Mengapa Prily Latuconsina (yang Nyuci Baju Saat Lebaran) Adalah Contoh Kepemimpinan Berharga?
Beneran, wahai para pemimpin. Kamu harus belajar dari Prily. Belajar membumi.

Netizen Indonesia dibuat gemas.
Mosok Prily Latuconsina nyuci baju sendiri pas ART mudik aja diberitain media sekelas K, sih!
Terus aku bingung kenapa orang pada marah, karena justru aku setuju berita itu ada.
Kenapa? Karena Mbak Prily manis yang sudi mencuci baju ini, mengingatkanku untuk sesekali ‘merendahkan’ diri, walau kau sudah jadi sekelas tokoh penting. Ini bekalku untuk menjadi CEO teladan.
Lho, gimana cara? Mungkin hadirin sekalian bertanya-tanya, he he he.
Begini, aku pernah mendengar ini dari seorang kawan: jika pekerjaan kasar membuat hati manusia melembut.
Butuh waktu cukup lama bagi otak pandirku untuk mencerna perkataannya. Namun, kurasakan benar adanya ketika aku bernasib sama seperti Prily. Bukan nasib keartisannya, tapi nasib harus mencuci baju saat ART sedang bermudik. Heuheu.
Aku.. si anak mami.. belajar nge-fans dengan kemampuan ART-ku mengurus rumah tangga kami. Karena nyatanya ribet sekali ya.. nyuci pakaian satu keluarga itu. (Siap-siap akika didepak dari geng istriable, hix..)
Aku belajar berempati pada karyawan keluargaku.
Kini, aku sedang berkuliah di MBA. Aku sedang mempersiapkan amunisiku untuk menjadi bos teladan.
Dari studi bandingku terhadap beberapa perusahaan dan organisasi — aku menyimpulkan ada satu masalah klasik yang menjangkiti. Yakni, bos yang tidak berempati apa yang dikerjakan karyawannya.
Bos menuntut ini dan itu, tanpa merasai kondisi di lapangan seperti apa. Kerelaan untuk mendengar jerit hati karyawan seolah langka. Ini.. bukan soal bos yang harus selalu meng-iyakan ingin dan angan karyawannya.
Namun ini soal berusaha menjiwai pekerjaan bawahannya, agar mengetahui masalah dan hambatan karyawannya. Agar bos dapat memberikan solusi jitu, sekaligus mengapresiasi kinerja karyawannya secara tepat.
Chris Van Gorder, CEO of Scripps Health, sengaja menyempatkan mengalokasikan satu tahun sekali melakukan pekerjaan yang ‘ngga-banget’. Bukan turun satu tingkat menjadi COO, atau jadi manajer, melainkan jadi technician di rumah sakitnya!
Alasannya, supaya Om Van Gorder ini tahu, bagaimana hiruk pikuk karyawannya di tataran yang sangat teknis.
Ada pula yang rutin blusukan menginspeksi kinerja bawahannya. Ia tidak menganggap rendah kerjaan bawahannya yang jadi operator, atau koki kantin perusahaan mereka. Ia ndengerin betul curhatan karyawan soal pekerjaannya. Bahkan, mereka sampai-sampai diikutsertakan dalam focus group discussion.
Jadi, aktivitas nyuci bajunya Mbak Prily ini layak dijadikan panutan, sidang pemirsa! Fenomena ini adalah sebuah representasi, representasi ‘itikad para bos yang baik untuk perusahaannya.
Tinggal menunggu berita Mbak Ariana Grande, Mbak Kim Kardashian, dan Mas Justin Bieber bersih-bersih aja kali yha.. Biar generasi muda yang bakal jadi bos nanti nggak lupa untuk ‘merendah’.. berempati pada sesama. He he he.***

