Entrepreneur yang Rindu Berfilsafat

CEO Agate Studio menyarankan tiga bulan sekali untuk ngobrol dengan kawan filsufmu.

Gambar dari sini.

Alkisah, pada hari pertama mentoring bisnisku, CEO Agate Studio, Arief Widhiyasa berceletuk sesuatu.

“Saya punya temen-temen yang saya suka ngobrol soal hal-hal filsafat. Mereka membantu saya untuk berpikir lebih dalam.”

Tunggu. Entrepreneur? Ngobrolin soal filsafat? Bagiku, hal tersebut adalah hal yang.. langka. Terlebih di Indonesia.

Aku jadi teringat latar belakangku. Aku akan menjelaskannya kelak. Yang jelas, celetukan dari Kang Arief membuatku bertanya:

“Kang, seberapa sering Kang Arief meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan kawan-kawan filsuf ini? Karena sebagai entrepreneur, kita kan doer.

Terlalu banyak mikir bakal nggak baik karena bisnis kita nggak jalan-jalan. Tapi, sepengemalamanku dengan menyediakan waktu untuk berbincang hal-hal mendalam soal hidup, cakrawala berpikir saya menjadi kaya, Kang.”

Kang Arief mengamini.

“Ya, ya. Memang benar. Saya punya teman yang sama-sama suka ngulik pemikiran kenapa orang bisa begini, kenapa hidup begitu.

Memang bisa expanding our horizon. Hasil obrolannya dapat menjadi inspirasi untuk bisnis kita. Kalau ditanya seberapa sering, ya… sekuarter sekali cukup, lah (tiga bulan sekali),” begitu jawabnya.

Pantas saja Kang Arief ini — sepanjang sesi mentoring — memiliki pandangan yang luas dan tak terbatas pada hal-hal teknis.

Aku menyeringai lebar.

Dapat dibilang, aku anak kemarin sore dalam dunia entrepreneurship.

Di kalangan entrepreneur yang kusambangi, sangat jarang tersembul obrolan soal hal-hal yang ‘filsuf abis’. Seperti bahas hegemoninya Antonio Gramsci, komodifikasi versus pasar, ekonomi kerakyatan, analisis wacana kritis media, perbedaan 4 mazhab iman, hingga esensi dari sebuah pernikahan.

Aku lebih sering terpapar dengan bahasan Business Model Canvas, Build-Learn-Measure a la Lean Startup, berbagai varian funding, brand awareness, how to pivot, prototyping, validating, dan lain sebagainya.

Adakalanya, aku rindu. Rindu membahas hal-hal radikal dalam hidup. Ini karena aku dibesarkan dari lingkungan yang suka merefleksikan apa-apa tentang hidup.

Unik memang. Aku belajar berpikir ‘liar’ dari sebuah masjid kampus, Masjid Salman ITB. Ini bermula semenjak aku magang menjadi jurnalis peliput kegiatan di Masjid Salman ITB.

Aku meliput beragam acara dengan beragam ‘rasa’ di Salman. Pemikiran multidimensional-ku terpupuk — saat aku menyambangi kajian-kajian diskusi tafsir ilmiah, serta kajian-kajian humaniora di seri Studia Humanika.

Bayangkan — aku belajar bagaimana Surat An-Naba dikaji melalui sudut pandang ilmu kebumian. Aku pun belajar pemikiran Sigmund Freud; feminisme; kebahasaan; dan Plato dari Salman!

Aku juga mengikuti unit literasi di Masjid Salman ITB. Namanya Aksara. Tiap minggu, kami berdiskusi membahas satu buku bergantian di Perpustakaan Masjid. Bukunya beragam sekali. Mulai dari buku Islam politik hingga novel yang pelik adanya.

Kawan-kawan di Aksara ini — sangat reflektif berbincang soal kehidupan. Kami, secara natural, rajin menggali apa-apa yang kami alami tentang hidup. Kemudian kami menyaringnya pada suatu pemaknaan mendalam.

Gambar dari sini.

Mungkin alasan inilah yang membuatku sulit move fast and agile dalam berbisnis — because me that too much taking step back from daily life and contemplate about it. He he.

Sering pula aku merasa terasing, berpikir terlalu holistik dan kompleks — ketimbang kawan entrepreneur lain.

Hingga saat ini, aku berkesimpulan jika aku sepatutnya bersyukur akan bentrokan ini. Bersyukur karena aku dibenturkan oleh dua lingkungan yang cukup berbeda. Satu kontemplatif dan reflektif, satunya lagi aktif nan progresif.

Aku belajar seimbang. Aku memiliki pandangan holistik yang kuperoleh dari kawan filsufku — yang semoga saja dapat berkontribusi untuk dunia bisnis.

Begitu pun sebaliknya. Barangkali aku dapat menyumbang perspektif lebih realistis dan efisien bagi kawan-kawan filsufku, untuk membumikan ide mereka.

Kini, aku meniti jalan menjadi entrepreneur. Tentu saja aku harus belajar moving fast, profit-minded, serta efisien. Aku banyak belajar dari kawan-kawan entrepreneur-ku soal hal-hal itu.

Dan betul, tiap orang ada masanya. Aku akan semakin jarang bertemu dengan kawan-kawan filsufku ini. Namun bukan berarti aku memutuskan tali silaturrahim di antara kami, kan?

Justru kehidupan yang kami jalani masing-masing — akan sangat berharga untuk dibagi di saat kami sesekali bertemu.

Betul kata Kang Arief. Sediakan waktu khusus dimana kau dapat menimba perspektif dari kawan-kawan filsufmu.

Aku menyarankan ini pula bagi kawan-kawanku yang jarang berdiskusi pelik soal sesuatu. Cobalah. Ikut diskusi buku sastra. Ikut kajian-kajian strategis politik di kampus. Dan lain sebagainya.

Tidak usah sering-sering. Mungkin sebulan sekali, minimal tiga bulan sekali. Ini supaya pikiranmu meluas, merenggang, dan tercerahkan.

Wallahu’alam.***

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.