Silaturahmi Alam dan Budaya
Pada bulan Ramadhan kali ini seperti biasa saya dan keluarga mudik ke rumah nenek saya yang ada di Klaten Jawa Tengah, melihat kegagalan keluarga kami yang tidak sempat melaksanakan solat Ied karena terjebak di perjalanan, keluarga saya memutuskan untuk berangkat mudik H-2 Lebaran yaitu pada hari Rabu tepatnya Rabu pukul 2 siang kami berangkat menggunakan mobil pribadi.
Waktu perjalanan yang ditempuh tidak tentu, tetapi rata2 membutuhkan waktu 12 jam. Karena kendaraan kami sempat terjebak macet di daerah Garut sehingga waktu yang diperlukan lebih lama. Akibat energi kami yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah hotel yang ada di Kota Banjar.
Keesokan harinya.
Saya dan keluarga melanjutkan perjalanan pukul 8 pagi. Karena ada pengalihan jalan di Kota Sumpiuh perjalanan kami dialihkan menuju jalan alternatif yaitu melewati Pantai Ayah dan gunung yang berkelok, sehingga kami tiba di Klaten pukul 10 malam pada hari yang sama. Dalam perjalanan menuju rumah nenek saya melihat pemandangan yang tidak biasa yaitu anak-anak kecil sedang berparade berkeliling desa sambil mengumandangkan takbir. Saya sempat merasa heran ternyata masih ada anak-anak yang dengan senang hati melakukannya , juga saya melihat anak yang lebih dewasa membawa obor sebagai penerang tanpa menggunakan senter.
Keesokan harinya saya dan keluarga besar sholat ied di dekat rumah setelah itu saya dan keluarga berkeliling desa untuk bersilaturahmi dengan para kerabat. Pada hari Senin saya dan keluarga mencoba pergi ke kalibiru Kulonprogo karena penasaran dengan cerita orang-orang. Saya bersyukur hidup di zaman modern, dengan menggunakan GPS kami dapat mengetahui rute jalan yang akan dilalui. Namun tidak ada perjalanan yang mulus, di awal perjalanan kami sangat memuja mulusnya jalan dalam rute kami karena jalan tersebut sangat baik, mungkin karena jalan tersebut tidak banyak yang melaluinya. Mobil kami melaju semakin cepat dan di suatu persimpangan kami kaget karena tiba-tiba jalan yang mulus berubah menjadi jalan berbatu ,”oh, ini mah jalannya belum selesai” Saya bergumam dalam hati. Kami sudah khawatir tidak akan sampai ke tempat yang dituju, bahkan sempat berpikir akan pulang apabila tidak menemukan jalan yang mulus . Tapi kami mencoba terus jalan sampai akhirnya kami keluar dari hutan dan sampai di jalan utama. Kami bersyukur, ternyata jalan sebelumnya lebih seperti jalan pintas menuju kesana. Harapan kami hampir pupus hingga kami melewati tulisan selamat datang di area wisata kulon progo. Nyatanya Walaupun Kulonprogo ini kurang terkenal ternyata banyak wisatawan yang berkunjung, kebanyakan wisatawan berasal dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. Kami melewati waduk yang cantik bernama waduk sermo yang sebelumnya kurang terkenal namun dengan adanya media sosial banyak orang yang penasaran dan hal itu memberikan efek yang beragam . Selain bisa menjadi wisata, waduk juga bisa membangun PLTA, dan penduduk disekitarnya dapat menambah penghasilan dengan berjualan makanan disekitar waduk.

Lalu perjalanan diteruskan menuju kalibiru. Kalibiru merupakan puncak bukit yang mana disediakan tempat foto berupa papan di pohon dan kita bisa melihat pemandangan yang ada di bawahnya yaitu waduk sermo. Perjalanan menuju ke kalibiru bisa dibilang sangat sulit khususnya kendaraan roda empat dan sulit akan tempat parkir. Selain jalannya yang memiliki tanjakan maupun turunan yang sangat curam juga jalannya sangat sempit. Tidak ingin mengambil risiko kami putuskan untuk menitipkan mobil 2 km sebelum tujuan karena jalannya yang semakin mendaki dan memutuskan untuk naik ojek yang disediakan masyarakat sekitar dengan tarif tidak murah tentunya. Dengan tekad yang kuat kami akhirnya sampai ke kalibiru. Tidak sedikit wisatawan yang memaksakan kendaraannya untuk terus melaju menuju tempat wisata. Setelah naik ojek kami tetap harus jalan 200 m untuk sampai ke puncak. Sangat melelahkan, namun rasa lelah itu hilang setelah kami tiba di puncak . Pemandangan hutan yang hijau dan waduk yang cantik begitu memanjakan mata, namun disayangkan daerah tersebut kurang tertata dan kurang pengamanannya. Kami pulang sore hari dan sampai kembali ke rumah pukul 10 malam.
Hari berikutnya saya dan keluarga pergi ke undangan teman ayah saya yang di solo. Yang saya perhatikan dengan cermat jujur saja bukan acaranya, karena saya tidak mengerti pembicara yang menggunakan bahasa Jawa namun yang diperhatikan adalah adat yang digunakan saat pernikahan berbeda dengan yang ada di daerah Bandung. Di sana makanan tidak disajikan prasmanan namun telah disiapkan per porsi dari mulai pembuka, makanan utama, penutup dan disajikan oleh penyaji. Begitu sederhana namun tetap hikmat, dan bukan hanya itu. Biasanya tamu menghampiri mempelai pria dan wanita untuk memberi selamat namun disini mempelai wanita dan pria bersama keluarga berbaris terpisah dan bersalaman dengan tamu saat para tamu meninggalkan tempat undangan. Jadi acara undangan dibatasi dari pukul 10 sampai pukul 12. Setelah menghadiri undangan kami pergi jalan-jalan ke keraton dan membeli oleh-oleh. Keesokan harinya kami pulang pukul 3 pagi dan membutuhkan setidaknya 24 jam untuk sampai Bandung.
Endriana Prasetyawati — 19914107- 15414097