Mencari Co-Founder

Cari Co-Founder, Kayak Nyari Jodoh

Gambar dari pixabay.com

Mencari co-founder untuk bisnis itu sulit-sulit gampang. Banyak yang bilang: kayak nyari jodoh!

Terhitung, sudah dua kali ada pergantian co-founder dalam startup-ku.

Pertama kali aku menemukan co-founder-ku dari teman sesama pegiat jurnalistik di Masjid Salman ITB. Ia suka dengan ide startup yang hendak kudirikan. Aku posisikan ia menjadi bagian marketing-ku.

Kemudian, kawan semasa kuliahku bergabung, ia membantu dari segi administratif. Jadilah kami bertiga menjadi tim founder.

Namun, kawanku yang pertama tersita waktunya bekerja di tempat lain. Kawanku yang kedua juga tersita waktunya untuk urusan-urusan lain.

Maka, mereka hengkang. Jadilah aku sendiri, hiks. (insert dramatic music here). Nggak hiks juga, sih. Lebay aja anaknya haha.

Yang jelas, sepeninggalan mereka, aku bertanya kepada beberapa mentor yang disediakan kampusku, MBA ITB-CCE, mengenai tips mencari co-founder.

Mentor-mentor yang kutanyai, di antaranya adalah Arief Widhiyasa (CEO Agate); Shieny (VP of Serious Games Agate); dan Budi Rahardjo (Serial Entrepreneur of IT).

Berikut petuah-petuah yang kupetik dari mereka!

“Lebih baik mencari co-founder yang sevisi, walau tidak komplementer. Dibanding cari co-founder yang komplementer, tapi tidak sevisi dan sekultur.” -Budi Rahardjo

Sevisi itu penting dalam segala komitmen.

Ada yang bilang, cari pasangan hidup itu harus yang sifatnya beda dengan kita, biar saling melengkapi.

Ada pula yang bilang, cari pasangan hidup itu mending yang sama karakternya, supaya lebih mudah penyesuaiannya.

Aku pernah berbincang soal membangun rumah tangga dengan kawanku. Kawanku dan aku bersepakat menyimpulkan,

“Bukan masalah si doi beda atau sama karakternya dengan kita, tapi: pertama, kita sevisi nggak?

Kedua, dengan segala persamaan dan perbedaan masing-masing yang kita punyai; bagaimana kita bersepakat untuk menyinergikan keduanya?”

Kemudian, aku jadi terpikir soal mencari co-founder buat startupku. He he he.

Hingga saat ini, aku sudah menemukan dua calon co-founder pengganti. Pertama, fresh graduate dari DKV ITB. Ia mengerti aspek iklan dan konten.

Kedua, lulusan Teknik Penerbangan ITB yang memiliki minat dalam bidang networking.

Yang pertama kali aku tanyakan kepada mereka: seberapa antusias mereka dengan visi startup yang kutawari.

Skill mereka tidak komplementer denganku — aku kurang menguasai administratif. Logikanya, aku butuh orang yang menguasai aspek administratif kan?

Tapi nyatanya, aku lebih memilih mereka yang sudah mau sevisi — ketimbang mencari orang yang pandai administratif.

Mau tidak mau, aku belajar meng-handle aspek administratif. Ini karena aspek ini sebenarnya bisa dipelajari, bukan sesuatu yang aku ‘nggak bisa banget’.

“Untuk cari co-founder, kamu harus menentukan dulu hal-hal yang hendak dicapai, termasuk dalam hal keuangan. Setelahnya, sampaikan pada co-foundermu!” -Shieny

Selain tetap konsisten menjalankan nilai-nilai perusahaan, bisnis yang sehat ialah yang aliran keuangannya lancar.

Oleh karena itu, menjual visi kepada calon co-founder saja tidak cukup. Kita perlu memaparkan bisnis ini selama lima tahun ke depan akan seperti apa, revenue yang didapat seberapa besar, biaya operasionalnya seberapa besar, apa saja yang hendak dibangun.

You can’t build what you can’t measure.

“Ikat komitmen internal tim. Percepat tandatangan kontrak antar founder. Beri deadline hingga kapan!” -Arief Widhiyasa

Ini penting! Harus ditentukan misal masa percobaan bagi calon co-founder-mu untuk berkecimpung dalam startup-mu.

Tentukan juga kapan kita dan para co-founder kita akan tandatangan kontrak, seberapa lama kontrak tersebut berlaku, berapa persen pembagian kepemilikannya?

Dengan adanya kontrak, niscaya ada semacam kepastian yang mengikat. Ada jaminan.

Bahkan, tak jarang masing-masing co-founder meng-investasikan sejumlah uang lebih dari sejuta rupiah untuk menunjukkan keseriusan mereka dalam membangun startup.

Nah, begitulah. Beneran sih, kayak nyari jodoh.

Karena cari co-founder nggak sekedar karena kagum-kaguman dengan skill masing-masing, bukan karena persamaan atau perbedaan di antara kita.

Tapi ini soal penyelarasan komitmen, kesamaan visi, kesepakatan menyinergikan potensi, serta mufakat: ke depannya mau dikemanakan komitmen per-startup-an ini. He he.

Wallahu’alam.***

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Tristia Riskawati’s story.