Bayangan Kata, Subagio Sastrowardoyo

I

bayangan kata terlempar di meja
terlahir dengan tangis bayi
di ruang gelap gerak berhenti
setiap segi bersudut mati
menggoda ingatan hutan sakti
tempat bersabda kata abadi

II

pada garis tak lurus
rencana terus tertunda-tunda
sebelum sempat selesai bicara
sudah tersendat suara terbata-bata
dingin malam tergamit di jendela
benih di pangkuan telah habis manisnya
kelesuan ini lebih parah
dari terseret di lorong-lorong duka
darah yang mengalir dari tangan terpaku
akan lebih lantang menjeritkan sakit
dari sisa-sisa kata

III

helai surat yang dilambaikan
tangan pada dinihari
tidak nampak bunyi kalimatnya
kabut menghambat mata
untuk melihat lewat tabir hari
uap di kaca masih mengaburkan rahasia
apa yang bakal tampil esok pagi
yang kini ada hanya tanda bekas luka
(seperti pada perempuan hamil)
yang terkuak
sehingga mengalir darah kata
tak tertahan derasnya

IV

di celah waktu
di mana detik berakir
kata murni tenggelam dan terkubur lama
menunggu seribu tahun lagi
kalau ada perempuan meratap di padang pasir karena
kehilangan segala
kata sejati menjelma
ketika nasib tak lagi terderita