Sepi dan Ramai
Libur. Sebuah kata yang selalu dinanti-nantikan. Terlebih saat kepenatan yang menyesak datang menyerang. Seumpama koma dalam kalimat tak berusai, libur adalah jeda di antara kegiatan yang berkepanjangan. Seumpama koma juga yang meminta sedikit tinta dari banyaknya tinta yang digunakan untuk menulis, libur meminta waktu dan kegiatan untuk dikerjakan. Tetapi meskipun libur itu terkadang tampak kosong, ia tidak benar-benar kosong karena waktu tidak akan berlalu hanya dengan kekosongan.
Sekarang aku akan bercerita tentang liburan ku. Ada yang bagiku cukup berbeda dengan liburan bila dibandingkan hari biasa, yaitu mulai sepinya lingkungan di sekitar ku. Kampus mulai sepi, hanya ramai di jam-jam tertentu. Kosan mulai sepi, hanya diisi dengan mereka yang masih ke kampus. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumahku di Jakarta yang ternyata juga….. sepi. Ya, tak ada siapa-siapa. Hanya suara jam dinding yang berdetak setiap detik, atau cicak, atau nyamuk yang datang dan mendengung di sekitar telingaku.
Sendiri dengan laptop, novel, hp, dan televisi, aku menghabiskan banyak dari hari liburan ku bersama mereka. Bila jam memang belum tepat, sendiri dan sepi itu memang tidak dapat terelakkan. Tapi kadang dengan sendiri itu, kebahagiaan datang untuk menghibur sesak akan penat. Layaknya ruangan yang dipenuhi barang berserakan, ia akan membuatmu lebih bahagia saat ruangan itu dikosongkan untuk dirapikan. Meskipun saat sendiri kegiatan liburan terasa kosong, tapi tidak juga karena apa yang ada di sekitar ku dapat digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Seperti membaca novel sejarah misalnya? Ah itu mungkin terlalu berat.
Sudah cukup dengan kesendiriannya. Kedua orang tua ku memang sibuk bekerja dan aku adalah seorang anak tunggal. Tapi, seperti yang kusebutkan sebelumnya, akan ada saat ketika jam berada di waktu yang tepat dan kedua orang tua ku pulang. Rumah pun menjadi lebih ramai. Suara perbincangan dan gelak tawa bukan lagi suara dari speaker laptop. Akhirnya.
Ada yang sangat aku suka dari libur lebaran, yaitu cuti bersama. Orang tua ku pun bisa lebih bebas untuk mengambil cuti karena kantor cenderung maklum. Tentu saja karena keberadaan budaya mudik. Tapi keluarga ku tidak mudik, keluarga besar ku bertempat tinggal di sekitar Jabodetabek. Begitu libur lebaran datang, kami pun berkumpul di satu tempat dan menginap. Bersantai, berbincang, dan bersenda gurau. Setelah kumpul keluarga usai, aku pun kembali ke rumah. Namun kali ini tidak untuk sendirian, tapi untuk bersama orang tua ku.
Biasanya, aku dan orang tua ku menghabiskan waktu cuti bersama untuk berlibur ke daerah-daerah lain di luar Jakarta. Biasanya pula kami sibuk menyambangi mall-mall di dalam Jakarta. Tapi libur kali ini tidak seperti biasanya. Suasana rumah yang sedang berantakan karena renovasi tidak mengizinkan kami melakukan kegiatan tersebut. Kami harus membersihkan dan merapikan dua rumah, ya dua rumah, rumah yang sedang direnovasi dan rumah yang sedang kami tinggali sementara. Kalau kamu bertanya mengapa aku tidak menyebutkan bersih-bersih rumah saat sedang sendiri, bukan karena tidak membersihkannya, tapi karena itu bukan kegiatan utama. Tapi ketika orang tua ku cuti, bersih-bersih dan rapi-rapi menjadi kegiatan utama. Suasana pun berubah menjadi ramai.
Sudah beberapa hari kami membersihkan rumah dan menyiapkan barang untuk dipindahkan dari rumah sementara ke rumah yang telah direnovasi. Tetapi baru kemarin, rumah yang direnovasi itu siap untuk ditinggali. Baru saat itu pula, kami memindahkan barang. Barang yang harus dipindahkan ternyata sangat banyak dan sampai saat ini masih belum selesai. Semoga esok hari semua barang sudah selesai dipindahkan dan rumah kembali rapi. Aamiin.
Ada beberapa hal yang kupelajari dari liburan kali ini, hal pertama adalah rajin-rajin lah pulang meski rumah sesepi lapangan tanah kosong karena orangtua pasti bahagia anaknya pulang. Hal kedua adalah seberapa banyak pun pekerjaan yang dimiliki, hanya bekerja keras bukan lah jawaban yang tepat, tapi bekerja keraslah dengan strategi.
Pratiwi Prameswari
19914188/15414023