. Tanpa basa-basi langsunglah aku mengatakan “Bapak, mau keraaang” sungguh anak durhaka, lama ga pulang dateng-dateng malah minta makanan mulu, salah satu keuntungan anak bungsu cewek sendiri ya gini nih. Alhasil habislah tiga piring kerang dara. Once again, I am daddy’s little princess.
Ini adalah hari yang panjang bagiku, jadi kututup dengan tidur pulas di pelukan ibunda, tetapi itu semua berubah saat nyamuk menyerang, sekali dateng tuh bisa sampe 10 nyamuk penuh dengan darah di perutnya, mungkin rasanya begitu nikmat bila memukulnya dengan tangan sendiri, tetapi kakak pertamaku yang bernama mas Adri memberikan sebuah solusi, raket listrik nyamuk. Dengan kekuatan zeus akan kuhancurkan kalian para nyamuk yang telah menghisap darah keluargaku! Tapi tetap saja sampai sahur masih kudengar suara “nguuuuung” dengan efek suara “teplok!” saat menampar wajahku sendiri. Selain itu sempatlah ku takut pada sebuah benda berselimutkan seprai menutupi seluruh benda tersebut, berbentuk manusia, disitu aku takut apabila melihat sesuatu yang seharusnya tidak dapat manusia lihat, keteguhkan hatiku dan kuberanikan diri untuk membuka selimut tersebut, eh ada mas Adri. Jadi itu salah satu cara keluargaku menghindar dari serangan para nyamuk, bersembunyi dibawah selimut… Ya, bukan malam pertama yang indah.
Today is the day! Mengapa aku buru-buru pulang cepat? Selain karena kangen, karena kakakku yang kedua yaitu mas Wisnu seharusnya pulang! Sudah lama sekali kami tak berjumpa, sedikit cerita tentang kami tiga bersaudara ini, kami telah bersama dan menduduki sekolah yang sama sejak kecil, tetapi itu semua berubah saat kami beranjak ke bangku kuliah, kakak pertamaku bersekolah di Depok, kakak kedua ku di Jogja, sedangkan aku di Bandung. Sungguh sedih rasanya mengingat dua liburan lebaran terakhir lalu. Pada dua tahun yang lalu kami sempat berlibur ke Bali dan Lombok untuk beberapa hari, tetapi berakhir di Jogja untuk mengantarkan mas Wisnu ke kosannya untuk belajar disana, aku tak akan berbohong atas air mata yang mengalir di balik selimutku saat itu. Pada tahun lalu, mas Wisnu meluangkan libur yang panjang di rumah, sedangkan aku sedang berjuang untuk SBMPTN, tetapi terdapat suatu yang hilang dari keluargaku saat itu, yaitu mas Adri yang berada di luar negeri untuk studi nya. Tak kusangka akan terulang lagi, tahun ini aku melewatkan sebuah momen libur lebaran yang hanya setahun sekali yang bahkan aku tak tahu apakah masih ada umur panjang untukku nanti, momen tahun ini kami lewatkan tanpa mas Wisnu yang sedang melanjutkan sebuah kegiatan bernama KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Garut. Siapa sangka bila umurku panjang adalah giliranku tahun depan untuk melewatkan liburan lebaran nanti. This is for you bro, it’s not ‘Lebaran’ without you.
Kisah sedih lainnya mungkin dapat menunggu, tanpa berpikir panjang lebar untuk bersedih aku pun melanjutkan liburan puasa ini bermain bersama teman SMA-ku yaitu Ren an Neysa, kami pun buka puasa di rumah Ren, janjian jam 2 siang, dan baru bangun setengah 3, maafkan daku. Menyantap berbagai makanan dan juga kue buatan Neysa dan Ren adalah sesuatu banget apalagi disambi dengan menonton film Inside Out bersama mereka, film yang sangat direkomendasikan, lucu abis-bagus banget-tapi sedih-tapi bagus. Beberapa hari setelah itu aku juga berbuka puasa bersama teman SMP-ku yaitu Kania dan Neysa, tak usah banyak bingung, Neysa memang sahabatku sejak SD dahulu hingga saat ini, kami pun melewatkan waktu bersama dengan menonton film horror berjudul Gallows yang awalnya ingin aku ceritakan tetapi terlalu takut untuk kuingat jadi tidak usah ya, lalu dilanjutkan dengan berbuka puasa di Fiesta Steak House di MargoCity. Walaupun begitu aku tak bisa bertemu dengan teman-temanku yang lainnya, mulai dari bukber SD yang ga diundang atau bukber SMA yang bertepatan pada saat diklat divisi. I miss you kracie.
Beberapa hari telah kulewati, memang agak kesepian di rumah tanpa keberadaan si pembuat jengkel dan pusing kepala itu, tapi apa mau dikata, dia adalah kakakku. Rumah agak sedikit terselamatkan dengan keberadaan eyang kakung dari ayah di sini, walaupun sudah mulai lupa denganku, tetapi aku masih bisa ingat saat-saat dimana ia masih kuat bermain denganku dahulu. Untuk menghiburku yang telah lama tidak menonton tv karena di kosan ga ada tv ini, mas Adri menyetel beberapa film seri seperti Constantine, Marvel’s Agents of SHIELD, The Brink, dan Castle serta beberapa film sepanjang masa favoritku yaitu Frozen. Walaupun sambil nonton mas Adri sambil menertawakan film tersebut yang dianggapkan tidak masuk akal dan kekanak-kanakan yang diikuti oleh ayah dan ibuku yang berkata sama, tapi yasudahlah, semua orang punya kesukaannya masing-masing bukan?.
Tak terasa hari pun berlalu dan tibalah hari lebaran, tapi sejujurnya, aku tidak begitu merasakan aura atau suasana lebaran di keluargaku, seakan-akan hari berjalan tanpa ada hal yang berbeda, satu orang itu sangatlah berarti bukan?. Selesai shalat ied, aku dan kakakku beristirahat sebentar lalu kami berangkat mengunjungi keluarga ibu di Rawamangun, tetapi untuk pertama kalinya yang berangkat pada tahun ini hanya aku, mas Adri, dan Ibu. Bapak tidak berani meninggalkan eyang sendirian di rumah, tetapi tidak juga mengajak eyang terlalu lama diperjalanan panjang atas beberapa kondisi eyang saat ini, sedangkan mas Wisnu yang sampai saat ini tidak menunjukkan batang hidungnya. Bertambahlah atau malah berkurang? Rasa lebaran ini.
Di perjalanan aku ingin membuat suasana tetap ceria dan bergembira di hari raya ini, tetapi semua dikacaukan oleh cara mas Adri mengemudi yang sangat membuatku ketakutan karena sempat bersentuhan dengan mobil lainnya pada kecepatan yang cukup tinggi, tetapi yang lalu sudahlah berlalu, kami pun melanjutkan perjalanan ini, beruntunglah tidak ada korban saat itu, kalau iya, hancurlah sudah. Sampailah kami di rumah mbah, sepi sekali tak terlihat saudara kami satupun, ternyata benar, karena hari itu adalah hari Jumat sebagian orang telah pulang dan pergi ke tempat lain untuk mengejar shalat Jumat, dan ternyata mbah juga berada di rumah saudara yang lain, maka berkunjunglah kami kesana. Sedikit bertemu dengan saudara, bercengkrama, dan bermain bersama sepupu kecil, semua itu tak lepas dari bayanganku apabila mas Wisnu ada di sini, lebay katamu? Maaf saja.
Lebaran telah berlalu, hari pun juga tak terasa berganti hingga suatu malam terjadi suatu hal aneh “Suara apa itu?” tanyaku kepada ibu. Saat itu aku sedang mengerjakan beberapa tugas dan juga menonton tv di ruang tengah sedangkan ibuku sudah terlelap di sofa empuk berwarna coklat layaknya brownies, mas Adri seperti biasa focus terhadap komputernya bagaikan hidupnya berputar di sana, ayahku? Sedang pergi mencari light sabre untuk membasmi serangan nyamuk di malam hari, memang cumin malam hari kok, kalau siang mereka tertidur sepertiku. Fokusku memang mudah terganggu seperti saat itu kudengar suara aneh dari arah belakang kamar tidur orang tuaku, karena takut aku pun membangunkan ibuku “paling suara petasan dek” jawab ibuku dengan santainya sesaat terbangun dan melanjutkan film Amsale girls yang sedang ia tonton sebelum terlelap, medengar kalimat itu aku pun mulai mengingat sejumlah kejadian saat kumelihat dan mendengar langsung suara petasan “Kayaknya bukan petasan yang biasa deh bu, emang ada berapa macem bu?” tanyaku kepada ibuku “ga tau juga dek”, tanpa berpikir panjang aku melanjutkan lagi kegiatanku yang tertunda itu, hingga beberapa saat kemudian suaranya menjadi heboh dan menyeramkan, memang sudah terbayang di benakku akan scenario terburuk asal dari suara tersebut sebelumnya, walaupun ibu sudah berkata demikian, makin yakinlah aku bahwa ada sessuatu yang aneh, “Ini mah bukan petasan namanya!” segeralah aku melihat ke arah belakang melewati jendela rumahku, kumelihat segumpalan awan hitam dengan sinar merah api menyala menghiasi langit malam, tebakanku benar, rumah itu kebakaran.
“Bu bu bu bu! Ada kebakaran bu!” langsung loncatlah ibuku dari sofa “Apa? Dimana?” sungguh dekat dan terlihat jelas api itu yang memang berada di dekat rumahku, kakakku yang sedang berada di dunianya sendiri pun langsung ke ruang tengah dan agak sedikit panik mulai berpikir apa yang harus dilakukan, hanya satu yang terbayang padaku, bapak kemanaaaaaa!. Tanpa berpikir panjang kami keluar dan melihat betapa besar api telah melahap rumah tersebut, dengan segera ibuku membangunkan eyang dan membawanya keluar dari rumah. Setelah itu ibuku mulai mencari selang atau apapun yang dapat digunakan untuk memadamkan api yang hanya beberapa meter lagi mencapai rumahku, mas Adri pun membantu lingkungan sekitar, sedangkan aku hanya bertugas menjaga eyang dan berdo’a memohon perlindungan dari Allah SWT. Suasana pun memanas untuk beberapa lama karena ternyata yang dilakukan oleh sejumlah orang disana hanya berdiam diri dan mendokumentasikan seluruhnya di smartphone mereka, dengan gencar nya ibuku menyuruh dan membangunkan tetangga untuk memadamkan api, seakan hanya ibuku saja yang bergerak saat itu, sesaat ayahku dating, ayahku pun ikut membantu memadamkan api. Terlihatlah layaknya sinar dari surga yang menerangi mobil pemadam kebakaran, tak lama setelahnya api pun padam, tetapi rumah tersebut tidak terselamatkan, tidak ada korban jiwa karena orang yang berkediaman di rumah tersebut sedang pulang kampung, tak terbayang oleh diriku apabila rasa ingin pulangku sudah meluap-luap tetapi ternyata sudah tak ada lagi tempat untuk disinggahi. This is life.
Sudah berlalu kebakaran itu telah terjadi, tetapi desas-desus dan juga polisi masih mencari siapa di balik semua ini, banyak orang berkata itu tidak disengaja, ada juga yang berkata itu adalah rencana, siapa tahu? Hanya Tuhan yang tahu. Tak kusadari liburanku hanya tinggal sehari saja, esok aku harus pergi lagi ke Bandung untuk memindahkan beberapa barangku ke kosan yang baru. Telah banyak waktu yang telah kurengut untuk hal yang sia-sia, tetapi apabila diperhatikan sedikit demi sedikit, banyak sekali cerita berbagai macam warna di dalamnya. Aku hanya ingin berdo’a kepada Allah agar aku diberi kesempatan lebih banyak lagi untuk membuat kenangan yang indah, terutama saat liburan lebaran bersama keluargaku, kelak aku akan berterima kasih kepada diriku yang ini atas doaku itu, atau mungkin aku akan menyesal? Sekali lagi, hanya Tuhan yang tahu.
Berbagai kejadian telah terjadi, memang tidaklah semua hal itu menyenangkan, karena tidaklah semua memori itu indah, tetapi apabila ditanya bagaimana liburanku? Aku punya segudang cerita untukmu, bagaimana dengan liburanmu?
Indira Dwesy Ariyani — 15414080