Yuk, jelajahi dulu negeri sendiri


“Dunia itu seluas langkah kaki,Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah,Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupandan menyatu denganya” Soe Hok Gie.

Ini yang ke tujuh kalinya,menempuh sekitar 1465 km dari Cimahi menuju pulau sebrang.Berjam-jam rela antri menunggu kapal penyebrangan membawa kami ke pulau yang terkenal dengan harimaunya itu.Bukan tujuan yang menjadi prioritas kami tapi momen.Momen ketika kita berkumpul bersama menikmati kilometer demi kilometer menempuh perjalanan melintasi satu demi satu wilayah.

Jauh dibandingkan pertama kali kami pergi,dahulu jalanan masih sangat sepi,penginapan masih jarang,hampir setengah perjalanan yang kami lihat hanyalah hutan dan muara,banyak binatang yang mati tertabrak ,dan masih banyak oknum oknum yg mencegat dan merampok barang barang yg dibawa pengendara di sepanjang jalan (bajing lompat).Tetapi kini perjalanan kami menjadi semakin aman,nyaman tapi terkesan monoton,bukan hutan lagi yg kami lihat tetapi hektar demi hektar perkebunan yang lebih produktif. Di mulai dari perkebunan singkong di sekitar provinsi lampung kemudian perkebunan karet,kelapa sawit,sangon dan jati. Awalnya saya sangat bersyukur karena saya pikir masyarakat disini semakin maju dan berkembang.Tapi ternyata kenyataannya tidak seperti itu.hampir sebagian besar perkebunan yang ada di sekitar jalur lintas sumatera merupakan perkebunan milik orang luar.

Perkebunan Karet,Lahat,Provinsi Sumatera Selatan

Banyak kawasan di pulau Sumatera ini yang menjadi tidak layak huni karena banyak dilakukannya pembukaan lahan yang dilakukan dengan cara pembakaran sehingga asap menyelimuti daerah tersebut .Mirisnya bukan bangsa kita yg mengelola itu semua tetapi saudagar-saudagar dari negeri sebrang yang hanya dengan mengeluarkan biaya yang tak seberapa bisa menguasai tanah bangsa kita,bukan hanya menguasai saja tapi mereka pun turut merusak kawasan tersebut.

“Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya.” Ir Soekarno.

Selain melewati hektar demi hektar perkebunan,dalam perjalanan ini juga banyak yang dapat saya amati mulai dari gaya rumah penduduk di setiap daerah seperti provinsi Lampung yg kebanyakan berhalaman luas dan memiliki bunga kertas di depan rumahnya,rumah panggung dengan tangga yang melingkar yang selalu dijumpai di sekitar Muara Enim,kebiasaan masyarakat didekat muara yang masih sangat ketergantungan dengan sungai,masyarakat Damasraya yang kebanyakan tinggal disekitar kebun sawit,dan masih banyak hal-hal lainnya.

Perjalanan saya di pulau ini hanya sampai provinsi Riau,bagi kami setiap daerah itu indah,bahkan dipinggir jalan ber-aspal pun kita masih bisa menikmati derasnya aliran sungai yang masih sangat jernih,tebing batu,bahkan air terjun. Menikmati matahari terbenam di tepi muara, bahkan wisata kuliner di setiap daerah yang kami lewati. Aku cinta negeri ini, mungkin bukan hanya bumi pasundan yang lahir ketika Tuhan tersenyum, tetapi seluruh bagian dari negeri ini,Bumi Pertiwi.

Danau Singkarak,Provinsi Sumatera Barat



Danau Maninjau,Sumatera Barat
Pesisir Pantai Pariaman,Sumatera Barat
Lembah Harau,Payakumbuh,Sumatera Barat
Rumbai,Pekanbaru,Provinsi Riau
Lembah anai,Sumatera Barat