Komunike: Jakarta Gelap

Badai Perusakan Kehidupan di Kepulauan dan Kedudukan Warga-Negara Sebagai Obyek Jajahan

sudahkah kita mengemas apa yang masih bisa kita bawa?
duri-duri landak, batu-batu dari tepian riam, foto masa-kecil, cangkir kalengmu,
kunci-kunci ingatan bersama dari masa yang lain
segala yang tak ditulis dalam buku-buku sekolah
kita sudah selesai dengan cerita yang dulu kita percaya
kemajuan dari kota-kota bermandi cahaya
timbangan & meteran kesopanan untuk semua
ilmu bumi dan ilmu hayat, kewargaan dan sejarah manusia
setelah apa yang bisa dirampas
sekarang mereka minta keringat kita untuk penukar air dan nasi
lupakan ruh, hanya ada mesin
kita adalah hewan dalam pengungsian,
tubuh tanpa kemanusiaan
jangan tunggu siapa-siapa lagi
rupanya jalan cerita telah berganti
pada sunyi sesaat menjelang badai berikutnya
kita harus putuskan semuanya sendiri
(catatan kenang-kenangan di malam terakhir sebelum pengungsian-besar; zona ruang dan waktu yang lebih persis belum lagi bisa dituliskan)

Pembongkaran rumah rakyat — bentang alam pulau-pulau besar kecil dan perairan pesisirnya — berlari cepat, duapuluh-empat jam sehari. 1998 terbukti bukan tahun kematian orde-Baru. Bagaimana pengurus negara beroperasi, bagaimana protes warga-negara dibungkam, bagaimana negara duapuluh tahun belakangan ini seluruhnya patut disebut sebagai rejim orde-Baru episoda kedua. Ada tiga cirinya:

Ciri pertama, Jakarta memutuskan apa yang baik buat dirinya, tanpa konsultasi dengan penduduk pulau. Memang ada “partai politik” dan kantor-kantor yang berada di bawah pengaruhnya: parlemen, kantor urusan hutan, kantor urusan barang galian, kantor urusan ekspor-impor, kantor urusan memata-matai dan menghukum ketidak-patuhan rakyat. Tapi hari ini partai politik mengambil keuntungan dari rakyat, bukan kendaraan politik rakyat.

Ciri kedua, masa-depan selalu disebut-sebut — semacam “kita akan menjadi sepuluh kali lebih kaya sepuluh tahun lagi”, atau “duapuluh tahun lagi produksi barang yang berlangsung di kepulauan tidak lagi sekotor sekarang”. Semua lebih baik, lebih maju. Tidak pernah disampaikan kepada warga-negara biasa, apa yang akan memburuk, apa yang akan hilang, siapa menanggung kesusahan dan berapa rupiah setiap rumah-tangga harus rame-rame membayar hutang negara.

Ciri ketiga, kekerasan terorganisir, pengerukan hasil bumi di pulau dan di laut, perembesan kekayaan ke rekening awak kantor negara, remah-remah hasil proyek ekstraksi keuangan dan bahan mentah, semua berlangsung di
wilayah-wilayah administrasi-kenegaraan, tanpa kecuali, termasuk sekarang desa-desa administratif yang dijadikan perluasan stok aset keuangan bank dan pasar uang.

Jakarta gelap, hilang dari pandangan rakyat. Kantor-kantor negara tertutup rapat-rapat buat rakyat yang mau mengadu. Penghuninya sibuk mengamankan konsesi, tata-usaha perpetaan atau perijinan investasi. Orang-orang berdasi sibuk keluar-masuk kantor seperti di rumahnya sendiri. Warga negara tidak disapa, apalagi ditanya atau diurus masalahnya. Tidak di kampung, tidak juga di seberang istana. Jakarta telah gagal menerangi dirinya sendiri, gagal melaporkan perilaku dan tindakan politiknya kepada publik, gagal menjaga keselamatan warganegara.

Suharto sudah lama pergi sejak 1998. Tetapi sampai hari ini, warga-negara biasa di luar lingkar elit sosial dan penguasa politik hidup dalam was-was dan himpitan rasa takut, mirip dengan atau lebih buruk daripada rakyat jajahan. Di desa dan di kota, rakyat sewaktu-waktu boleh diusir dari rumah dan halamannya sendiri, bila perlu dilukai, dikurung atau dihilangkan nyawanya, hanya karena menegur pengurusnya. Hak warga negara untuk dijaga keselamatannya oleh awak kantor-kantor pengurus negara boleh dibatalkan sewaktu-waktu; di pulau yang mana pun. Rakyat yang masih setia hidup dari subsistensi adati di rumah-halamannya di pedalaman dan pesisir pulau sedang dipaksa belajar menaksir nilai uang dari air sungai dan hutannya, nilai uang kompensasi dari hilangnya masa-depan kanak-kanak dan peracunan tubuh ibunya. Ada apa dengan jurus baru tak tahu malu mobilisasi kesepakatan warga sabuk tropis ini? Jantung kehidupan Bumi di sekujur sabuk katulistiwa sekarang harus sepenuhnya dieksploitasi untuk pembesaran kekayaan, dengan membeli ijin dan kesukarelaan warga
kampung di desa dan di kota yang setia hidup dari alam.

2019 adalah sunyi sesaat sebelum gelombang baru badai pembongkaran hendak dimulai. Ini bukan soal satu, dua, atau golput, atau pemilihan umum semata. Agar operasi mesin kekerasan negara bisa dilanjutkan, rakyat diminta suaranya, untuk kemudian dibungkam kembali mulutnya.