Ketika Maunya Aku dan Maunya Kamu Samaan

“Masa aku harus selalu didikte maunya kamu, sih?”

Gambar dari pixabay.com

Obrolan ini, masih merupakan rangkaian kelanjutan dari pertemuan pertama pertengahan Mei 2017 lalu bersama Sholah Ayub dan Ahmad Saeful Haqqi.

Jadi begini, alkisah Ayub dan Saeful ini punya ide bisnis kreatif. Rupanya, ide bisnis kreatif ini sesuatu yang mereka banget: unik, gila, tapi lumayan faedah. Ada deh, pokoknya.

Namun, dari ide tersebut, kita jadi berdiskusi. “Bru, sebenarnya pasar bakal nerima ide gila kita nggak sih?”

Karena kan, kegilaan secara common sense berbanding terbalik dengan selera pasar. Orang-orang kemungkinan bakal bingung, “Lo bikin produk apa sih? Gue nggak ngerti dan nggak butuh.”

Kalau istilah yang paling sering kudengar di kancah per-startup-an sih: YOU BUILD THE PRODUCT THAT NOBODY WANTS!

Cuma, gini dilemanya: “Masa aku harus SELALU didikte sama maunya kamu sih, wahai pasar?”

Dang.

Mmm, terus jadi ingat sesuatu. Kalau kata judul lagu Efek Rumah Kaca, Pasar Bisa Diciptakan, bukan?

Gambar dari sini.

Twitter saja berasal dari ide (yang kata orang lain pada saat itu) bodoh: “Lo mau nyiptain platform yang bikin orang cuma ngabarin dia lagi makan sandwhich siang ini?”

Tapi kini, twitter bisa setenar ini! Pamornya sudah cukup turun sih, but still: sempat booming banget, kan.

Nah, yang aku pelajari sih, kita kudu tahu seluk-beluk segmen yang mau kita jadikan sebagai konsumen utama kita. Sehingga kita jadi punya gambaran, bagaimana caranya menyampaikan ide gila kita kepada konsumen tersebut.

Kalau dalam bahasa Alquran, istilahnya berbicara dengan bahasa kaum. #tsah

Barangkali pernah menyimak ayat ini:

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka…”
QS. Ibrahim : 4

Rasul sendiri kan, jika diartikan dalam bahasa Arabnya berarti penyampai. Sedangkan bahasa kaum itu, sepemahamanku (cmiiw) lebih dari sekadar bahasa tekstual — — melainkan juga kultur.

Penjelasan yang terang, tentu saja yang benar-benar chrystal clear serta cuco bagi konsumen utama kita.

Aku jadi ingat komunitas Pemuda Hijrahnya Ustadz Hanan Attaki.

Secara konten, mereka tidak mengubah-ubah nilai-nilai Qurani dengan nilai-nilai tidak Qurani kan — untuk menarik hati anak muda g4vL? Melainkan, mereka mengemas konten Qurani dengan tampilan yang anak muda banget.

Hasilnya, Pemuda Hijrah pun jadi superhits.

Kemudian, aku jadi teringat Business Model Canvas yang kupelajari dari rekan-rekan pebisnisku.

Gambar dari sini.

Yha, meskipun Alexander Osterwaller (penemu Business Model Canvas) mungkin tidak pernah baca Alquran, apalagi jadi aktivis dakwah kampus (wgwg) — tapi spirit Surat Ibrahim ayat 4-nya dapet banget.

Terutama di bagian mencocokkan value propositions (ide dan nilai yang diusung oleh bisnis kita) — dengan customer segments kita. Coba, deh mulai dengan meneliti aspek demografis, psikografis, dan behaviralistiknya mereka.

Metode mencocokkan value propositions dengan customer segments kita ini bisa juga dibantu dengan Value Proposition Canvas.

Kita menelaah

Gain (apa yang bikin konsumen kita happy dari produk kita dibanding yang lain);

Pain (keluhan-keluhan yang mereka rasakan tanpa adanya produk kita);

serta Customer Jobs (aktivitas apa yang biasa mereka lakukan dalam dealing aspek-aspek kehidupan mereka, terutama yang berkaitan dengan produk kita).

Gambar dari sini.

Hasilnya, adalah produk yang terkandung nilai-nilai yang dimiliki si founder — tapi juga bisa fit dengan customer segments mereka.

Jadinya, maunya ‘aku’ (founder) sejalan deh dengan maunya ‘kamu’ (pasar). He he.

Wallahu’alam bish shawab.

Hanya secuil pemahaman yang kuambil dari remah-remah perbendaharaanNya. Koreksi, ya, jika banyak ngaco dan sotoynya.***