Kuliah Kehidupan Bersama Pak Tendy

Rabu (30/8/2017) lalu, saya hadir agak terlambat pada kelas Contextual Creativity.

Tatkala memasuki kelas, kulihat sesosok pria yang memang gayanya ‘dosen banget’. Benar-benar standar dosen yang kukenal.

Wah, saya siap-siap mengantuk nih kalau begini. Begitu yang kusimpulkan dari perangai dosennya. Teu sopan. Tapi saya anak baik kok, akan tetap berusaha menyimak pembelajaran darinya. Hehe.

Ternyata anggapan saya salah. Memang Pak Tendy bukan dosen a la class clown yang gemar melucu dan membuat seisi kelas heboh.

Namun bagi saya, Pak Tendy adalah dosen yang, hemm, full of wisdom.

Ada beberapa pembelajaran yang kuambil dari Bapak tatkala ia mulai memaparkan satu demi satu untelan pemikirannya. Seperti saya semakin terhubung dengan Pak Tendy ketika mulai berkisah mengenai anaknya.

Bagi saya, perkuliahan Rabu kemarin bukan hanya kuliah soal kreativitas. Namun juga kuliah soal kehidupan

Ini beberapa pembelajaran yang saya ambil..

.

1. Bangga dengan sejatinya dirimu. Tampil dengan dirimu sendiri yang maksimal.

.

Seperti yang sudah saya bilang, Pak Tendy tampil di hadapan mahasiswanya dengan apa adanya ia. Ia tidak berusaha melucu berlebihan, atau sebaliknya; tampil saaya-aya dan sekadarnya sehingga membuat mahasiswanya bosan.

Pak Tendy bangga dengan apa yang dirinya, tak segan menceritakan koleksi pemaknaan perjalanan kehidupannya.

.

.

2. Tiap anak itu unik. Tiap anak memiliki ‘gaya’ tersendiri dalam belajar.

.

Suasana kelas Contextual Creativity kian haru (saya belum menemukan kata yang tepat) tatkala Pak Tendy berkabar mengenai almarhum anaknya.

Almarhum anaknya (saya lupa namanya), dikenal ‘suka berbuat onar’ di pesantren-pesantren yang pernah ia tempati. Pak Tendy menemukan jika anaknya adalah anak indigo. Penuh kreativitas, namun tak begitu suka dibatasi.

Terlepas dari debat yang saya dengar, apakah indigo itu konsep keilmuan yang benar atau tidak — namun ada hal yang saya tangkap. Bahwa tiap anak memiliki gaya tersendiri dalam belajar.

Sistem pendidikan yang mengakar di Indonesia cenderung menjejalkan anak-anak pada satu mesin cetakan. Padahal anak-anak memiliki potensi yang berbeda, plus karakter yang berbeda.

Kita semua keren dengan cara tersendiri.

.

.

3. Meramu masalah menjadi inspirasi kebaikan.

.

Pak Tendy akhirnya memutuskan agar almarhum anaknya tidak sekolah dimana-mana. Ia mempraktikkan home schooling kepada anaknya.

Memang, sistem pendidikan Indonesia tak bagus dalam memfasilitasi keunikan tunas-tunas muda negeri. Mengutukinya adalah hal yang mudah dilakukan.

Namun tidak demikian dengan Pak Tendy. Jiwa kreatifnya berpikir untuk membuahkan suatu solusi. Ia kini hendak membuat sekolah sendiri yang dapat memfasilitasi berbagai keunikan siswanya.

Namanya Al-Kamil, Sekolah Peradaban. Letaknya di daerah Riau. Kini masih dalam tahap pembangunan

Salut!

.

4. Semakin beranjak tua, manusia semakin ditumpulkan (atau menumpulkan?) kreativitasnya.

.

Dalam sesi kelas kemarin, Pak Tendy menantang seisi kelas untuk menggambar ‘ular yang tertidur pulas, sehabis memakan delapan kodok’.

Sudah ada dua atau tiga orang yang mencoba menggambar, namun Pak Tendy mengomentari, “Kurang tepat!”. Teman-teman menggambarnya ular berpunuk-punuk dengan ‘zzzzz’.

Lantas bagaimana yang tepat?

Ujar Pak Tendy: “Saya pernah bawa anak saya ke kelas, dan anak saya menggambar juga seperti Anda, ada ular berpunuk, tapi ada gambar kodok-kodoknya di dalam ularnya. Begitu… lugas.”

“Kita kehilangan kelugasan itu. Semakin menua, semakin hilang,” Simpul Pak Tendy.

Kemudian teringat cerita Pak Tendy soal anaknya. Kepala sekolah di pesantren anaknya berganti-ganti. Awalnya kepala sekolah tersebut masih muda, kemudian berganti yang lebih tua.

Kepala sekolah yang lebih muda ini lebih toleran terhadap anaknya. Dan yang lebih tua kesal. Mungkin kita harus terus menemukan cara agar terus kreatif… Terbuka pada hal-hal baru tanpa kehilangan prinsip.

.

5. Jangan terpaku pada hal-hal yang kamu sukai, karena yang tidak kamu sukai dapat membekaskan pembelajaran.

.

Ternyata, Pak Tendy lah perancang bangunan Pasar Tanah Abang di Jakarta! Ia menanyakan kepada seantero kelas, “Bagus nggak bangunannya?”

Kami diam. Malah Bapak menjawab sendiri, “Nggak, kan? Bagi saya sih desainnya norak.”

Whoa.

“Bayarannya juga nggak seberapa (1 Milyar, tapi katanya nggak seberapa, hehe. Katanya bayaran segitu kurang menurut standar) Tapi saya belajar banyak dari proyek itu. Belajar untuk menantang diri sendiri. Belajar terhadap hal-hal baru yang diinginkan klien.”

.

6. Ketika ingin inspirasi, coba amati keadaan di sekitar. Lakukan riset.

Pak Tendy pernah mendapat proyek untuk membangun rumah. Namun, di wilayah tempat rumah akan dibangun, ada batu sangat besar. Beliau bingung, batunya harus diapakan.

Akhirnya Pak Tendy secara berkala datang ke wilayah itu. Riset, merenung, berpikir. Air hujan pun rintik-rintik mengetuk diri Pak Tendy. Hingga akhirnya pemandangan kota tampak begitu indah tatkala Pak Tendy duduk di batu besar itu.

“Akhirnya saya pertahankan batu itu dan menjadikan batu itu sebagai tangga,” ujar Pak Tendy.

Wow, nice, Pak!

Sekian enam ‘jurus’ yang saya dapatkan dari kuliah kehidupan Pak Tendy Y. Ramadin.

Semoga dimampukan selalu menyesap ilmu dari siapapun yang hadir dalam kehidupan kita, serta dari gejolak hidup apapun yang kita arungi!***

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.