Dua Inti Penting dari Marketing

Yuh, tahu intinya dulu! Ketimbang terbuai dengan strategi marketing kekinian tanpa tahu akarnya.

Gambar dari sini.

Aku kembali membuka materi kuliah MBA-ku. Tepatnya kuliah Marketing Management semester lalu.

Bejibun konsep kupelajari dari Januari hingga April 2017 lalu. Namun saat meninjau materi di minggu pertama, sebenarnya sih, simpel. Yang penting tahu dua kunci yang menjadi inti marketing.

Pertama, segmen pelanggan yang mana yang akan kita sasar?
Kedua, bagaimana cara kita melayani segmen pelanggan utama kita?

Firasatku, penjabaran dari dua kunci ini insyaallah bakal beranak-pinak banget. Bahkan pembahasan masing-masing kunci bisa dibedah dalam tiga buku. He he.

Tapi untuk saat ini, aku akan memaparkan singkat apa yang kupahami dari dua kunci andalan ini.

#1 Menentukan segmen pelanggan

Sebenarnya dalam menentukan segmen pelanggan, bisa ada dua pendekatan sih. Ini menurut pengamatanku.

Pendekatan pertama, kita melihat secara luas bagaimana variasi pasar — kemudian menentukan pasar mana yang paling oke buat kita sasar.

Biasanya pendekatan ini ditentukan dari aspek finansial (profit nggak nyasar pasar ini?), aspek growth (pertumbuhan dan ekspansi bisnisnya bakal pesatkah?), dan aspek-aspek strategis lainnya.

Misal: selasar.com yang merubah platform situs mereka — dari situs blogging orang-orang pinter (kata CEO-nya Bang Miftah Sabri) menjadi a la a la asking platform seperti Quora.

Sasaran pasar-nya shifting; dari ‘orang-orang pinter yang suka nulis’, ke netizen yang lebih umum.

Alasan Bang Miftah waktu ngobrol beberapa bulan yang lalu: bakal bakar duit terus kalau terus jadi situs blogging orang-orang pinter! Nah, berarti ada alasan finansial yang membuat CEO-nya cari cara agar finasial tetap terjamin.

Caranya adalah dengan menentukan pasar yang lebih umum dari sebelumnya. Netizen umum, bukan lagi kumpulan orang-orang ‘ngintelek’.

Pendekatan kedua, kita langsung menyasar pasar mana yang kita tuju — yang memang benar-benar sesuai dengan karakter produk yang sudah tercanangkan — bahkan sudah dibuat. Biasanya kalau yang pakai pendekatan kedua — sisi karakter dari CEO-nya kuat banget.

Contoh yang pakai pendekatan kedua biasanya produk-produk fashion yang agak atau sangat segmented. Semisal sepatu boots Bro.Do; yang menggambarkan karakter si founder-nya yang suka hal-hal jantan dan memang pejantan huehe.

Tentu, prototype produk masih tetap dapat berubah menyesuaikan segmen pasar yang kita tuju. Baik yang melalui pendekatan pertama maupun kedua.

Proses penyesuaian produk dengan pasar ini biasanya dinamakan validating. Validating ini menurutku penting banget, nanti kita bahas lebih lanjut ya, insyaallah.

Intinya, perbedaan pendekatan pertama dan kedua:

  • Pendekatan pertama: Finding the market, building the product, then validating
  • Pendekatan kedua: Building the product, finding the market, then validating

Ada juga perkakas lain seperti pakai Porter’s 5 Forces analysis untuk mengetahui kondisi pasar dari segi supplier, kompetitor, pelanggan, dan produk subtitusinya.

Atau pakai analisis PEST (Political, Economic, Societal, and Technological) untuk tahu kondisi makro dari jenis usaha kita.

Cem-macem.

#2: Melayani segmen pelanggan utama kita, sebaik mungkin

Kita harus memahami pasar, tentu — untuk menentukan strategi utama melayani pelanggan.

Aku pernah menulis sebelumnya bagaimana mencocokkan apa maunya founder, dengan selera pasar. Tujuannya yakni untuk menciptakan value-value dari produk itu sendiri.

Bagaimana cara kita memahami karakter pelanggan utama kita? Bisa dengan analisis demografi dan psikografi. Bisa pula dengan melakukan survey, focus group discussion, kepada mereka yang dianggap mewakili karakter pelanggan utama.

Nah, selanjutnya — bagaimana kita men-deliver produk tersebut secara tepat kepata pelanggan? Salah satu strateginya ialah dengan menggunakan strategi marketing mix 6 P (Product, Price, Promotion, Place, Performance, People).

Oleh karena si strategi 6 P ini bakal mengularnagapanjangnya jika dibedah, kutuntaskan hingga sekian sahaja pembahasan soal kunci kedua ini. He he. Lagian bakal ada pula variasi strategi lain.

Marketing knowledge is sooo rapidly growing and evolving.

Wallahu’alam. Semoga membantu mendapatkan secercah terang ihwal marketing!***

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.