Vim Menawarkan User Experience Terbaik — Bagian 1

Bagi yang terbiasa programming dengan Microsoft .NET umumnya hanya tahu satu IDE, yaitu Visual Studio. Bagi programmer Java mungkin hanya tahu Eclipse atau IDE berbayar lainnya. Bagi programmer PHP biasanya menggunakan Sublime Text. Semua itu adalah text atau code editor berbasis GUI atau hanya bisa jalan di modus grafis atau disebut X11 di Linux. Windows sendiri defaultnya adalah modus grafis.

Namun, ternyata ada alternatif lain yang menawarkan user experience yang lebih menggairahkan. Karena menggunakan IDE seperti Visual Studio atau Eclipse pasti kita mengalami lagging atau beberapa ketidakpuasan dan kedongkolan. Sublime Text menawarkan pengalaman yang lebih baik dari kedua IDE tersebut. Apakah Sublime Text bisa disebut IDE? Ah, saya tidak tertarik untuk berdebat di situ. Mungkin kita sebut saja semuanya sebagai text editor. Selain lagging, kelemahan lainnya adalah kita harus switch ke terminal atau aplikasi GUI lainnya yang membuat mata menjadi lebih cepat lelah. Intinya, user experience yang diberikan para text editor berbasis GUI itu, patah-patah, tidak smooth dan merusak flow programming kita. Seperti kita tahu bahwa begitu kita sudah masuk ke dalam flow, kita jadi mudah untuk konsentrasi dan immersive dengan pekerjaan kita. Dunia luar seolah-olah menghilang. Begitu kita keluar dari flow, bakal lebih susah untuk masuk ke dalam flow kembali. Oleh karena itu, kita butuh text editor alternatif yang cepat, tidak lagging dan terutama tidak merusak flow.

Alternatif dari GUI tentunya terminal. Ada banyak text editor di terminal. Dua mazhab terbesar yang sampai hari ini seperti kucing dan anjing adalah mazhab Vim vs mazhab Emacs. Awalnya saya mencoba Vim namun tidak sreg karena learning curve-nya sangat tinggi. Lalu saya coba Emacs, dan sreg sekali karena learning curvenya jauh lebih rendah dari Vim. Sayangnya, setelah mencoba Emacs selama beberapa waktu, saya kecewa. Package manager di Emacs sering error, jadi saya sering kesal dengan Emacs yang akibatnya user experiencenya menjadi tidak menyenangkan. Akhirnya saya menyerah dan mencoba Vim lagi. Package manager di Vim sangat reliable dibanding Emacs. Jumlah pluginnya pun banyak sekali. Sekilas bisa saya simpulkan, Vim adalah text editor yang rajin didevelop dan up-to-date. Plugin-pluginnya sangat berkualitas dan tersedia plugin-plugin untuk bahasa pemrograman populer. Paling tidak untuk bahasa Go. Karena itu adalah bahasa yang saya harus gunakan di kantor.

Sebelum anda lanjut, harap diingat bawah Vim membutuhkan jari-jari yang lincah. Karena penggunaan Vim seratus persen menggunakan keyboard. Baik bagi anda yang ingin berlatih menggunakan keyboard dengan sepuluh jari. Namun tidak cocok untuk anda yang tidak mau belajar cara mengetik dengan sepuluh jari. Vim bisa kita customize, bisa punya intellisense, baik yang real atau sekedar cache. Themenya bisa kita gonta-ganti dan defaultnya Vim kelihatan manis. Walaupun belum semanis Cita Citata. Tentunya hati bakal senang dong kalau bisa melihat mahluk manis tiap hari? Bisa gonta-ganti pula. Itulah gunanya theme di Vim. Eits! VS Code sama Sublime juga bisa. Ya bisa! Namun merubahnya tidak senyaman merubah theme di Vim. Dan pilihan themenya pun tidak sebanyak Vim.

Di artikel ini saya akan berbagi cara setup Vim sehingga bisa memiliki fitur-fiture seperti yang dimiliki text editor modern. Terutama real intellisense, karena itu sangat meningkatkan produktifitas.

Install Vim

Vim yang saya gunakan adalah Vim versi 7.4 jadi pastikan anda juga menginstal versi tersebut atau yang lebih tinggi. Vim versi 7.3 ke atas adalah Vim yang support scripting dengan Lua. Scripting dengan Lua inilah yang membuat plugin Vim sangat banyak. Bagaimana cara install Vim?

Tinggal sudo apt-get install vim.

Gampang kan? OS anda tidak bisa begitu? Silahkan ganti OS anda dengan Debian atau Ubuntu atau Linux Mint.

Memulai Vim

Buka terminal dan ketik vim. Vim muncul dalam sekejap! Lihat sendiri kan? Tidak perlu bengong dulu seperti text editor GUI lainnya.

Text editor pada umumnya hanya mempunyai satu mode. Ya mode atau modus. Bukan modus, pura-pura ya. Tapi mode pengoperasian. Text editor seperti Notepad, Sublime, Visual Studio dan lainnya modenya hanya satu, edit mode. Di Vim disebut Insert-mode. Dalam edit mode ini kita bisa mengetik dan otomatis dianggap sebagai text oleh si text editor. Command atau shortcut harus menggunakan key khusus. Biasanya menggunakan CTRL, COMMAND (Di Mac), atau ALT atau key-key lainnya. Vim juga menggunakan key-key tersebut. Namun, yang menjadi power dari Vim adalah mode pengoperasiannya lebih dari satu.

Di Vim, pertama kali kita jalankan, modenya default ke Normal-mode. Di mode ini, hanya key-key untuk navigasi dan manipulasi text yang diterima oleh Vim. Dengan kata lain, kita tidak bisa langsung mulai mengetik kalimat begitu Vim muncul. Kita harus memberikan perintah ke Vim untuk ganti mode ke Insert-mode, misalnya dengan mengetik key aatau key i. Begitu status di pojok kiri bawah berubah menjadi --INSERT--barulah kita bisa mengetik dengan bebas.

Coba install dahulu dan coba jalankan Vim. Di bagian selanjutnya kita belajar bersama command-command Vim.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.