غَارَتْ أُمُّكُمْ
 Ibu Kalian Sedang Cemburu

Sebut saja aku

Atau kamu

Atau ibumu

Atau bahkan adikmu

Atau siapapun itu

Entah paruh baya

Entah darah muda

Bahkan anak balita

Semua insan pernah merasa

Walau tiap mereka

Ada yang tahu dan tak tahu ini apa

Bagi mereka yang sudah tahu ini apa

Pasti! Pastilah pernah berkecamuk dalam dada

Bahkan jika tak kuasa batin ini menahannya

Sekujur tubuh akan bereaksi tak terduga
 Sungguh! Ada amarah yang melucuti logika
 Hanya sakit yang terasa karena cabik!

Seperti aku, ya aku..

Biar 1000 nasihat datang menggurui

Bahkan caci maki menghujani

“Hah!?”

“Apa!?”

“Siapa!?”

“Kalian berkata apa!?”

“Hahahhaha!”

Cacilah! Makilah!

Semarak nasihat bahkan rongrongan makian

Tak sekalipun mengoyak yang aku rasakan!

Jadilah aku sang buta

Jadilah aku sang tuli

Jadilah aku tak perduli

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Tolong!

Tolong aku!

Sungguh aku tak kuasa lagi menahan cemburu!

Sunyi, sunyi namun samar-samar aku terus menerus dibisiki

Bisikan-bisikan ini menyuruhku untuk bertindak lalu bersembunyi

Ya! Demi menebus kesakitan dan duri-duri ini!

Ya! Demi membalas luka tercabik-cabik dalam hati!

Ya! Kau harus tahu penderitaan ini!

Maka Ketahuilah!

Bisikan-bisikan ini membuang segala kewarasan

Kegelapan ini tlah menantang iman

Tak perduli aku dengan segala aturan

Kau fikir aku tak bisa berbuat nekat?

Toh, Ini kan karena ulahmu!

Engkau yang membuatku cemburu!

Cemburu! Cemburu!! Cemburu!!!

Kau dengar itu?

Rapuh kau buat aku!

Tertusuk rasanya dadaku!

Mendidih darah yang ada di kepalaku!

Jika tiba-tiba terlintas hangat dekapanmu

Kurabanya sebentar

Namun kusibaknya kemudian!

Kucakar-cakar bayang-bayang sukmamu!

Pergi!

Pergi kataku!!!

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Tuhan..

Kau dengar aku?

Apakah ini yang Engkau mau?

Aku dan hambamu tak kuasa Tuhan…..

Kemudian berteriaklah bisikan ghaib itu

Hei kamu!

Kemarilah! Ini bukan salahmu

Bukan rahasia jika karena cemburu

Pertumpahan darah menjadi akibatnya

Bak tragedi pembunuhan pertama

Antara Habil Qobil memperebutkan Iqlima

Tenang

Tenanglah saja

Ini bukan salahmu

Kamu bukan yang pertama

Kamu bukan satu-satunya

Ah! Apa Iya?

Jika ini naluri yang terwarisi

Pastilah Tuhan akan mengampuni

Toh ini juga terjadi pada leluhur kami

Ini manusiawi!

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Ghorrot Ummukum! Bekata Nabi

Salah satu sikap toleransi

Yang ditujukan kepada sang Istri

Dan disaksikan oleh para sahabatnya sendiri

Pecah!

Terbelah!

Seketika berhamburanlah makanan Shofiyah

Karena bara cemburu sedang menyala di dada Aisyah

Jikalah bukan Baginda Nabi

Pasti sudahlah tamparan mendarat di pipi

Atau teriakan caci maki

Hingga membubarkan para tamu yang menyaksikan ini

Tapi bukan

Bukan demikian yang sang baginda lakukan

Dipungutnya pecahan piring shofiyah

Digantinya piring yang baru milik Aisyah

Dipungutnya ceceran makanan lalu berkata beliau kepada para sahabatnya :

“Ghorrot Ummukum!

Ibu kalian sedang cemburu,

Makanlah!”

Tanpa amarah

Dengan penuh ketenangan

Bijaksana, penuh permakluman

Diriwayatkan oleh para perawi

Adalah ia sang istri yang dijuluki Yaa Humaira oleh sang nabi

Kulit putih dan pipi kemerahan

Akhlaqul karimah serta kecerdasan

Membuatnya dihujani banyak julukan

Bahkan Allah menjaminnya dalam untaian ayat Al-Quran

Namun besarnya cinta beliau pada sang pembawa kebenaran

Telah membuatnya menjadi istri yang dikenal pencemburu

Terlalu banyak hadits yang mengkisahkan cemburunya Aisyah

Tak hanya Shofiyah, bahkan juga Khadijah

Yang telah lama meninggal sebelum ia diperistrikan

Bagaimana bisa?

Bukankah diriwayatkan ia yang paling cantik jelita?

Bahkan satu-satunya yang bukan janda?

Dari Aisyah, Rasulullah SAW pernah keluar suatu malam. Aisyah menuturkan :
“Maka akupun menjadi cemburu kepada beliau sekiranya beliau mendatangi istri yang lain. Kemudian beliau kembali lagi dan melihat apa yang terjadi pada diriku.
”apakah engkau sedang cemburu?” tanya beliau.
”Apakah orang semacam aku ini tidak layak cemburu terhadap orang seperti engkau?”
“Rupanya syetan telah datang kepadamu”, sabda beliau”
Apakah ada syetan besertaku?’ tanyaku
“Tak seorangpun melainkan bersamanya ada syetan” jawab beliau.
”Besertamu pula?” tanyaku.
“Ya, hanya saja Allah menolongku untuk mengalahkannya sehingga aku selamat”, jawab beliau.
ditakrij Muslim dan Nasa’i

Sungguh!

Akan lumpuh rasanya raga ini

Jika harus mengupas tiap peristiwa dalam hadits

Serangkaian kisah cemburunya Aisyah

Dan sikap luhur dan lemah lembut Rasulullah

Ada dua rasa sekaligus yang beradu

Tentram

Namun juga tertampar

Apa benar seluruh peristiwa ini nyata?

Yaa habibal Qolbi,

Sesabar itukah Engkau?

Ya Nurul Mustofa,

Sesantun itukah Engkau?

Ya Khoirul Bariyyah,

Sebijak itukah Engkau?

Cemburu

Lagi-lagi aku cemburu

Cemburu dengan semua orang yang hidup di zaman itu!

Yang setiap harinya dapat melihat cahaya wajahmu

Yang setiap harinya dapat mendengar suaramu

Mengapa aku tidak hidup dizamanmu hidup?

Ya…

Kini aku benar-benar cemburu

Seperti Ibuku yang pencemburu

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —