Cermin Kecil Bernama Singapura

Saya kebetulan sedang berada di Singapura ketika negeri yang luas wilayahnya hanya seperlima wilayah Kabupaten Malang di Jawa Timur itu tersebut sedang merayakan kemenangan agregat 3–2 timnas sepakbola mereka melawan Thailand usai menjuarai Piala AFF 2012. Saya sering ke negeri itu setelahnya, namun moment di 2012 itu cukup membekas sampai sekarang. Karena kemenangan itu, Media massa di Singapura yang dimiliki dan dikendalikan oleh pemerintah mengabarkan berita kemenangan tersebut berulang-ulang, baik di TV, maupun di berbagai surat kabar. Ulasannya ditulis beberapa hari berurutan.

Pemerintah seolah sengaja ‘mengharuskan’ rakyat Singapura untuk berpesta dengan berbagai tulisan dan cuplikan yang membanggakan mengenai timnasnya di media massa, dan sepertinya usaha tersebut berhasil. Ratusan fans timnas Singapura menunggu dan mengelu-elukan mereka di terminal udara Changi, beberapa orang juga terlihat menyambut mereka saat parade di jalan-jalan utama di Orchard.

Namun, entah mengapa, ada yang kurang ‘menggigit’ dari perayaan kemenangan tersebut. Saya merasa bahwa selain usaha pemerintah yang menggelorakan kebanggaan memenangkan gelar Piala AFF ke-4, tidak ada hal lain yang istimewa.Saya juga tidak merasa ada semangat tulus yang benar-benar muncul dari hati orang Singapura menyambut kemenangannya di AFF. Saya kemudian berpikir, bisa jadi karena Singapura sudah terlalu sering menjadi yang terbaik ini dan itu, kota terbersih di dunia, bandara terbaik di dunia, sistem transportasi terbaik di dunia, teknologinya yang selalu nomor satu, paling aman, paling bebas korupsi, ini dan itu, sehingga rakyat Singapura menganggapnya sebuah hal yang sudah biasa.

Mungkin, tapi mungkin juga karena hal yang lain.

Pada waktu yang hampir bersamaan, terdapat berita yang kurang mengenakkan dan menyudutkan Singapura. Berita tersebut adalah hasil survei yang menurut saya, cukup mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi di Singapura. Dalam survei yang dilakukan oleh Gallup di 148 negara di seluruh dunia di tahun itu, Singapura dinobatkan sebagai negara yang paling tidak bahagia di muka bumi, bahkan menurut survei tersebut, negara yang sedang kesusahan seperti Iraq dan Afghanistan pun lebih bahagia dibandingkan orang-orang Singapura.

Menurut survei tersebut pula, hanya 46% orang Singapura merasa bahagia dengan hidupnya.Bandingkan saja dengan Panama dan Paraguay yang berada di posisi pertama negara paling bahagia di dunia yang 85% rakyatnya menyatakan mereka berbahagia dengan hidupnya. Bandingkan pula dengan Iraq yang 50% rakyatnya merasa bahagia, atau Afghanistan yang mencapai 55%.

Malaysia dan Indonesia yang merupakan tetangga terdekat Singapura juga mendapatkan posisi cukup tinggi, Malaysia di posisi 11 bersama Denmark yang 80% rakyatnya mengaku bahagia.Sementara Indonesia berada di posisi 12 bersama dengan Honduras, Kuwait, Oman yang 79% rakyatnya merasa bahagia.Posisi ini lebih tinggi dibandingkan dengan Selandia Baru, Swiss, atau Inggris.

Belum cukup sampai di situ, dalam World Giving Index 2012, yakni indeks yang menyatakan sifat ‘kedermawanan’ rakyat sebuah negara dalam hal mendermakan uangnya, membantu orang yang tidak dikenalnya, dan meluangkan waktu untuk membantu orang lain pun Singapura lagi-lagi berada di peringkat ke-3 dari bawah, yakni di posisi 114. Singapura berada jauh sekali dibawah Indonesia (peringkat 7 dunia, dan peringkat I di ASEAN).

Meskipun sehari kemudian banyak penulis dan analis Singapura menulis di media menentang habis-habisan hasil survei tersebut, namun bagi saya yang sangat sering pergi dan tinggal di negara tersebut, survei-survei tersebut mencerminkan apa yang selama ini saya rasakan ketika berada di sana. Setiap pergi kemanapun di negara tersebut, saya selalu meluangkan waktu untuk ngobrol ngalor ngidul dengan sopir taksi, atau berbicara sedikit serius dengan orang-orang Singapura yang saya temui di airport, atau siapapun yang saya temui di luar negara tersebut. Hampir semua obrolan kami mengarah pada satu kesimpulan yang seragam, yakni secara umum mereka sangat bangga menjadi orang Singapura, negara yang maju dan disegani, namun di lain pihak, dalam banyak hal yang mereka hadapi di kehidupan sehari-hari, umumnya mereka memang kurang bahagia dengan semua hal yang dihitung berdasar nilai-nilai untung dan rugi, dan ukuran-ukuran transaksional yang lain.

Selain itu, rutinitas mereka yang sama dari hari ke hari juga makin menjauhkan mereka dari kebahagiaan hakiki yang dibutuhkan setiap orang. “Kalau semua bangsa dikendalikan seperti halnya mengurus sebuah perusahaan, tidak banyak yang bisa kita harapkan” menurut salah seorang sopir taksi yang saya temui.

Kenapa bisa ‘separah’ itu?

Sejarah kemajuan Singapura sebenarnya berawal ketika negara tersebut sengaja ‘dilepas’ oleh induknya, yakni Malaysia pada tahun 1965 dan dibiarkan berjuang menjadi negara merdeka sendiri. Meski tanpa sumber daya alam (bahkan air pun masih harus dibeli dari Johor, Malaysia) Singapura yang letak geografisnya sangat strategis tepat di jalur lalu lintas perdagangan dunia, membuatnya sedikit demi sedikit percaya diri akan kemampuan rakyat dan pemimpinnya untuk membuatnya maju. Apalagi, waktu itu Singapura sebenarnya sudah menjadi salah satu negara dengan pendapatan perkapita $500 lebih, tertinggi ke-tiga di Asia Timur.

Wilayah daratannya yang kecil hanya sekitar 710 Km2, ditambah populasinya yang kecil, membuat Singapura lincah bergerak karena pemerintahnya lebih mudah menjalankan dan mengontrol kebijakan –kebijakannya di bidang ekonomi, pendidikan, politik, keamanan, militer, sosial budaya, dan lain-lain. Juga karena ketiadaan sumber daya alam, orang Singapura dituntut untuk bekerja sangat keras, untuk menutupi ketiadaan tersebut, dan menjadi kuat dan disegani, agar dua tetangganya yang berukuran lebih besar akan pikir panjang untuk menganggunya.

Ternyata, kerja keras seluruh elemen Singapura sangat berhasil. Dengan cepat, Singapura menjadi negara yang makmur dan maju di berbagai bidang, sangat makmur bahkan, baik di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lain-lain. Dan banyak dari kita yang dengan mudah akan menyimpulkan bahwa kemakmuran tersebut juga dikarenakan ukurannya yang kecil, “lebih mudah diatur dan dibangun” kata kawan-kawan saya.

Namun, ketika semua angka-angka ukuran kemakmuran sudah tercapai, wilayahnya yang kecil ini menjadi masalah bagi Singapura. Singapura menjadi negara yang penuh sesak, biaya hidup menjadi amat mahal (bahkan untuk ukuran orang rata-rata Singapura), dan kehidupan di berbagai lini menjadi sangat kompetitif. Populasi Singapura juga bertambah, dan hal tersebut bukan disebabkan oleh banyaknya bayi-bayi Singapura yang lahir, namun makin membanjirkan orang asing yang ‘menyerbu’ Singapura untuk berebut menikmati kue ekonomi negara tersebut.

Kini, tidak sulit menemukan orang-orang asing yang bekerja di Singapura di berbagai sektor ekonomi, mulai dari CEO sebuah perusahaan besar, manajer, sopir bis, sopir taksi, hingga pembersih jalan dan asisten rumah tangga. Orang-orang asing ini memang diperlukan agar ekonomi Singapura tetap tumbuh.Kondisi ini tentu makin mempersempit kesempatan orang Singapura sendiri yang juga perlu berjuang menghidupi keluarganya.

Kita sering mendengar betapa anak-anak sekolah di Singapura sangat tertekan dengan tuntutan untuk menjadi pintar dan sangat pintar. Tidak cukup hanya sekolah di kelas, mereka juga diharuskan (oleh orang tuanya) untuk mengikuti les ini dan itu, waktu bermain yang sangat terbatas, dan kehidupan sosial terbatas. Anak-anak Singapura tidak secara khusus dipersiapkan menjadi apapun yang mereka mau, tapi mereka disiapkan agar nantinya mereka mampu berkompetisi mendapatkan pekerjaan yang layak di kantor-kantor pemerintah atau swasta. Itulah sumber kehidupan mayoritas rakyat Singapura, tak banyak pilihan lain. Orang Singapura tak bisa bercita-cita menjadi penyair atau penulis, atau penyanyi, atau pemusik yang bisa hidup sukses secara ekonomi dari situ. Biaya hidup terlalu tinggi di sana, menjadi penyanyi takkan mampu bertahan dari gempuran makin menjulangnya biaya hidup di sana.

Biaya hidup di Singapura (rumah, pendidikan, kesehatan, dan keperluan sehari-hari yang lain) memang makin menjulang dengan tingkat inflasi yang tergolong tinggi, sementara di sisi lain kenaikan tingkat pendapatan sangat lambat. Hal inilah, bagi rata-rata orang Singapura tidak berani bermimpi akan bisa menikmati masa pensiun dengan bahagia, bercengkarama dengan anak cucu, liburan, menikmati hari tua, dan lain-lain. Yang terjadi adalah kebalikannya, di usia pensiun mereka masih harus berpikir bagaimana memenuhi kebutuhannya.

Pasti Anda sepakat dengan saya, kebanyakan sopir taksi di Singapura usianya tua (kadang saya agak ngeri), petugas kebersihan di tempat-tempat makan, restoran, airport, dan lain-lain yang juga memasuki usia senja. Bagi kebanyakan orang Indonesia, hal ini sebenarnya hal yang mengejutkan bagi sebuah ‘negara makmur’ seperti Singapura. Di Singapura, tak ada hal lain yang bisa dilakukan untuk menyambung hidup di usia pensiun kecuali tetap bekerja dan mencari penghasilan.

Sementara di sisi lain, Singapura adalah negara yang menggaji pejabat-pejabat tinggi di pemerintahan paling tinggi di dunia, bahkan ketika ada anggota masyarakat yang sekedar mempertanyakan hal tersebut, Lee Kuan Yew, sang pendiri Singapura, mengatakan dengan lantang. “Para petinggi-petinggi pemerintah bekerja keras agar Singapura tak perlu menghidupi rakyatnya dengan mengirimkan pembantu ke luar negeri”. Saya tertegun dengan pernyataan tersebut.Juga tidak ada pendidikan dan jasa kesehatan gratis tersedia bagi rakyat Singapura, mereka tetap harus membayar mahal untuk dua hal tersebut, meski sebenarnya Singapura sangat mampu menggratiskan biaya pendidikan dan kesehatan bagi rakyatnya.

Entah apakah rakyat Singapura menyadari anomali-anomali tersebut, namun yang jelas tak banyak perdebatan mengenai hal tersebut, karena memang perdebatan tentang kebijakan pemerintah adalah dilarang dan seseorang akan menanggung konsekuensi karena mempertanyakan hal tersebut. Apalagi, seluruh media di Singapura dikontrol penuh oleh pemerintah, informasi apapun mengenai negara Singapura harus melewati seleksi sangat ketat sebelum diterbitkan atau ditayangkan. Rakyat Singapura hanya menerima informasi yang seragam dari mediamassa apapun yang mereka baca, dengar, dan lihat setiap hari, yakni informasi hasil kontrol dan seleksi pemerintah.

Kebebasan yang dibatasi, seperti yang dirasakan banyak orang Singapura, menjadikan mereka sesuai dengan hasil survei Gallup yang lain, yakni ‘emotionless society’, masyarakat yang dingin tanpa ekspresi. Menurut survei tersebut, hanya 36% orang Singapura yang “tidak dingin dan memiliki emosi”, yang bangun pagi bersemangat dan upbeat.

Indonesia tentu bukan Singapura. Setidaknya, setiap bangun pagi saya tetap bersemangat untuk bekerja, komplain, dan mengkritik, tanpa khawatir pemerintah Indonesia akan membahayakan saya dan keluarga saya. Bangun pagi bagi saya, adalah menanti terbukanya berbagai kesempatan luas bagi kita untuk bisa menjadi apapun yang kita mau. Saya bersyukur, Indonesia bukan Singapura, dan tidak seperti Singapura.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.